Aku, Dia dan Rokok

11.19

ilustrasi oleh redaksi


Di tempat suci ini, kubulatkan tekat untuk bertaubat. Jauh dari keramaian kota, tenang tanpa polusi. Bahkan tempat ini terletak di perut gunung. Sepanjang mata memandang, semua motif alam berwarna hijau. Hutan, sawah, terasiring yang berundak – undak, indah sekali. Tak hanya bibir, mataku pun turut tersenyum ketika memandangnya.

            29 Juni 2011 awal di mana aku menginjakkan kaki di sini. Tak seorangpun aku kenal. Semua serba baru. Tidak ada teman yang berasal dari SMP yang sama. Sekalipun, tak ada yang satu kota denganku. Senang juga bisa berkenalan dengan teman – teman baru dari berbagai daerah. Satu hal yang jadi kendalaku. Aku tak bisa menggunakan bahasa daerah tempat ini. Memang, daerahku cukup jauh. Perjalananku tak hanya menempuh jarak, tapi juga budaya dan bahasa.

            Aku merasa fine di sini. Tak settik air matapun menetes di mataku. Risih dan jengah rasanya mendengar teman – temanku berkata “Aku gak kerasan” atau “Aku kangen mama”. Apalagi ketika melihat salah satu dari temanku menangis hanya karena jauh dari orangtua. Dasar manja. Aku bisa tertawa di saat yang lain menangis. Tapi itu hanya awal. Malam ini aku menangis. Entah apa yang kutangisi. Mungkin ini yang dirasakan teman – temanku saat pertama kali di sini. Itulah air mata pertama dan terakhirku. Aku berjanji tidak akan lagi menangis untuk apapun. Karena bagiku air mata itu mahal dan gengsi.
 
            Kukira hidup jauh dari orangtua itu enak. Bebas melakukan apa saja yang kita mau. Tak ada lagi ocehan panjang lebar dari ayah – bunda. Tidak perlu berdebat karena beda pendapat dengan ortu. Tapi semua salah. Memang jauh dari orangtua itu bebas. Ibarat bebas dari mulut harimau, masuk ke mulut buaya. Ternyata lebih rumit dari yang kukira. Inilah hidup yang sesungguhnya. Harus menyelesaikan dan menghadapi masalah dengan diri sendiri.

            Aku kurang suka dengan yang namanya curhat. Kepribadianku memang introvert. kedengarannya ironis, di sebuah pondok pesantren yang harusnya tiap individu memiliki jiwa sosial yang tinggi. Tapi inilah aku. Sudah kucoba untuk membuka diri, tapi bullshit.
***

            Aku terbangun, 2 jam sebelumnya adalah 22.00. Perlahan, aku mulai menyatukan kembali jiwa dan ragaku. Kulihat sekitar, teman – teman sekamar sudah tidur. Aku meraih tasku dan mengambil posisi di balik pintu. Kuraba – raba isi tasku. Aku sedang mencari benda berbentuk kotak putih dan sebuah batang yang dapat mnghasilkan api.

                        “Srrrt….pffuhhh…”

            Satu hisapan dan satu hembusan. Enjoy sekali rasanya. Kulanjutkan menghisap dan menghembuskan asap pada benda itu hingga habis sebatang. Kurang puas, kulanjutkan dengan batang – batang yang lain. Sebenarnya tak ada keinginan untuk kembali pada kebiasaan lamaku yang buruk ini. Tapi tak ada lagi plihan bagiku. Aku tidak menemukan teman yang cocok. Semua sama saja, munafik! Manis di depanku, menusuk dari belakang. Seorangpun, tak ada yang mengerti aku. Meski telah lama mengenal namaku, mereka tak mengenal hatiku. Satu kesimpulanku, teman terbaikku sejak dulu : rokok.

                        “Uhuk,uhuk….”

            Salah satu dari temanku yang tidur tebatuk – batuk. Akhirnya aku menyudahi rokokku. Tidak enak hati rasanya jika samapai membuatnya sampai terganggu karena asap buatanku. Kubersihkan semua sisa batang hisapanku yang telah menghitam ujungnya. Aku tak ingin meninggalkn jejak sedikitpun.

            Pukul 00.00, aku menuju lantai tiga gedung asrama. Memojokkan diri dan mulai melakukan ritualku seperti biasanya. Setelah 2 batang rokok habis, kudengar langkah kaki manusia yang sepertinya menuju ruangan ini. Aku terkesiap mencoba menutupi semuanya.

                        “Dik,kamu ngapain di sini?”

                        “Eh,…Belajar.”

            Ternyata bagian keamanan asrama. Untungnya tiap kali akan merokok, aku selalu membawa tas sebagai cover.

                        “Sebaiknya sudahi dulu, sudah malam. Silahkan kembali ke kamarmu dan istirahatlah.”

                        “Baiklah, terima kasih.”

            Rapi sekali. Tak seorangpun tahu aku seorang perokok. Siapa sangka, seorang gadis pendiam, kalem, dan terlihat selalu tenang, ternyata seorang pelaku kenakalan remaja. Apalagi kasusnya di dalam sebuah pondok pesantren.
***

            Aku selalu berpikir di mana tempat yang pas untuk merokok. Tempat yang sekiranya tidak menggangu dan tak diketahui oleh siapapun. Aku memandang lurus dari jendela lantai tiga. Pandanganku kosong. Butuh beberapa menit menyadari ke mana arah mataku. Saat sadar akan pandanganku, aku tersenyum melihat bangunan tua yang terletak tiga meter dari tempatku berdiri.

                        Good idea”, gumamku.
***

            Seperti biasa, aku tidur lebih awal dari teman – temanku. Lalu bangun pada pukul 00.00. Sesuai rencana tadi pagi, aku akan merokok di gubuk itu. Sebenarnya bukan gubuk, melainkan gudang tempat penyimpanan barang – barang bekas milik alumni. Tapi jika melihat penampilannya yang menjenuhkan mata, pantaslah kusebut gubuk.

            Suasananya gelap, dan  lebih menyeramkan pada malam hari. Masa bodoh, aku hanya ingin melepas rasa stresku. Kuambil sebatang rokok dari tasku, kusulut dan kuhisap perlahan. Gerah sekali gubuk ini, aku pun mencopot kerudungku.

            Aku menikmati setiap hisapan dan hembusan ini. Sesekali kucoba menghembuskan melalui hidung. Ada satu hal yang baru kusadari. Di seberang sana, jarak yang tak terlalu jauh. Aku melihat cahaya merah dalam gelapnya gubuk ini. Kurasa itu adalah kepala rokok. Berarti ada juga yang merokok di sini.

                        “Hey”

            Dia mencoba menegurku. Mungkin dia juga menyadari keberadaanku di sini sedari tadi. Telingaku mendengar suara itu. Seperti suara putra. Dengan kegopohanku, aku memasang kembali jilbab yang sempat kucopot. Aku sendiri tak tahu maksud dari sikap reflekku tadi. Aku baru mengenal kerudung di sini. Mungkin aku terpengaruh lingkungan. Putri – putri di sini selalu menjaga kerudungnya di manapun, apalagi di depan laki – laki.

                        “Apaan?”

                        “Ngapain kamu di sini?”

                        “Jelas – jelas udah tahu aku di sini ngerokok”

            Dasar pertanyaan aneh. Untung saja dia tidak melihat aksiku tadi. Maksudku,tak bisa melihat dengan jelas. Hanya ada api rokok.

                        “Cuma nanya. Emang sejak kapan kamu ngerokok?”

                        “SMP”

            Aku menjawabnya dengan singkat. Kami kembali pada aktifitas masing – masing.

                        “Kelas berapa kamu, Dik?"

                        “Satu, kamu?”

                        “Kelas tiga.”

                        “Oh, pantesan langsung manggil aku adik.”

            Meski tak bisa kulihat jelas, aku mengerti bahwa dia sedang mengakomodasikan matanya untuk memperhatikanku. 

                        “Gila ya, seorang cewek, baru kelas satu udah ngerokok, di gudang ini pula, keren! Berani banget!”

                        “Terus? Terserah, kamu mau anggep aku cewek…apalah terserah!”

            Kuraba kotak rokokku,kosong. Sampai – sampai aku menunang – nuang kotak itu, tapi hasilnya nihil. Aku kehabisan rokok.

                        “Sial”

                        “Kenapa? Kehabisan rokok?”

                        “Kok tahu?”

            Mengapa dia bisa tahu sedetail itu? Mungkinkah kakak kelasku itu memperhatikan tiap gerikku? Kakak itu mengambil sekali hisapan lalu menjawabku.

                        “Kita sama – sama perokok, jadi apa sih yang gak ngerti?”

                        “Kamu pake rokok apa?”, Dia lanjut bertanya

                        “Mild”

                        “Pake aja dulu rokokku, aku pake Magnum Filter”

            Dia menyodorkan sekotak rokok yang telah separuh isinya.

                        “Benaran gak papa?”

                        “Udah ambil aja”

            Meski ragu, kucoba tuk menghisap si Magnum Filter. Yang membuatku canggung, aku belum pernah mencoba merk ini.

                        “Gimana?”

            Pertanyaan itu tak kujawab. Aku menyimbolkan kata “oke” dengan mengacungkan tinggi – tinggi rokok pemberiannya. Tawa kami pun meledak bersama.

                        “Dik?”

            Kakak itu menegurku setelah kami hening beberapa saat pasca tertawa bersama.

                        “Hah?”

                        “Kalo boleh tahu, siapa namamu?”

            Aku kaget bukan main. Sampai – sampai aku menahan asap yang akan keluar dari mulutku.

                        “Uhuk…”

            Aku terbatuk singkat karena menahan asap yang harusnya kuhembuskan.

                        “Untuk apa kamu tahu namaku?”

                        “Ya, cuma tanya”

                        “Kamu gak perlu tahu namaku. Aku gak mau cari masalah. Lagipula aku ke sini cuma mau ngerokok, gak ada tujuan lain”

                        “Oke, aku bisa ngerti”

            Kami kembali hening seperti posisi awal, sibuk dengan rokok masing – masing. Hingga akhirnya ku telah mengahabiskan seluruh isi kotak yang diberikan kakak itu. Tak nyaman rasanya jika aku harus meminta lagi. Kulirik jam di pergelanagan tanganku.ternyata sudah jam 2 pagi. Lebih baik aku kembali ke asrama.
            Aku membereskan sisa – sisa rokokku. Kumasukkan sampah rokok itu ke dalam tas. Tetap dengan alasan yang sama, aku tidak ingin meninggalkan jejak. Ketika aku mulai beranjak,

                        “Mau ke mana?” 

                        “Mau balik, udah jam 2”

                        “Oh, Ya sudah”
                                                                        ***
            Aku tetap mengikuti solat malam, juga kewajiban dan peraturan yang lain. Hingga saat ini belum satupun yang tahu aku sering merokok. Aku selalu menyimpannya dengan rapi. Gubuk itu, sudah menjadi rumah keduaku. Hampir setiap tengah malam aku menuju bangunan yang jarang terjamah orang lain.

            Malam demi malam, aku melampiaskan rasa jenuh di gubuk itu. Dan tetap saja, kakak itu juga istiqamah merokok di sana. Sering juga kami tertawa bersama. Ada  saja yang menjadi pembicaraan antar sesama perokok. Kami saling kenal, tanpa saling tahu nama masing – masing.
                                                                        ***

            Minggu malam, ketika sedang bersalawat atas Nabi ada kejadian yang menghebohkan. Saat para penghuni pesantren berada di aula lantai tiga, kami mengalami kecelakaan. Awalnya, aku hanya melihat cahaya merah dari jendela. Cahaya itu berasal dari sebrang sana, gubuk itu. Sedetik kemudian, cahaya itu melebar dan melahap basecampku. Bahkan pohon besar di sampingnya turut  jadi korban. Seketika itu pun, kami mengalihkan perhatian pada kebakaran itu. Acara shalawatan bubar tidak pada waktunya.

                        “Aaaaa……!”

            Teman – teman  reflek menjerit karena mati lampu. Listrik sengaja dipadamkan untuk menghindari korsleting. Tentu agar kebakaran tak semakin merambat. Ustad dan santri putra bahu – membahu berusaha memadamkan jilatan api itu. Kami para santri putri menuju lantai dasar, karena merasa takut dengan padamnya listrik dan kebakaran ini.

            Dari sini, aku melihat dengan jelas tempat yang biasa kugunakan sebagai basecamp perlahan mulai rapuh. Sebenarnya, aku menangis dalam hati. Tak ada lagi tempatku melepas rasa stress, ataupun berbagi dengan kakak itu. Aku tak tahu lagi tempat yang nyaman selain gubuk itu. Rasanya, aku lah yang paling kehilangan atas kebakaran itu.

            Kakak itu, apa dia juga mersakan hal yang sama? Kurasa dia juga kehilangan. Kita tak akan bertemu lagi. Aku kenal, tanpa tahu namanya. Entah, apa yang harus kulakukan selanjutnya.

                        “Shallu Alan Nabi Muhammad”

            Seruan itu sebagai simbol bahwa kami diperintah untuk kembali bershalawat. Api telah berhasil dijinakkan. Tapi gubuk itu, hanya tinggal kerangka. Mungkin inilah yang disebut teguran dari Allah. Aku telah mengecewakanNya. Aku telah berkhianat pada Nabi, juga seluruh isi pesantren ini. Ternyata rokok hanya bahagia sesaat, dia sumber petaka yang abadi. Ustad bilang, kebakaran itu disebabkan punting rokok yang masih menyala. Apa karena aku, atau kakak itu?

            Sebaiknya aku berubah sebelum semua tahu aku turut mengambil peran dalam penyebab kebakaran itu. Meski tak hanya aku, tapi juga kakak itu. Aku ingin berhenti merokok, tapi bagaimana bisa? Sedangkan rokok telah menjadi candu bagiku. Aku ingin membuang jauh – jauh kisah tentang aku, dia (kakak), dan rokok.


Terbit di Radar Mojokerto (13 Januari 2012)

You Might Also Like

2 komentar

Silakan berkomentar, terima kasih sudah menyampaikan dengan sopan :)

My Instagram

Instagram