Tentang Rasa

16.58

Sebuah kata jamak makna. Jika kau percaya, maka lepaskan saja, biarkan dia mengalir dan terbang bebas. Air dan udara pun akan kembali pada muaranya. Jika kau kekang,
maka dia akan selalu mencari celah untuk bebas. Air, udara, pasir, akan menekan ke segala arah mencari kemungkinan keluar. Rasa itu juga api. Menghangatkan ketika dingin, meyampaikan kalor dengan tulus. Tapi akan marah jika berkobar, jika tidak dibijakkan.

Sebut saja Rasa itu adalah energi. Energi itu kekal, tidak bisa dimusnahkan, hanya berubah wujud. Perubahan wujud pun hanya sementara. Dia bisa berubah menjadi bentuk lain semaunya. Rasa itu energi, iya energi tanpa jelaga. Rasa yang menguatkanmu untuk sesuatu. Rasa juga yang membebaskanmu.

Rasa juga anugerah. Bagaimana tidak. Dia sangat lembut dan indah. Tanpa kita sadari hadir begitu saja, bahkan hilang begitu pula. Karena Rasa pun, kau akan banyak bersyukur. Karena Rasa juga, kau lupa segalanya. Rasa itu luar biasa. Rasa itu hebat. Ah, Rasa bahkan bisa mengalahkan teknologi tercanggih buatan manusia. Karena Rasa adalah buatan Tuhan. Rasa, aku sangat mengagumimu. Bagaimana bisa Rasa hinggap pada setiap manusia, lalu seenaknya hilang begitu saja. Kadang tak tahu kapan hadir dan kapan hilang.

Rasa. Dia yang membuatku gila. Rasa sudah membuatku bertransformasi menjadi robot di bawah kendalinya. Rasa yang memotivasiku untuk berbuat lebih baik, persetan dengan teori motivasi Abraham Maslow. Rasa juga yang membuatku bersyukur dengan kesempurnaan cinta, sekali lagi persetan dengan Triangle Love Theory Stenberg. Tak perlu tiga komponen untuk kesempurnaan cinta, cukup Rasa, sudah mewakili segalanya.

Aku tidak menuhankan Rasa. Justru aku mengagungkan Tuhan melalui ciptaanNya yang luar biasa. Hanya Rasa. Zat abstrak tak terlihat. Kadang memang yang abstrak lah yang lebih kuat. Manusia yang tak berpikir saja yang tak mampu mengilhami makna sebuah Rasa. Manusia terlalu silau dengan sesuatu yang terlihat. Padahal zat abstrak itu sebenarnya lebih dominan. Mereka belum meyadarinya.

Hai Rasa, apa kabar? Kau masih bersamaku. Aku patut bersyukur pada Tuhan. Tak kusangka aku mampu memelihara Rasa ini bertahun - tahun. Tentu dengan kehendak dan anugerah Tuhan. Hai Rasa, terima kasih untuk selalu bersamaku. Walau aku tak tahu, Rasaku ini apakah Rasanya juga. Tapi yang jelas, Tuhan lah yang Maha Rasa. Aku bisa minta apa saja pada Tuhan. Termasuk jika aku minta agar mempersamakan Rasaku dan Rasanya. Menyatukan Rasaku dan Rasanya dalam sebuah wadah ikatan suci dan resmi. Tak salah bukan permohonanku pada Tuhan? Hey, Tuhan Maha Segalanya. Termasuk Maha Rasa. Aku bisa minta apa saja padaNya. Tapi aku tidak memaksa agar Rasanya sama dengan Rasaku. Biarlah mengalir. Biarlah Tuhan yang membijaki. Tuhan Maha Tahu yang terbaik. Aku hanya meminta, biar Tuhan yang mengendalikan skenario terbaikNya. Aku mencintaimu Tuhan, dan juga Rasa :)

You Might Also Like

0 komentar

Silakan berkomentar, terima kasih sudah menyampaikan dengan sopan :)

My Instagram

Instagram