Catatan Awal 19

21.31




Tentang hari pertama 19 tahun pada 3 Februari 2015. Apakah aku bahagia? Entah. Aku selalu merasa takut pada setiap kali pertambahan umurku. Sayangnya pertambahan itu terjadi secara otomatis setiap tahun. Tak peduli setakut dan sekhawatir apapun aku atas bertambahnya umurku. Ketakutan akan tak bisa menjadi dan berbuat apa – apa yang seharusnya menjadi hak dan kewajiban manusia dengan tingkat umur tertentu. Aku sudah terbiasa tak diingat, even oleh orang tuaku sendiri. Mungkin iya orang tuaku ingat, tapi setelah diberitakan oleh kakakku. Yasudah, aku maklum. Mungkin banyak hal yang menjadi beban pikiran mereka selama ini, selain tanggal yang kebetulan menjadi hari lahirku. Sejak kecil seolah terdoktrin bahwa tanggal lahir itu tak pernah penting, selain hanya deretan angka yang dibutuhkan untuk berbagai administrasi. Imbasnya
mungkin cukup adil. Bahkan untuk tanggal lahir kedua orang tuaku tak kuketahui. Cukup adil bukan. Tenang saja, ini bukan kisah sedih. Aku sudah terbiasa dengan keadaan dan doktrin semacam ini. Maka ketika seseorang menganggap ini hari spesial, aku tidak sama sekali. Tak ada yang istimewa, malah lebih banyak kejadian yang sama sekali di luar ekspektasiku. Mengecewakan? Mungkin. Bisa saja ada hubungannya dengan pepatah “semakin tinggi pohon, semakin kencang angin yang menerpanya”. Mungkin sederet kejadian yang tak mengenakkan bagiku adalah cobaan dari Allah. Cobaan untuk manusia yang menapaki tingkat kehidupan selanjutnya.

Tahun berganti tahun. Semuanya berlalu tanpa ampun. Bumi mengalami rotasi dan pula revolusi. Aku hanya menjadi bagian dari sepenggal jutaan kisah manusia di dunia. Allah sutradaranya. Skripnya telah lama tertulis di Lauhul Mahfud. Entah skenario macam apa yang telah tertulis untukku. Aku hanya menjalani peran. Dan mendalaminya dengan improvisasi. Tanpa improvisasi tentu terasa datar. Ketakutan itu masih terasa hingga sekarang. Takut menjadi manusia yang biasa saja, tanpa inovasi. Mungkin tak ada yang salah dengan menjadi biasa saja. Menjalani hidup dengan membiarkannya mengalir begitu saja, hidup normal. Lalu mati, menjadi tanah dan dilupakan. Apa pentingnya diingat? Toh semua manusia terlalu munafik untuk mengingat kita. Semua manusia egois. Mereka hanya mengingat atau mendatangi kita saat butuh saja. Apa tidak cukup memiliki keluarga. Diingat oleh keluarga saja sudah cukup. Toh selama ini mereka yang selalu mengalirkan doa – doa terbaiknya, bukan orang lain yang seenaknya datang dan pergi. Sayangnya aku kembali berpikir tentang menjadi biasa saja. Menjalani kehidupan yang datar – datar saja? Bukannya memang setiap lakon perlu melakukan improvisasi, tentunya yang tidak berlebihan. Menjadi manusia yang mencapai aktualisasi diri seperti pada teori motivasi Abraham Maslow. Menjadi manusia yang inovatif, berguna bagi manusia lainnya. Memiliki banyak teman karena dedikasinya pada masyarakat. Memiliki suatu produk atau karya yang bisa diterapkan secara manfaat bagi kehidupan masayarakat. Dicintai banyak orang, meski ada pula yang merasa iri sehingga benci. Lalu mati, dikenang sebagai orang baik, dirindukan dan selalu diingat karya – karyanya. Orang yang dulu benci pun tetap merasa kehilangan.

Hidup adalah pilihan. Kata – kata yang mainstream. Tapi memang kita pengendali alam hidup kita sendiri. Bebas memilih untuk menjadi orang biasa atau seseorang dengan dedikasi tinggi pada hidupnya. Pada titik ini, awal 19 tahun dalam hidupku, aku seolah menjadi daun yang gugur. Tak membenci angin, malah pasrah saja. Lalu jatuh ke sungai dan mengikuti aliran airnya. Aku bagai daun, tak mampu melawan arus. Tak memiliki pegangan. Tak pernah tahu ke mana arah angin dan air mengantarkan daun itu. Aku tak paham tujuanku sendiri. Sedangkan daun itu sudah mulai melayu. Karena gugur, asupan nutrisi sudah tak didapatkan dari pembuluh xylem maupun floem. Dibalik kepasrahannya, daun itu merasa takut. Apakah sebegitu tak bergunakanyakah aku, hingga ranting tak lagi menerimaku. Meminta angin untuk menggugurkanku saja. Dan meniupnya menuju Aliran sungai agar dibawa ke tempat sekali lagi aku tak tahu. Bahkan untuk mati dimakan binatang tak seekorpun yang sudi memakanku. Hanya sehelai daun kering. Tak enak untuk dimakan, tak segar sama sekali. Jadi daun itu pasrah terombang ambing mengikuti arus. Ah malang sekali.

Aku benar – benar merasa seperti daun itu. Tak mampu melakukan  banyak hal. Hanya manusia yang mengikuti arus kehidupan. Merasa kecil dalam setiap bidang. Benar – benar menyadari dalam seiap aspek kehidupanku, aku hanya nol yang tak memiliki titik temu. Tak ada yang istimewa, dalam segala hal. Sebut dan list saja. Kuliah, lihat saja transkip nilaiku, sangat mengenaskan. Kesulitan dalam memahami mata kuliah yang sebenarnya sederhana. Kadang memahami tapi apes dalam ujian. Agama? Aku bahkan benar – benar mengalami kemerosotan. Tentang sholat yang tak pernah khusuk, tentang interaksi dengan lawan jenis, tentang hilangnya hafalan, tentang lalainya amalan, ah banyak yang semakin membuatku merasa kecil. Organisasi? Mungkin memang aku diterima sebagai anggota sebuah organisasi yang menjadi motor dalam sebuah fakultas, eksekutor. Organisasi yang terlihat keren, bahkan aku sempat menerima banyak kata “selamat” ketika resmi diterima sebagai salah satu anggotanya. Tapi entah apa yang bisa kuperbuat untuk organisasi ini. Aku takut tak bisa belajar dengan baik, tak bisa mendedikasikan diri dengan benar. Aku bahkan tak tahu harus berbuat apa, terlalu banyak diam. Seolah hubungan yang terjadi adalah interaksi formal saja. Tak mampu melebur bersama orang – orang dalam satu wadah. Juga tentang bergabungnya aku dengan sebuah komunitas pemersatu daerah.  Statusnya adalah persatuan dan tujuannya mempersatukan. Sekali lagi, entah mengapa aku tak mampu melebur bersama mereka. Mungkin karena faktor aku bukan seseorang yang menghabiskan masa SMA di tanah kelahiranku. Sehingga apa yang menjadi tipe pergaulan mereka menjadi berbeda denganku. Ah tapi sama saja, di manapu sepertinya aku begitu.  Faktor introvert, iya aku introvert. Aku hanya takut menjadi orang tak banyak bekerja, hanya berbusa dalam memaniskan kata. Padahal kataku hanya omong kosong belaka. Aku terlalu takut menjadi sampah. Padahal aku sendiri sadar bahwa aku tak mampu berbuat lebih. Mungkin memang pantas jika aku disebut sampah. Hei, bukankah yang menentukan adalah dirimu sendiri, apakah kau mau menjadi sampah ataukah permata? Satu lagi, cinta? Entahlah. Rasanya laki – laki bisa datang kapan saja dan pergi begitu saja, seenaknya. Pernah seorang teman menaggapiku, dan dia berkata “atau mungkin kau yang tak pernah serius?”. Cukup menohok. Entahlah. Apakah salah jika aku berpikir bahwa memang di usiaku yang saat ini (tergolong masih muda) belum waktuya untuk serius. Karena keseriusan bagiku adalah tahap menuju jenjang pernikahan, sedangkan perjalananku masih panjang. Entahlah, orang berhak menilai aku pun berhak memilih. 


Entah sampai kapan aku bernasib seberti daun malang tersebut. Entah apakah aku masih bisa berbuat sesuatu ataukah tetap pada keadaan seperti ini. Aku selalu berharap yang terbaik. Aku selalu ingin menjadi orang sukses, tentu saja semua orang menginginkannya. Ketakutan yang kurasakan seolah membenarkan teori Psikologi Sosial tentang persuasif dan perubahan sikap, yaitu “tingkat kelabilan seseorang meningkat pada awal masa dewasa”. Itulah sebabnya orang dengan usia memasuki masa dewasa menjadi  mudah dipersuasi karena tingkat kelabilannya. Baiklah apapun yang terjadi pada awal 19 tahunku, semoga aku bisa lebih baik nantinya. Bisa berkontribusi dan berdedikasi maksimal pada hidup yang dikaruniai oleh Allah.  Jalani dengan ikhlas, maka akan terasa bebas. Maka mari berjuang menjadi lebih baik dari sebelumnya. Menelurkan karya – karya positif dan produktif. Menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lain, minimal orang sekitarmu. Jadilah apapun, asal bersungguh – sungguh. Karena dengan bersungguh – sungguh, apapun statusmu maka orang lain akan menyeganimu. Sekian catatan awal 19. Semoga bisa menajdi manusia yang lebih baik di sisa umur yang semakin berkurang.  


Aku bersyukur masih ada segelintir orang yang ingat dan peduli pada hari lahirku. Meski sebenarnya selalu kuanggap tak berarti.

Terima kasih kuucapkan pada mereka yang telah mengalirkan doa – doanya padaku, di hari lahirku. Semoga Allah membalas kebaikanmu. Maka biarkanlah waktu terus bergulir, melaksanakan tugasnya sebagai paket cipta bersama bumi yang terus berputar.





You Might Also Like

4 komentar

  1. Yang terpenting, tetaplah memperbaiki diri. Lakukan secara bertahap, toh setiap manusia tak mungkin kan bisa berubah dalam sekejap? :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak, kehidupan adalah sekolah yang belajarnya tiap hari kan hehe :)

      Hapus
  2. Bagi saya refleksi seperti ini perlu ya... Ini wahana untuk mengevaluasi sekaligus merancang cita-cita. Justru hidup yang tidak direfleksikan - tidak dimaknai - akan berlalu begitu saja. Sayang sekali.

    Tapi, penulis sudah mencobanya. Dan, tuturanmu bagus. Dalam. Apalagi dengan tambahan ilmu psikologi, kau semakin memahami dirimu mau bagaimana ke depannya.

    Keberanian adalah modal yang tidak dimiliki oleh semua orang. Keberanian menjalani hidup yang misterius. Jalanan yang bisa saja menawarkan banyak cabang, belum lagi jika berkabut. Tapi, keberanian menempuhnya, itu akan jadi pembeda. Apa pun hasilnya nanti, setidaknya sudah berani melangkah maju.

    Selamat!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih mas fatah, untuk kunjungannya. Semoga saya bisa memiliki keberanian untuk menempuh hidup yang penuh misteri.

      Hapus

Silakan berkomentar, terima kasih sudah menyampaikan dengan sopan :)

My Instagram

Instagram