Flashback : renungi,syukuri

12.15


Tahun berganti. Ajaran baru menanti. Termasuk bagi mereka yang akan menjalani kehidupan baru sebagai manusia tahap dewasa awal. Sebut saja mereka yang
akan melepas seragam kebahagiaannya, putih abu - abu. Serangkaian proses dilalui. Mulai dari harus menempuh ujian nasional 20 paket berbarcode dengan tingkat kesulitan setara SBMPTN (Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri), ketar ketir berharap keajaiban lolos SNMPTN, lalu jika tak mujur terpaksa menempuh jalur ksatria, SBMPTN.

Bagi mereka yang tak beruntung di jalur ajaib itu, terpaksa melalui jalur ksatria. Di mana mereka harus berjuang meluangkan sisa waktu dua bulan untuk menepuh perang besar berikutnya. Melahap soal - soal latihan ujian pada tahun - tahun sebelumnya juga melahap soal - soal prediksi yang dibuat lembaga - lembaga tertentu. Ketika sedang berjuang itulah, tingkat religius mereka meningkat. Entah memang sebelumnya religius atau bertaubat saat itu untuk seterusnya, atau hanya religius musiman.

Semua bisa terjadi. Jika untuk kebaikan, tak masalah menjadi lebih religius. Lalu frekuensi belajar yang juga meningkat. Sekali lagi, untuk kebaikan suatu yang musiman tak masalah. Semoga saja bisa dipertahankan selamanya.

Dan ketika perang itu tiba, semua berbondong bondong bangun pagi, merapikan diri, menyiapkan segala sesuatu. Doa doa terus terlantun, tanpa henti. Seseorang yang dekat dengan keinginan besarnya memang cenderung menjadi lebih religius.

Ketika perang itu usai, satu beban sedikit terangkat. Tapi tetap saja khawatir akan hasil yang kelak didapat. Kereligiusan semakin meningkat mendekati hari pengumuman kelulusan perang itu. Ketika hari yang ditunggu - tunggu tiba, maka berdebarlah seluruh jantung. Bermili air mata mengalir. Untuk keharuan ataupun kesedihan. Yang berhasil bahagia dan bersyukur. Yang kurang beruntung menangis dan kembali berintropeksi diri, menyiapkan strategi melalui jalur lain.

Dari manapun jalurnya, status mahasiswa telah disandang bagi mereka yang berjuang. Bukan lagi anak kecil yang selalu haus bimbingan. Tapi seorang dewasa yang akan  mengatur dirinya sendiri. Waktu, belajar, organisasi, hubungan dan hal lain yang selalu menunggu untuk diselesaikan.

Ini hidup baru. Episode baru dalam skenario yang Tuhan ciptakan untuk kita. Lalu tinggal jalani saja. Biar Sang Sutradara yang menilai. Berilah improvisasi peran yang sesuai. Cintai hidupmu, maka kau akan mati bahagia.

You Might Also Like

0 komentar

Silakan berkomentar, terima kasih sudah menyampaikan dengan sopan :)

My Instagram

Instagram