Yeay, Comeback! Lanjut Wisata Ranu

10.45

It's been long time since the previous post.

*backsound See You Again

Okay. I'm back. Di post sebelumnya saya menceritakan tentang terjebak pesona Krucil yang diam tenang. Kemudian setelah beberapa lama.. saya hendak menuliskan lanjutannya but yeah. Dilupakan oleh segenap aktivitas kuliah. Moreover, tidak lama setelah itu datang bulan ramadhan dan pesta akademik a.k.a UAS. Yah cukuplah beralibi, itu semua tidak penting.

Here we go.

Lepas jalan - jalan pagi, saya dan partner kembali ke penginapan. Ternyata warung sebelah penginapan sudah buka. Well, belum ada nasi sih. Makanan berat masih proses dimasak. Di warung itu ada bapak - bapak minum kopi. Maklum Krucil daerah pegunungan kalo pagi dinginnya lumayan lah ya. Kami masuk warung itu dan memesan teh panas. Hal nikmat sederhana yang saya rasakan. Minum teh panas di saat udara dingin. Di sana kami juga diajak ngobrol sama bapak - bapaknya. Mereka sekitar berlima, semuanya berserangam dinas tapi berbeda. Ada polisi dan sisanya PNS. Basa basi yang yah cukuplah. Entah, orang sini memang ramah - ramah sehingga kami nyaman.

Then... bapak penginapan, his name is Pak Bawon kalo gak salah, bilang bahwa guide yang kemarin dijanjikan untuk menemani ke air terjun gak bisa. Well, it's okay. Gak papa deh tanpa guide kita bisa nanya - nanya orang di perjalanan nanti. Yah kami sih santai, nikmati dulu tehnya sambil ngobrol dan selfie - selfie. Di seruputan terakhir tehnya, Pak Bawon mengabari kami lagi. Ada guide pengganti. Alhamdulillah. Rejeki anak santai. Kami bergegas menuju air terjun Bermi. But, guidenya cuma satu. Which means, sepeda motornya cuma satu. Yah, drama cenglu* melanda kami.  Akhirnya saya yang dikorbankan duduk di tengah karena postur tubuh yang fleksibel (baca: kecil). Yah saya memang sering menjadi korban duduk tengah ketika cenglu.


Motor sudah bergerak. Gak lama setelah itu, motor harus parkir. Sisanya kami bertiga jalan kaki. Ya iyalah masa ke air terjun naik motor. Pendakian waktu itu masih sepi. Jadi saya merasa nyaman aja. Sepi tapi ada guide untuk mendampingi. Mendampingi pendakian maksudnya.


titik awal pendakian


Pak Bawon sih bilang menuju air terjunnya sekitar satu kilo. Yah mungkin satu kilonya orang gunung beda sama satu kilonya Surabaya. Satu kilo yang kami jalani itu, dikali ditambah berkilo - kilo lagi dan plus jalannya menanjak. Oke ini alay. Tapi bener, it's not literally satu kilo. Tapi It's not a big deal. Perjalanannya emang gak mudah. Tapi pemandangan yang disuguhkan luar biasa. Ada banyak perkebunan di sepanjang perjalanan. Guidenya juga asik dan pengertian. Kalo kami capek, guidenya peka kami istirahat.

Melalui perjalanan ini juga, saya kami akhirnya menemukan jawaban dari pertanyaan bertahun - tahun silam. Ternyata wortel itu ada bunganya. Dan kalo mau menanam wortel kita cukup tanam bibit dari bunganya. Ini amazing. Wortel yang kami tahu dimakan akarnya. Pertanyaan terabaikan bertahun - tahun "kalo wortel akarnya dimakan, apanya yang ditanem?". Hari itu kami menemukan jawabannya dengan melihat langsung. Ini amazing. Pardon me, gak ada fotonya bunga wortel.


Sepanjang perjalanan si partner saya ini ngerekam pake hapenya yang dibantu tongsis. Ala ala vlog travel gitu hehe. Dan sampailah kami pada tujuan. Air terjun Sageti. Di desa Bermi ini ada 2 air terjun (kata Pak Bawon). Yang kami kunjungi adalah air terjun yang terdekat. Air terjun satunya saya lupa namanya. Untuk menuju ke sana, butuh effort dua kilo lagi (katanya). Saya sudah pesimis sama dua kilonya Pak Bawon. Sudah cukup. Ini saja dinikmati, Sageti.

damai
Air terjun sageti memang tidak setinggi madakaripura. Sensasi tenang dan damainya yang membuat kita betah berada di sana. Kebetulan waktu itu kita berangkat pagi banget after sunrise. Alhasil sampai di air terjunnya ya cuma bertiga; saya, partner dan guide. Air terjun serasa milik sendiri. Di sana kami berpuas - puas diri menimati indahnya ciptaan Tuhan.
selfie :)
Oke. Mari kita ringkas pos ini agar tidak terlalu panjang hehe. Setelah puas bermain di air terjun, kami  kembali ke penginapan. Kali ini perjalanannya tidak seberat tadi, karena menurun. Ketika sampai pos, drama cenglu terulang kembali. Okelah, ini cuma sebentar. Sampai ke penginapan, kami kembali ke warung dan sarapan. Lapar. Beruntung makanan beratnya sudah masak.

Leyeh leyeh time after sarapan memang nikmat. Sampai - sampai kami harus nyuruh - nyuruhan siapa yang mandi duluan. Maklum, cuaca dingin bikin males mandi. Akhirnya saya yang mandi duluan. Pas saya selesai mandi, bapak guide untuk ranu sudah datang.

"Pak, tunggu bentar ya"

Partner saya yang bilang ke bapak guide untuk menunggu kami. Percayalah, itu tidak sebentar. Ada mungkin sekitar setengah atau satu jam. Kondisi saat dia bilang pak tunggu sebentar adalah belum mandi. Bisa dibayangkan? Untungnya saya tinggal dandan, dan itu gak lama. Setelah benar - benar siap, kami berangkat. Kali itu sekalian kami pamit pada Pak Bawon, check out.

Kami berangkat. Tapi... lagi - lagi guidenya cuma satu. Bapak ojek satunya yang kemarin tidak bisa mengantar untuk hari ini. Yah, drama cenglu lagi. Sabar deh. Ada untung juga bertubuh imut (baca: kecil).

Ranu pertama yang kami kunjungi adalah Ranu Agung. Letaknya di daerah Tiris, Probolinggo. Medan menuju ke sana juga luar biasa. Menanjak terjal. Sampai di daerah wisatanya, harus turun lagi menuju Ranu. Beh turunnya juga harus hati - hati karena daerah tebing.

mengelilingi tebing Ranu Agung by rakit
Liat foto kami senyum terlihat akur - akur aja ya. Padahal sebelumnya kami debat masalah naik rakit apa enggak. Masalahnya sebelum kami turun tadi, ada bapak berpesan agar tidak naik rakit dulu. Bahaya katanya. Partner saya ngotot pengen, kapan lagi katanya. Ditambah hasutan bapak pendayung rakit. Murah dek, cuma lima belas ribu per orang. Kapan lagi bisa naik rakit di Ranu Agung. Saya masih kekeh masalah wejangan bapak di atas. Kemudian bapak rakit itu menjelaskan kenapa kami dilarang naik rakit. Katanya  beberapa hari yang lalu ada pemuda yang meninggal. Dia mencoba renang di Ranu Agung. Masalahnya, sebelum renang dia loncat dari tebing deket ranu. Tebingnya lumayan tinggi. Baru renang dikit, dia kram. Akhirnya gak bisa renang dan tenggelam. Salah satu temannya mau nolong, ikutan kram juga. Akhirnya mereka ditolong tim SAR.


Kalau sudah seperti ini, dampaknya sama orang lain. Memang dia yang meninggal. Tapi efek selanjutnya membatasi orang lain yang mungkin lebih hati - hati daripada dia. Usut punya usut dia ternyata perenang loh. Tapi sehebat - hebat perenang kalau sudah kram yaa.. wassalam. Saya lupa tepatnya apakah teman yang menolong itu juga meninggal. Ini pengatan bagi kita. Patuhilah budaya dan peraturan wisata. Jelas - jelas di sana ada tulisan dilarang loncat tebing atau renang. Malah dilanggar. Beware guys.


Bapak rakit menjamin keselamatan kami. Kalaupun ada polisi atau pemerintah datang untuk inspeksi, biar bapak yang bertanggung jawab. Begitu katanya. Akhirnya, yasudah kami bisa foto seperti di atas.


Lumayan lama kita di Ranu Agung. Benar - benar tersihir oleh keindahannya. Setelah selesai dari wisata tebing, kami naik ke warung dekat ranu. Lapar. Sayangnya tak ada nasi, pun lauk. Hanya mi goreng. Apa daya, kami makan mi goreng tanpa telor. Hitung - hitung mengisi energi untuk naik ke pos awal haha. Lepas makan, kami naik. Ini berat. Berangkatnya turun, pulangnya naik.

JENG.. Dengan segenap perjuangan, kami berhasil ke pos awal. Lanjut ke Ranu Segaran. Ranu Segaran letaknya lebih rendah dari Ranu Agung. Memang kami sengaja mengunjungi yang tinggi terlebih dahulu agar tidak bolak balik. Sebelum ke Ranu Segaran, kami mampir ke sumber belerang terlebih dahulu. Hitung - hitung menghangatkan badan dan menyembuhkan jerawat saya hehe. Trust me, it works. Jerawat saya langsung kering mngelupas besoknya. Tidak begitu lama di sumber belerang. Kami langsung lanjut ke Ranu Segaran. Last destination for the day.

Ternyata tidak seperti yang saya ekspektasikan. Saya kira Ranu segaran akan seperti Ranu Agung. Ada tebing tinggi dan suasana mistisnya terasa. Di Ranu Segaran, tempatnya lebih tertata. Sudah menjadi objek wisata resmi milik pemerintah Probolinggo. Tertata rapi lah. Ada kantin, toilet, bahkan musholla. Lagi - lagi si partner saya minta naik boat. Saya sih berusaha ngehemat budget. Jiwa emak - emak saya muncul. Aku lupa berapa harga pastinya. Kalo gak salah Rp 30.000 keliling ranu. Ternyata minimal penumpang adalah 3 orang. Kami cuma berdua. Kami coba nunggu kali aja ada orang yang mau naik boat juga. Agak lama ternyata gak ada. Si partner uda kayak anak kecil minta permen. Saya kukuh tidak. Sampe akhirnya mas boat menurunkan harga.

"Yaudah mbak tak kasi dua puluh wes"

Waw jiwa jaim hemat pelit ala emak emak saya ampuh juga. Tapi saya tetep masih gak mau. Sampek akhirnya kena kata - kata kapan lagi. Yasudah. Berangkat. Setidaknya berguna juga kebiasaan ala emak - emak yang sok sokan kabur ketika harga ga bisa diturunin. Kemudian penjualnya ngejar kita, dan boleh deh mbak. Haha. Sebagai calon emak, kita cewek harus melatih skill nawar hahah. Then, we went to the boat.

bahagia naik boat?

senja di Ranu Segaran
 Kebetulan ketika kami mengelilingi ranu dengan boat, saat itu matahari sudah di barat. Dia mau pulang. Momen yang tepat, kami bisa menikmati keindahanNya dengan boat yang lagi - lagi serasa milik sendiri. Cuma bertiga. Saya selalu jatuh cinta pada senja.





*) Cenglu = bonceng telu, berasal dari bahasa jawa artinya bonceng tiga.

You Might Also Like

0 komentar

Silakan berkomentar, terima kasih sudah menyampaikan dengan sopan :)

My Instagram

Instagram