5cm Film atau Novel

21.17



Sebagai penulis dan pengamat film (ngaku - ngaku!), aku udah baca novel dan film 5cm. Seperti selazimnya yang terjadi apabila ada film yang diadaptasi dari novel, tentu kita tak bisa menuntut bahwa dalam film tersebut tak mungkin menayangkan plot demi plot yang terdapat dalam novel. Banyak yang dihilangkan maupun ditambahkan dalam film itu. Logikanya, naskah setebal novel 5cm. Tak mungkin seluruhnya dapat dituangkan dalam waktu kurang lebih dua jam. Dan buat kalian yang sudah nonton atau baca  5cm, aku yakin kalian setuju dengan perbandingan antara novel dan filmnya, menurut yang kuamati ketika survey kemarin. Tapi buat kamu yang belum nonton ataupun baca, silahkan buktikan sendiri.

Awalnya, aku agak enggan membaca novel tebal dengan cover sangat sederhana (baca : kurang menarik). Bayangkan saja, cover yang digunakan berwarna hitam dan hanya bertuliskan judul 5cm (cover sebelum revisi). Dan aku mulai membaca isinya. Awalnya, aku merasa membosankan, apa sih? kebanyakan basa - basi. Tapi yang bikin aku penasaran adalah teman – temanku banyak yang bilang novel itu bagus. Dari situ aku memaksakan untuk terus membaca, mencari bagian mana yang yang menarik.

Oke, ternyata membaca novel bukan karena bagus tidaknya, tapi bagaimana kita mengapresiasi karya seni sastra milik penulis. Ketika aku mulai enjoy membacanya, di situlah aku merasa asik membaca novel yang bercover hitam dan hanya  bertuliskan 5cm. Karakter tokoh yang paling aku suka yaitu Genta, tentu semua cewek setuju. Yaiyalah Genta yang keren, berwawasan luas dan berjiwa leader, siapa coba yang gak suka. Genta yang diperanin sama Fedi Nuril emang cocok banget karena image Fedi Nuril sudah tertanam sebagai leader di film sebelumnya, Ayat – Ayat Cinta. Selain Genta, tokoh yang aku suka yaitu Zafran. Cowok cungkring, gokil, dan doyan bersyair itu bener – bener bisa membiusku. Apalagi yang mainin Herjunot Ali. Dan ketika mendengar kabar tentang 5cm. yang akan difilmkan, tentu aku sangat menunggunya.

Aku sadar Film yang kutonton telah kuketahui alurnya dari novel. Tapi bukan itu yang menjadi tujuan utamaku. Kebanyakan dari penonton film adaptasi novel memang cenderung survey ketika nonton filmnya. Termasuk aku. Aku hanya ingin tahu bagian mana yang ditambah dan dikurangi. Tapi film tetaplah film dan novel tetaplah novel, tak ada yang bisa dikembarkan. Biarlah kedua seni itu berada pada jalannya masing – masing .
Petualangan dimulai. Aku tak pernah tahu sebelumnya atau aku yang lupa. Tentang Ian yang telat dateng ke stasiun sampe – sampe ngejar kereta api segitu parahnya. Dan hal yang paling aku sayangkan adalah ketika rombongan 5cm. sudah sampai di Malang dan mulai menyewa angkot, sebelum naik jip. Di angkot tersebut ada percakapan seru antara Ian dan sang sopir. Yaitu tentang sepak bola. Sayang sekali bagian itu dihilangkan. Padahal kalau kita mengkritik lewat bola tentu sangat menarik untuk dibahas.
Selain itu ada tokoh penting, meski bukan tokoh utama,tapi ikut mendukung ceritanya yang dihilangkan.Deniek,mahasiswa Surabaya yang juga pecinta fotografi,sama dengan Ian.Yang seharusnya satu jip dengan rombongan 5cm.Dari siru aku mengerti kenapa karakter Deniek dihilangkan.Yah,endingnya yang seharusnya Adinda nikah sama Deniek,tapi malah jadian sama Genta.Tapi untungnya,cerita tentang sahabat Deniek yang hilang di perjalanan hiking Mahameru tetap tak dihilangkan.Jadi,kita tetap mendapat value tentang persahabatan.

Apalagi tentang Ian melihat kuburan,melihat mahasiswa memakai almamater yang ternyata sahabat Deniek.Juga mitos Arcopodo yag dihilangkan.Dan satu lagi,saat mereka mencapai puncak Mahameru,tidak ada upacara bendera(memperingati hari kemerdekaan,red).Tapi di sana tetap diadakan pengibaran sangsaka merah putih.
Sebenarnya masih banyak yang dihilangkan atau ditambahkan.Bukan masalah sebenarnya.Aku hanya mengamati secara Objektif.Tanpa ada maksud tertentu.Apapun itu,aku yakin sang sutradara dan segenap kru film pasti telah memilih scene mana yang terpenting dan paling tepat untuk difilmkan.Aku gak nyesel nonton 5cm. Film itu bener – bener bikin sakit perut,ngakak!Meski tokohnya bukan pelawak,tapi sangat profesional dengan kegokilan mereka.Dan satu yang baru kusadari ketika aku nonton filmya.Sejak baca novelnya,aku gak pernah tahu kenapa nama Sukonto Legowo gak boleh digabung.Tapi ketika nonton filmya,seolah steker mencolokkan pada stopkontak,langsung nyambung.Ya,,pokoknya,itu tuh...


Saya merekomendasikan anda untuk membaca dan menonton 5cm.

You Might Also Like

0 komentar

Silakan berkomentar, terima kasih sudah menyampaikan dengan sopan :)

My Instagram

Instagram