Sore Itu

11.30

Credit to https://goo.gl/wYaIpD

Sore itu aku pergi. Seperti biasa, membawa beban begitu berat pada pundakku. Beban yang seolah tanpa ampun, tidak mau tahu bahwa dulu punggung yang dipanggulnya pernah jatuh hingga retak. Hingga mengubah anatomi tubuhnya mejadi seperti manusia yang selalu membawa ransel, naturally. Punggung itu memang sudah terlalu banyak membawa beban. Seandainya ada cara lain membawa beban, mungkin akan kulakukan. Misalnya, mobil terbang mini pembawa beban (?)

Beban di punggung ditanggung secara fisik. Berbeda lagi dengan beban di kepala dan mungkin sebut saja hati. Pada kepala, yang seharusnya menyimpan banyak informasi dan memori-semua orang tahu kehebatan otak- tapi tak semua manusia bisa mengoptimalkan kerjanya. Salah satunya adalah aku. Beban di kepala. Harusnya itu bukan beban, mungkin kewajiban atau bahkan asupan. Beban hati? Hai hati, apa kabar? Masih baik – baik sajakah? Ada banyak emosi yang terepresi. Emosi yang harusnya secara bebas terekspresi. Hanya saja, diselimuti ego defence yang begitu tebal. Harusnya emosi itu muncul alamiah. Tapi bagiku, lebih alamiah defence.
Sore itu aku masih melanjutkan perjalanan. Langkah kuarahkan menuju mesin yang ditunggu semua perantau tiap awal bulan. Kebetulan ini masih masuk dalam jajaran awal bulan, menjelang pertengahan. Aku sedikit terlambat melakukan penarikan. Meski sudah memasuki pertengahan bulan, masih saja ada beberapa antrian di depanku. Sebagaimana biasanya aku, sering melakukan hal diluar kesadaranku. Sore itu aku tanpa sadar terpaku pada satu arah. Aku tidak menyadari objek pandanganku. Tiba – tiba objek yang tepat berada pada arah pandanganku-yang tanpa sadar- mengangkat kepalanya. Dia menyadari sesuatu. Mungkin dia mengira aku sedang memperhatikannya.
Aku baru sadar apa yang terjadi ketika mata itu tepat mengarah padaku. Arah yang semula kutuju, aku membelokkannya. Baru aku sadar, apa yang aku lakukan. Menatap sebuah objek yang tidak aku ketahui sekian menit, tanpa kusadari. Sayangnya aku kembali berpikir. Apakah yang kulihat adalah nyata? Sedangkan beberapa menit kemudian ketika aku mencoba kembali melirik pada arah sebelumnya, tidak kutemukan sosoknya. Jangan – jangan aku hanya berhalusinasi. Sekali lagi aku mencoba mencari jejaknya. Sayangnya, aku kehilangan jejak. Arah objek yang semula hanya seorang, sepi, kini menjadi ramai dan aku tak mampu mencari apa yang aku cari. Jadi, objek itu halusinasi ataukah memang kenyataan?
Sore itu, dalam perjalanan kembali, aku mempertanyakan kewarasanku. Sudah sedemikian gilanyakah aku, sehingga tidak lagi bisa membedakan kenyataan atau halusinasi ciptaan sendiri. Objek yang kupandang terasa nyata. Tapi klarifikasi lebih lanjutnya membuatku ragu. Ho, aku tidak sedang mengalami gangguan kan? Atau ini adalah sindrom kegeeran karena sedang mengambil mata kuliah psikopatologi? Entahlah. Sore itu, rasanya aku semakin gila.

You Might Also Like

3 komentar

  1. Itu cerita pengalam mu ta?http://sir-mcmath.blogspot.co.id/2015/07/matematika-teknik-bab-4.html

    BalasHapus
  2. http://sir-mcmath.blogspot.co.id/2015/07/matematika-teknik-bab-4.html

    BalasHapus

Silakan berkomentar, terima kasih sudah menyampaikan dengan sopan :)

My Instagram

Instagram