Surat untuk Ayah

22.58




Ayah...
Putri kecilmu sedang terpukau dengan dunia barunya.
Aku sedang terpesona dengan dunia baruku yang terlihat megah dan menyilaukan mata.
Aku terlalu riang bermain di luar istanamu, sampai - sampai lupa pulang.
Aku lupa, bahwa apa saja yang di luar istanamu adalah semu.
Hanya kesederhanaan dalam istanamu lah yang merupakan bahagia abadi.



Ayah...
Putri kecilmu kini beranjak dewasa.
Meski bagimu aku tetap saja masih kecil, dan kenyataanya pun masih kecil.
Aku hanya berpura - pura dewasa saat kau mengantarkanku ke gerbang pesantren.
Aku hanya anak gengsi yang tak mau terlihat lemah atau manja di hadapan orang lain.
Sayang, aku tahu terlambat tentang kau berat memikirkanku saat melepasku ke pesantren.
Aku pun sebenarnya ragu, apakah aku bisa menjalani hari - hari di pesantren.
Tapi tenang ayah, ada penggantimu di sana.
Meski tak bisa sepenuhnya total menggantikanmu.
Memang tak ada satupun yang bisa menggantikanmu.
Ada seseorang yang aku anggap ayah di sana.
Dan beliau pun mengganggapku seperti anaknya.
Ini hanyalah sebatas anggap - menganggap, hanya karena kebetulan akan letak hidup geografis yang sama.



Ayah...
Aku hanya pura - pura kuat berada di pesantren.
Aku berpura - pura betah berada di sana.
Nyatanya aku bukan orang yang suka dikekang, Kau tahu itu.
Kau bahkan tak pernah melarangku pergi ke mana pun.
Selama berada di pesantren, untungnya aku memiliki teman yang luar biasa.
Teman yang sudah bagai saudara.
Tapi teman tetaplah teman.
Kami hanya disatukan oleh perantauan.
Ketika semua kembali, sama saja aku tetap sendiri.
Jika beruntung, ada orang baik yang ingat untuk sekedar menyapa putri kecilmu ini Yah.


Ayah...
Ada laki - laki yang mencuri hatiku.
Tapi sampai detik ini aku tak pernah tahu tentang isi hatinya.
Sepertinya dia tak jauh beda denganmu.
Kurasa, kurang lebih kalian bersifat sama.
Harusnya, dengan sifat yang sama, aku pun bisa mendapatkan hatinya.
Tapi aku tetap kalah Yah.
Putri kecilmu hanya bisa diam.
Putri kecilmu terjebak dengan, entahlah, kurasa ini jebakan mindset pribadi.
Antara meneriakkan emansipasi yang disebut - sebut oleh masyarakat modern.
Ataukah mencintai dalam diam seperti Sayyidatina Fatimah dan Sayyidina Ali.
 Pada akhirnya aku hanya diam, dan menutup segala kemungkinan.
Biarlah, semua itu akan terbuka pada waktunya.


Ayah...
Maafkan jika sampai detik ini aku belum mampu membuatmu bangga.
Maafkan jika sampai detik ini aku masih sering mengecewakanmu.
Maafkan jika aku tak bisa mendapatkan skrip nilai seperti yang kau harapkan.
Masih kuingat jelas bagaimana kau dulu mengajariku membaca.
Kalau saja kau tidak telaten mengajariku, entah apakah detik ini aku bisa mengenyam bangku kuliah atau tidak.
Mungkin aku merindukan ketika kau membimbingku.
Entahlah.



Ayah...
Kini putri kecilmu menjadi seorang mahasiswa.
Tak cukup dengan kuliah saja, aku pun turut berorganisasi.
Tak hanya satu organisasi, entah berapa yang kuikuti, aku muak menghitungnya.
Aku seolah terperangkap persuasi massa.
Katanya, kuliah jangan cuma belajar di kelas, tapi organisasi juga.
Tapi organisasi tidak semudah mendengarkan ceramahan dosen.
Organisasi tidak semudah membaca dongeng - dongeng sejarah aliran psikologi.
 Nyatanya putri kecilmu dibohongi persuasi publik.
Putri kecilmu tak seharusnya terlibat dalam urusan remeh yang diseriuskan.
Putri kecilmu cukup belajar dan duduk manis mendengarkan ceramahan dosen dan sesekali mencatat yang dirasa penting.
Ini bukan keinginan putri kecilmu, ini hanya..... sebut saja, coba - coba, paksaan, dan... ajakan?


Ayah...
Tidak semua orang harus menjadi seperti apa menjadi patokan orang lain kan?
Jika aku memilih hidupku sendiri, tentu bukan masalah besar.
Toh, sejak dulu kau selalu membebaskanku.


Ayah...
Dulu sewaktu aku masih di pesantren, aku merindukan kebebasan.
Aku merasa, pesantren terlalu banyak aturan dan kekangan.
Setelah aku dibebaskan dari penjara suci itu, aku merasa liar.
Rasanya seperti hilang kendali.
Benar - benar bebas bahkan lupa diri.
Sampai, lihat saja... aku seolah diatur persuasi massa.
Meski sebenarnya aku yang menentukan apakah terpersuasi atau tidak.
Sekarang, aku merindukan batasan yang justru sebenarnya melindungiku.

Ayah...
Sederhana saja, dari bait - bait yang tertulis di atas..
Aku merindukanmu, merindukan masa kecilku bersamamu.
Bermain bersamamu, menjadi anak bungsumu, kala itu.
Menjadi anak manja yang bisa dituruti kemauannya.
Dan panggilan khususmu padaku, "kotel"
Meski aku sekarang punya dua adik.
Mungkin itu yang membuatku pura - pura dewasa, pura - pura tegar.
Ah, andai kau tahu alasanku mengapa sewaktu kecil aku lebih banyak diam di hadapan orang lain, dan banyak bicara di hadapanmu.
Biar, perih itu rahasiaku saja.

Ayah...
Aku terlanjur jadi orang yang gengsi.
Mungkin ketika aku bertemu langsung denganmu, aku hanya berpaling dan sok acuh.
Aku hanya, tak tahu apa yang harus aku lakukan.
Pada akhirnya aku hanya bisa menulis ini.
Dan orang akan berkata : sok romantis, sok berbakti di dunia maya, kenyataannya cuek.
Padahal mereka tak tahu isi hati manusia.


Ayah..
Semoga surat ini abadi.
Aku simpan di blogku.
Selama blogku tidak hilang, kurasa ini tetap akan ada.
In sya Allah.




Surabaya, 26 Juli 2015.
(TM)









You Might Also Like

0 komentar

Silakan berkomentar, terima kasih sudah menyampaikan dengan sopan :)

My Instagram

Instagram