Adil (?)

11.02

Terbang memang seru. Tapi jika daratan menyenangkan, untuk apa iri?





Adil. Kita sering mendengar kata tersebut. Bahkan kata itu merupakan salah satu komposisi kata pada sila kelima Pancasila. Mungkin dari kita masih banyak yang mempertanyakan
tentang adil. Saya sendiri sering bertanya - tanya. Apakah benar ada keadilan di dunia ini? Apakah ada ukuran aspek keadilan? Kalau memang nyatanya tidak ada keadilan di muka bumi ini, bagaimana kalau kita hapuskan saja kosa kata adil dalam perbahasaan di bumi ini. Semua bahasa, iya. Tapi saya rasa itu tidak mungkin. Kita terlanjur mengenal kata itu. Mari kita telusuri saja.

Tentu kita pun tak asing dengan petuah bahwa adil bukan ditinjau dari seberapa samanya jumlah yang diberikan, tapi seberapa sesuai dengan kebutuhan. Iya, masuk akal. Orang - orang akan menganalogikan dengan sebuah contoh uang jajan. Anak TK dan kuliahan, apakah mereka harus sama -sama mendapat uang jajan sebesar satu juta? Tentu Tidak. Uang jajan bagi anak TK mungkin kebutuhannya hanya berkisar lima ribu rupiah saja. Itu pun sudah bisa mendapatkan jajan seharian. Tapi bagi anak kuliahan satu juta merupakan kebutuhan yang memang signifikan, misal untuk makan, uang kos, beli buku, dan lain - lain. Lalu?


Ini saya yang merasa. Tapi sepertinya orang lain pun juga pernah merasakannya. Saya rasa kalian juga pernah merasa kok tidak adil? Misal, saya sudah belajar semalaman tapi tetap saja tidak berhasil menaklukkan ujian. Sedangkan dia yang semalam hanya tidur, atau bahkan hang out malah bisa menjawab dengan hasil A. Di mana letak keadilannya? Apa salah  saya? Apa yang dia perbuat sehingga bisa lebih beruntung daripada saya. Entahlah. Dengan kasus seperti itu, banyak hal yang harus kita kroscek.


Pertama, apakah kita hanya belajar semalam sebelum ujian? Tentu itu fatal. Otak tak bisa dipaksa bekerja secara diforsir. Ada kalanya otak butuh istirahat. Pemrosesan informasi dalam otak pun dilakukan bertahap, dan perlu banyak pengulangan agar ingatan kita semakin kuat. Jadi, belajar semalaman pun tak menjamin kamu berhasil ujian. Apalagi satu jam sebelum, wew. Kedua, tak usah berpatokan pada orang lain. Kita tak tahu bagaimana usaha gerilyanya. Mungkin saja dia start belajar lebih awal dari kita. Bisa jadi dia membaca banyak sumber jauh - jauh sebelum ujian. Ketiga, ada faktor biologis. Sebut saja, cerdas. Iya, kecerdasan itu anugerah kok.  Seseorang dengan kemampuan belajar yang luar biasa, sekali menerima informasi bisa langsung tersimpan di memori jangka panjang. Sedangkan kita yang mungkin biasa saja, harus berkali - kali mengulang materi agar bisa benar - benar memahami. Tak apa, manusia tak harus sama. Justru itu kita diciptakan berbeda agar saling mengenal dan berbagi.



Adil? Bukan masalah harus sama. Adil itu bagaimana seseatu menjadi sesuai untuk kita. Bukan masalah kita tidak bisa mendapatkan standar yang kata orang lain bagus. Lebih baik berpikir dan menjelajahi diri sendiri bahwa kita harus berproses sesuai standar diri kita. Tuhan pun tak akan memberi cobaan melebihi batas kemampuan umatnya. Sama halnya kita tak mungkin mendapatkan sesuatu yang bukan kemampuan kita, bukan hak kita. Tapi apa pun itu, semua hal masih bisa diusahakan. Tuhan pun melihat seberapa sungguh usaha kita. Masih bertanya tentang adil? Mari mengadili diri sendiri terlebih dahulu.

You Might Also Like

0 komentar

Silakan berkomentar, terima kasih sudah menyampaikan dengan sopan :)

My Instagram

Instagram