Mari Kembali pada Hakikat dan Bersyukurlah

16.34

Mari kembali pada hakikat. Mungkin aku sempat lupa, hingga sombong. Bahwa segala sesuatu pasti ada batasnya. Bahwa batas itu ada karena kita manusia biasa, apa pun
status dan kedudukan kita. Bahwa manusia itu hanya serpihan kecil dari semesta kehidupan. Aku hanya manusia dari jutaan manusia lain di belahan muka bumi ini. Manusia yang sempat khilaf untuk sombong. Pada akhirnya dikalahkan oleh hal sepele. Lalu rapuh. Selemah itu ternyata.


Mari mengingat ribuan aktivitas yang sudah kita lalui. Adakah manfaat yang diperoleh? Setidaknya untuk diri sendiri, atau bahkan untuk orang lain, orang banyak? Jika sudah benar bermanfaat, apakah aktivitas itu kau lakukan hanya untuk kesenangan duniawi semata, popularitas, atau kesempatan menjilat?  Entah apa yang terlintas di pikiranku. Semua hal menjadi semu. Semua orang berhak mengaktualisasi dirinya. Terlepas dari motif apa dia melangkah.


Aku  manusia. Sederhana. Tanpa keistimewaan, bukan nabi atau wali. Lalu untuk apa menyombongkan diri? Apa yang harus disombongkan? Bahkan seorang nabi pun diberi ujian sebegitu beratnya, tapi masih sabar luar biasa. Sedangkan aku, untuk hal yang sepele saja masih banyak mengeluh. Aku terlalu bodoh untuk hidup. Tapi juga belum cukup bekal untuk mati.



Mati? Sakral sekali ya. Berbicara kematian. Hingga saat ini aku masih ingat jelas tentang mimpi itu. Mimpi aku mati. Kata orang mimpi itu kebalikan. Orang yang mimpi mati, berarti dia akan berumur panjang. Ada pula yang menghibur bahwa mimpi hanyalah kembang tidur. Tapi ada potongan di mana ketika kita bermimpi buruk maka  sebaiknya tidak diceritakan. Ah... terlanjur kuceritakan. Sudahlah, lupakan.


Aku sedang berproses, tentu saja. Selama ini menjalani sesuatu yang penuh dinamika. Tanpa perencanaan memang. Aku sudah muak dengan planning. Karena memang pernah merencanakan sesuatu matang matang namun akhirnya kandas, hanya karena satu sentilan Tuhan. Semua menjadi berubah, berbeda jauh dari apa yng aku rencanakan. Maka sejak saat itu, aku benci planning. Membiarkan hidup mengalir apa adanya, adalah pilihan terbaik. Aku percaya Tuhan adalah sutradara Mahahebat. Jadi, apa lagi yang perlu di takutkan? ﻟﺎ ﺗﺨﻒ و ﻟﺎ ﺗﺤﺰﻥ ﺍﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻌﻨﺎ  .  sudah jelas Dia berfirman dalam kitab sucinya. Jangan takut dan jangan sedih, sesungguhnya Allah bersama kita. Tak ada yang perlu dirisaukan.



Mari kembali pada hakikat. Manusia yang sejatinya lemah. Manusia yang sesungguhnya amatlah kecil. Manusia yang amat malang. Manusia yang merugi. Manusia yang terbentuk dari setetes cairan hina yang disucikan. Manusia yang dititipkan 9 bulan hidupnya  pada manusia lain. Manusia yang sok mandiri, sok individualis, sejatinya tak mampu hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Lalu apa seharusnya? Sombong, pantaskah? Tentu terlalu hina untuk menyombongkan diri. Kalau saja air mani tidak dianggap suci, tentu semua manusia yang lahir adalah barang najis. Tapi bersyukurlah, cairan itu disucikan. Bahkan manusia yang baru saja lahir adalah kesucian yang hakiki, tanpa dosa.



Manusia. Mengapa spesies ini dinamakan manusia? Mengapa juga orang lain harus menyebutnya human, insan, menungso,atau apalah. Mengapa juga aku bisa mengidentifikasikan diriku sebagai manusia, dari mana aku yakin? Oh tentu saja setiap spesies memiliki bentuk yang berbeda. Dan aku berbentuk manusia. Lalu apakah benar aku ini manusia? Atau jangan - jangan hanyalah imitasi? Sekarang sangat marak  imitasi. Bagaimana dengan robot, apakah aku salah satu produk robot? Aku ini siapa sebenarnya? Apakah aku sungguh manusia?



Katanya, manusia itu rakus, suka seenaknya. Oh, aku masih manusia rupanya. Aku jujur saja, ada sisi di mana aku rakus. Tapi katanya manusia itu penyayang. Ah, gawat. Aku bahkan tak pernah tahu siapa yang harus aku sayangi. Apakah aku masih pantas disebut manusia? Katanya juga manusia itu suka menolong sesama. Hei, kapan terakhir kali aku menolong orang ya? Jangan - jangan aku ini memang manusia tapi jenis terburuk. Bayangkan saja, dari  tiga ciri itu, hanya ada satu yang sesuai. Ah, entahlah.


Maka, semakin aku bertanya hakikat diri, semakin pula aku bingung. Maka sebaiknya mungkin aku diam saja. Dan bersyukur dengan tetap menjalani semuanya. Katanya, manusia itu makhluk paling sempurna. Jadi, mungkin untuk ini aku patut bangga, dan bersyukur. Hei, aku sempurna. Haha. Dan lihatlah manusia lain, masih banyak yang lebih darimu. Jadi tak ada satu pun yang bisa disombongkan, bersyukur saja lah.

You Might Also Like

0 komentar

Silakan berkomentar, terima kasih sudah menyampaikan dengan sopan :)

My Instagram

Instagram