Holiday Activity : New Experience at NJ #2

00.41


Lanjutan dari part 1

Saya kira Mojokerto – Probolinggo itu dekat. Ternyata salah besar! Jauhnya...
sumpah deh.. Apalagi lokasi pesantren yang mau kami kunjungi itu terletak di desanya. Jadi, satu setengah jam perjalanan lagi dari kota Probolinggo. Akhirnya,kami tiba di Ponpes NJ (New Jersey,eh Nurul Jadid maksudnya), Paiton, Probolinggo tepat saat magrib. Sebetulnya kami bisa saja sampai sore, tapi gara – gara macet di jalan mana gitu aku lupa...ya itu yang bikin kami nyampe magrib ke NJ-nya.

Berhubung kami cewek, pastinya kunjungan kami ke pondok putrinya. *yaiyalah, masa pondok putra? Bahaya !!Yah, tapi untuk menuju pondok putri, harus melewati pondok putra terlebih dahulu. Untungnya, waktu kami datang itu magrib, waktu di mana anak pondok biasanya beraktivitas ubudiyah(entah ngaji ato apa,rata – rata pesantren gitu). Jadi, gak ada santri putra berkeliaran, gak perlu takut melintasi pondok putra.

Oke, mungkin sebuah keuntungan datang di saat magrib karena tidak perlu merasa takut saat melintas di pondok putra.
Tapi, kerugian banget pas nyampe di pondok putrinya. Pintu gerbangnya DITUTUP! Dan kami terpaksa menunggu di luar. Dari luar kami mendengar suara ngaji. Teman – temanku pada ngintip melalui celah gerbang.
“Heh Nay, lagi ta’ziran ta?Kok ada yang berdiri?”
“Mboh, iyo koyoane”
Sedangkan saya dan Ilvi, tak bisa mengintip karena postur tubuh yang tak mendukung (bahasa yang diperhalus :) ). Jadinya saya dan Ilvi loncat – locat gak jelas tapi tetep aja gak bisa ngintip. Bosen nunggu, akhirnya salah satu dari kami ngomong.
“Assalamualaikum”
“Gak usah dibukain, biar suruh maju ke keamanan”
Kami denger suara balesan kaya gitu. Mungkin kami dikira santri kabur. Padahal kan, kami tamu. Entahlah, tapi akhirnya kami diizini masuk juga :) .

Akhirnya kami masuk. Kesan pertama: pondok ini besar tapi sederhana. Kalo dibandingin sama MBI (PP. Nurul Ummah), jauh!! MBI lebih wah,lebih mewah,bukan bermaksud sombong.Tapi emang gitu. Dan yang saya heran, tak ada batas yang jelas antara najis dan suci. Mungkin hanya santri sini yang paham. entah.
Kami duduk di pendapa, tempat santri biasanya nongkrong ato belajar. Dan di situ, kami disambut hangat anak – anak NJ. Orang – orang NJ tu pada humble. Asyik. Kita langsung akrab. Dan yang paling gak bisa aku lupa, semua orang yang ada di NJ baik orang Madura asli, orang Probolinggo, ato orang luar, semuanya berlogat MADURA, dan itu sangat kental. Saya sebagai keturunan asli Madura merasa kalah dengan logat yang mereka miliki. Bahkan, ketika saya bilang saya dari Madura, mereka sempat tak percaya. Yeah, you’re not the first one saying that.

Satu lagi yang berkesan dari NJ yaitu kamar mandinya. Saat itu, karena dalam perjalanan, saya menjamak solat magrib dan isya’. Ketika mau wudu, saya dan beberapa teman yang berhajat sama diantar ke tempat yang lumayan jauh dari pendapa, mungkin saya lupa kalo disuruh balik lagi. Dan kamar mandinya itu, gak ada pintunya! Sekali lagi, GAK ADA PINTUNYA!! Kamar mandinya berbentuk seperti kubikel – kubikel gitulah, Cuma dibatasi tembok. Jadi,untuk mengetahui ada orang di dalam kamar mandi itu atau tidak kita harus pake gayung. Kenapa?Mungkin kalo di MBI, yang kamar mandinya berpintu semua, kalo mau memastikan ada orangnya apa enggak dengan mengetok pintu terlebih dahulu.

“Does it take you long time?” atau “Mazilti towil?” atau “Who’s turn after you?”

Dan waktu pintu kamar mandinya rusak, gak ada yang mau make. Padahal airnya menggoda. Jadi Caranya, Gayung itu diketukkan pada tembok kamar mandinya, jika ada suara yang menyahut, berarti ada orangnya. Jika tak ada, maka anda bebas masuk ke kamar mandi tersebut. Atau lihat saja gayung yang terdisplay jika kita mengintip sedikit. Jika ada gayung, berarti ada orangnya.
Menurut saya ini horor! Iyalah, masa kamar mandi gak ada pintunya? Bagi saya kamar mandi adalah privasi. Pastinya harus tertutup.

Selesai solat, kami balik ngobrol – ngobrol lagi sama anak – anak NJ. Semabri kita juga nanya masalah bahasa di pondok tersebut, karena memang itu tujuan utama kami. Program bahasa di NJ tergantung dari minat si anak. Entah dia mau mengikuti bahasa inggris atau bahasa arab. Jadinya seperti menjurus dan terfokuskan. Bagus sih. Dan ada juga program unggulan, yang memadukan bahasa arab, bahasa inggris dan kemampuan ipa. Tapi sekali lagi itu tergantung kemauan anak, mau milih yang mana.
Lain halnya dengan di MBI. Kalo di MBI diWAJIBkan berbahasa arab dan bahasa inggris,bergantian tiap minggu. Dan juga diWAJIBkan memiliki kemampuan di bidang ipa. Mungkin terkesan tuntutan. Tapi dari situ, kita terbiasa tahu. Entahlah.

Malam sudah mulai larut. Untuk urusan tidur sepertinya saya kurang nyaman tidur di pondok ini. Bukan karena masalah materi. Tapi ada hal lain yang lebih baik tak usah disebut J . Akhirnya kami bermalam di rumah budenya Zahro, tidur di spring bed :). Kecuali Nayli, sebagai alumni, mungkin dia merindukan masa – masa dia mondok dulu.

Zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz tidur.

 Probolinggo,22 Juni 2013
Paginya kami kembali ke NJ, ini yang sangar. Ya, ini pagi, waktu di mana semua orang memulai aktivitasnya. Termasuk anak NJ. Kebetulan mereka masih ulangan waktu itu. Dan ketika kami lewat, sumpah sangar! Memang tak ada batas antara laki – laki dan perempuan. Maksudnya, gak ada tembok yang membatasi atau apa.  Tapi lucunya, ketika di depan ada beberapa cowok melintas, kami para cewek dari sisi seberang harus menunggu sampai cowok itu berlalu. Yah,seperti lalu lintas. Haha, lalu lintas lawan jenis.

Sayangnya, kami datang terlambat. Semua santri sudah pada mau berangkat sekolah. Jadi, gak bisa ngobrol lama kayak tadi malem. Tapi semua itu berkesan untukku. Oh iya, aku gak sengaja ngeliat tembok di salah satu gedung sekolah NJ ada tulisan : MASA LALU ITU SAMPAH. Dan aku terinspirasi banget sama kalimat itu.

Entahlah, kunjungan ini membuatku sadar bahwa, memang benar kata Pak Cecep, ”MBI itu sudah yang terbaik”. Ya, saya akui itu. Bukan bermaksud apa, tapi, kunjungan ini semakin menyadarkan saya bahwa saya semakin mencintai MBI, saya rindu MBI. Yah, saya bersyukur masuk MBI, bukan pesantren lain. Karena memang saya alumni SMP NEGERI, bukan lulusan pesantren atau MTs. Jadi Tidak terlalu shocking dengan keadaan pondok. Karena memang MBI pesantern yang fasilitasnya lebih baik daripada pesantren salaf. Yah, saya ngerasa MBI itu pesantren modern, tapi pak kyai sendiri bilang kalo “ini adalah salaf,bukan modern”. Yah mungkin salaf berfasilitas modern. Entahlah. Tapi saya gak ngerasa salaf tuh.
I <3 MBI
Tapi dari NJ, saya belajar banyak hal, terutama kesederhanaan. :)
 

 
dari kiri: Zahro,Dilla,Ilvi,Inun

Finally,we're home :)

You Might Also Like

2 komentar

  1. jauh ya :D blog diary ya.. bagus loh :D

    BalasHapus
  2. hehe,,emang lebih menekankan ke nulis.. soalnya pengetahuan tentang komputer juga gak mendalam ...

    BalasHapus

Silakan berkomentar, terima kasih sudah menyampaikan dengan sopan :)

My Instagram

Instagram