Cerita Senja

07.40


Sumber : morguefile.com



 Ada bait bait senja yang hadir ketika langit mulai menampakkan warna keemasan. Bagi sebagian besar pujangga, senja adalah momen romantis untuk bercengkrama dengan pasangan ataupun orang tersayang lainnya. Maka mengalirlah banyak inspirasi yang kemudian lahir karya – karya cantik para pujangga. Sebagian pujangga menjadikan senja waktu favorit untuk berkarya. Cahaya siang yang mulai meredup menjadikan senja waktu terbaik untuk menghindari panas. Sinar mentari mengurang, namun juga tidak hilang. Tapi ada pula yang menantang bahwa senja tak lebih dari fenomena alam, peralihan dari siang menuju malam. Senja bagaikan masa remaja pada manusia. Pertengahan, peralihan dari masa kanak – kanak menuju masa dewasa. Itu lah mengapa ada sebagian kalangan yang tidak terlalu menyukai ataupun memuja senja. Peralihan adalah masa riskan dan labil. Banyak hal yang akan menjadi risiko ketika memasuki masa peralihan. Mereka berdalih dengan mitos bahwa saat senja datang, maka makhluk halus pun berkeliaran.


 Senja adalah waktu yang singkat, sangat naggung. Mungkin alasan itu orang membencinya, seolah memberi harapan singkat tentang keindahan. Tapi sebagian yang menyukai senja berpendapat bahwa senja indah, dan singkatnya adalah keunikan di mana kita merasakan kualitas keindahan bukan dari kuantitas waktunya. Karena keindahan yang singkat itulah, senja istimewa. Karena keindahan yang singkat pula, senja tak disuka. Kesamaan yang menghadirkan respon berbeda. Ah manusia. Selalu saja punya cara berbeda memandang dunia. Kalau saja semua merespon sama, entah tak bisa dibayangkan betapa hambarnya dunia. Cukup satu fenomena, menuai pendapat berjuta. Senja.


Senja hadir tepat waktu setiap akhir sore. Seolah senja adalah supir penjemput malam. Pada senja, biasanya orang – orang menaruh harapan. Mengalirkan doa – doa terbaik agar dikabulkan. Sebagian pula senja menghadirkan kekesalan bagi manusia. Bagaimana tidak, jika senja yang ada adalah hiruk pikuk. Bukan senja yang digambarkan sangat romantis oleh para pujangga. Senja di perkotaaan, di mana waktu itu adalah saat manusia pulang dari aktivitasnya. Senja bukan lagi indah. Senja menjadi tempat sumpah serapah bagi mereka yang kesal karena macet dan sangat terburu sampai rumah. Senja bukan lagi romantis ketika tak ada perbedaan laki – laki maupun perempuan yang didahulukan. Asal serobot, yang penting bisa pulang cepat. Senja punya banyak cerita, pada berbagai belahan dunia.


Sekali lagi masih tentang senja. Masih tentang romantisme kala senja. Sebagian pujangga menilai senja adalah indah. Waktu yang tepat untuk bercengkrama dengan pasangan. Kadang alasan ini yang banyak disalahgunakan.  Ini tentang fenomena manusia kala senja. Ada yang berpendapat hal itu wajar. Ada pula yang berkata bahwa itu manis. Sebagian pun menilai bahwa hal tersebut adalah bobroknya moral. Aku sendiri seperti di antara titian. Mau berkata romantis, namun tidak etis. Baik, kuutarakan saja. Senja. Romantismemu tak hanya dinikmati pasangan resmi. Mereka yang baru mengenal lawan jenis dan merasakan dorongan hormon yang direspon otak pun turut merasakan keindahannya. Sejatinya itu wajar. Namun jika berliebihan, bukankah tak ada yang baik. Parahnya fenomena manusia berusia senja itu terjadi di banyak belahan dunia. Ke mana perginya budaya, apa kabar agama? Kulihat mereka masih di Indonesia dan berwajah Indonesia, bukan orang asing yang terbiasa bergaul bebas. Kulihat mereka memakai atribut agama tertentu. Tapi.. apa yang mereka perbuat? Baiklah. Aku tak berhak menghakimi, karena tugas kita adalah menyampaikan walau hanya satu ayat. Aku tak berhak menjatuhkan mereka. Karena belum tentu derajatku lebih mulia. Aku hanya melihat, tak tahu kedalaman. Semoga saja mereka pasangan resmi yang berparas muda. Meski mustahil ada pernikahan muda di tengah kota. Ah sudahlah.. sekali lagi aku tak berhak menghakimi. Aku tak tahu, senja besok apa yang akan terjadi. Termasuk kemungkinan mereka berbenah. Termasuk kemungkinan aku khilaf (nauzubillah).  Ini masih cerita senja.


 Ada lagi senja dalam bentuk lain. Tapi bukan senja yang sebenarnya. Lantas, bagaimana bisa? Padahal waktu menunjukkan paruhan pagi. Tapi sekeliling petang dan berwarna ala senja. Parahnya itu terjadi di belahan Indonesia. Kau ingat bencananya? Sayangnya bukan rencana alam, itu ulah manusia. Serakus itukah? Entah. Sekali lagi, aku tak berhak menghakimi atas persepsiku sendiri. Mirisnya hal itu dibiarkan berlarut – larut sampai berjatuhan banyak korban. Kami yang berjauhan hanya bisa menggalang dana, entah ke mana larinya. Semoga saja benar tersampaikan. Meski agak ragu, jika penerbangan ke kota itu saja terhambat bagaimana bisa segalanya tersampaikan? Bodoh, bukannya ada teknologi transfer uang? Aku lupa. Semoga saja amanah kami benar tersampaikan. Senja yang ini palsu dan kelabu. Rasanya senja palsu ini bukan senja yang digambarkan para pujangga. Senja ini pilu.


  Ini cerita senja dalam penglihatanku yang terbatas. Tentang senja yang selalu hadir di waktu yang sama, namun selalu berbeda cerita di setiap masa. Perihal senja itu romantis atau bengis, itu hanya ciptaan manusia saja. Manusia yang mempersepsikan, manusia yang lainnya hanya menyetujui dan mengikuti. Kau, terserah ikut persepsi yang mana. Atau mungkin, kau punya persepsi lain tentang senja.

 Jadi, menurutmu senja itu romantis atau tidak?

You Might Also Like

2 komentar

  1. senja adalah keindahan dalam kesunyian, datang meninggalkan sinar dan menjemput kegelapan, aku bukan pujangga jadi romantisme senja mungkin (blm) kurasakan, yang pasti senja adalah kebahagian yang menjemput kehampaan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tak perlu menjadi pujangga untuk menikmati segala macam romantisme. Lagipula, setiap manusia punya gairah sastranya sendiri. Hanya saja, cuma beberapa yang berminat memunculkannya.

      Hapus

Silakan berkomentar, terima kasih sudah menyampaikan dengan sopan :)

My Instagram

Instagram