This Is How I Spent My Long Weekend : Madakaripura

17.03

Long weekend bulan ini dinanti oleh banyak manusia. Salah satunya saya.  Banyak cara yang dilakukan untuk menghabiskan masa libur akhir pekan panjang ini. Ada yang pulang kampung, travelling, atau stay indekos saja.  Liburan empat hari terasa langka. Bermula dari tanggal 5 sampai 8 Mei 2016 (Kamis - Minggu). Ini benar - benar weekend yang panjang. Kebetulan saya pasca melewati masa UTS. Benar - benar butuh refreshing.

Cara saya menghabiskan long weekend ini adalah dengan backpacking. Saya tidak sendiri, bersama partner gila. Saya sebut gila karena kami nekat. Low budget dan tanpa kendaraan pribadi. Ini serius. Kami hanya mengandalkan transportasi umum. Lebih parah lagi, liburan kami tanpa planning, tanpa itenerary. Ya sudah, jalan saja. Gak nekat, gak berangkat.

Kami memang dua manusia yang payah dalam urusan planning. Bayangkan saja, kami baru bersiap packing untuk  liburan selama empat hari beberapa jam sebelum berangkat. Sekitar jam 10 malam dia membangunkan saya.

"Hayuk bangun. Kita berangkat jam 1"

Saya terbangun kaget.

"Eh suwer, kita jadi berangkat?"

Sembari mengumpulkan nyawa, saya berpikir apa saja yang harus dibawa. Stok baju tinggal sedikit. Baju yang dilaundri masih belum diantar oleh si tukang laundri. Jadilah saya hanya membawa baju secukupnya. Baju yang saya pakai, dan baju untuk ganti. Peralatan mandi, make up, dan obat - obat tak lupa juga saya masukkan. Travelling tetap harus bisa (terlihat) cantik. Meski tidak pada kenyataannya hehe.

Rencana awal kami akan berangkat jam satu. Sampai jam satu dini hari, kami belum beres packing. Belum juga mandi. Saya dan teman saya kalau mandi masing - masing lamanya satu jam, hehe (ini hiperbola). Molor semolor - molornya haha. Berangkat dari kos, kami memilih menggunakan uber. Awalnya tidak ada mobil tersedia. Lalu kami memilih menggunakan taxi blue bird. Satu jam tidak datang, kami telepon ulang. Ternyata pihak blue bird belum menemukan taxi. Sayangnya perusahaan taksi biru itu tidak mengabari kami jika tak ada taksi. Membuat pelanggan menunggu tanpa kabar itu menyebalkan. Akhirnya kami coba lagi menggunakan uber. Alhamdulillah bisa. Akhirnya ada supir uber yang mau mengantarkan kami ke terminal Bungurasih. Lumayan murah biaya ubernya. Jarak Keputih - Bungurasih dihargai Rp53.000.


Awalnya kami mau berangkat jam 1, jadinya jam 4. Berangkat jam 4 dini hari dari Keputih menuju Bungurasih. Perjalanan setengah jam. Sampai Bungurasih pukul 4.30. Azan subuh sudah berkumandang sejak di perjalanan. Sebelum berangkat, saya menyempatkan sholat subuh di terminal.

 Kami berangkat menuju Probolinggo. Bus patas menjadi pilihan kami. Harga karcis bus patas Surabaya - Tongas Rp 30.000 per orang. Dari Surabaya berhenti di pertigaan Tongas. Saya tahu info ini dari blog, dengan ingatan yang terbatas. Itu pun, saya masih blank setelah pertigaan Tongas harus menuju ke mana. Yasudah saya tidak ambil pusing. Jalan saja sampai tujuan pertama. Tujuan selanjutnya dipikir ketika sudah sampai ke tujuan pertama.

Destinasi pertama adalah air terjun Madakaripura.

"Dik, pertigaan Tongas?"

"Iya pak", setengah sadar saya menjawab.

Kami yang selama perjalanan tertidur pulas, kaget dengan bapak kondiktur yang membangunkan. Tiba - tiba sudah sampai saja di pertigaan Tongas. Saya dan teman langsung bergegas. Kaget. Turun dari bus, kami berusaha sadar sepenuhnya. Karena masih pagi, jalanan sepi. Apalagi ini Tongas, daerah kabupaten. Saya bingung, rute selanjutnya menuju air terjun Madakaripura. Berusaha mencari info di internet. Sementara teman saya bertanya pada penduduk sekitar. Ternyata ada palang arah menuju air terjun Madakaripura.

pertigaan Tongas belok kanan

Kami menyebrang, masuk pada sebuah jalan. Mencari warung untuk sarapan dan bertanya info. Setelah menyebrang, kami menemukan warung cozy dan sederhana. Makanannya cocok untuk lidah jawa timuran dan murah. Untuk porsi berdua dengan menu nasi rawon, nasi lodeh lauk telur, teh , dan kerupuk total harganya Rp23.000.

Sarapan di sana sembari bertanya - tanya pada penjaga warung. Ini keberuntungan. Kami sampai di Tongas pukul 7 pagi. Katanya, bis menuju air terjun Madakaripura datang sekitar pukul  7.30 - 8.00. Maka benar, setelah kami selesai sarapan busnya datang. Ternyata busnya masih parkir sepuluh menit untuk sarapan.

warung aizkha. enak, murah.


Bus menuju Madakaripura berhenti di pasar Lumbang. Biaya transportasi bus dengan jarak lumayan, cukup murah hanya Rp7000 per orang. Begitu sampai di pasar Lumbang, kami mampir sebentar ke toko membeli minum dan menumpang kamar mandi. Setelah itu, kami belok kanan menuju pangkalan ojek. Tawar - menawar dengan si tukang ojek untuk mendapatkan harga murah transportasi PP Lumbang - Madakaripura. Kami menyepakati Rp40.000 untuk PP per orang. Jadi, untuk PP dua orang totalnya Rp80.000. Itu kesepakatan awal sih. Berhubung bapak ojek bilang tidak ada angkutan setelah jam 11, maka ada penawaran lain. Dengan menambah biaya Rp25.000, kami diantarkan sampai Tongas pulangnya.

Deal. Kami memulai perjalanan menuju Madakaripura. Perjalanan sebelumnya hanya awal. Ini yang sesungguhnya menuju Madakaripura. Jalannya panjang dan berkelok - kelok. Sebagaimana daerah pegunungan, ada beberapa tanjakan dan turunan. Namun tidak akan merasa lelah meski jauh. Sepanjang perjalanan kita disuguhi pemandangan yang super indah.

Then, sampailah kami di pos awal air terjun Madakaripura. Bagi pengendara kendaraan pribadi harus memarkirkan kendaraannya di pos itu. Sementara perjalanan menuju air terjunnya masih sekitar 2 kiloan. 2 kilo tapi jalannya naik turun, harus jalan kaki. Tapi sekali lagi, kita tidak akan merasa lelah karena sepanjang perjalanan akan disuguhi pemandangan luar biasa.


pos pintu masuk air terjun
Saya lupa berapa biaya masuk air terjun. Kalau tidak salah Rp20.000 untuk 2 orang. Setelah melewati pos, kita akan bertemu dengan patung patih Gadjahmada yang sedang bersedekap. Di situ biasanya kita akan ditawari untuk jas hujan, kresek, watercase untuk HP, sandal jepit, dsb. Kami membeli watercase, untuk melindungi hape dari cipratan air. Harganya lima belas ribu rupiah.

Kami memulai perjalanan. Rutenya agak menanjak. Hitung - hitung pemanasan pendakian untuk nanti ke kawah ijen heheh. Selama perjalanan kami disuguhi pemandangan sungai jernih, tebing tinggi, dan bagus - bagus lah pokoknya hehe. Begitu hampir sampai ke air terjun, ada jasa penitipan tas atau barang di loker. Biayanya cukup murah, tiga ribu rupiah. Berhubung kami backpaker, tidak mungkin membawa tas berat ke air terjun. Jadi kami menggunakan jasa loker. Hampir dekat lagi dengan air terjun, kami ditawari jas hujan. Ini keteledoran kami. Tidak membawa jas hujan dari kos. Jadinya kami membeli di situ seharga lima belas ribu per set. Jadilah kami membeli jas hujan agar tidak kebasahan. Khawatir jika terkena basah, kami membawa baju terbatas.

Yeay. Madakaripura. Kami sampai. Tiba - tiba ada seorang guide mendekati kami. Dia menawarkan jasanya. Kami menerima saja. Ternyata memang jalannya agak susah, batu - batuan. Bagi kami yang dua orang perempuan, ini sangat berguna. Guide kami cukup membantu melewatinya. Dan yang terpenting juga dia membantu untuk memfoto kami. Untuk kalian yang merasa tidak membutuhkan guide, bisa menolak dengan halus tawaran guidenya. Oh iya, kalo perlu bawa jas hujan dari rumah agar tidak perlu membeli di sananya. Tapi kalau memang berniat basah - basahan total, yah silahkan.
Air terjun tertinggi di Pulau Jawa

Basah. Saya baju oranyae. Baju ungu partner.



Ini cerita destinasi pertama. Madakaripura. Backpacker. Gak nekat, gak berangkat.





You Might Also Like

0 komentar

Silakan berkomentar, terima kasih sudah menyampaikan dengan sopan :)

My Instagram

Instagram