Menuju Puncak: Kawah Ijen (Part 1)

21.47



Lepas menikmati senja di Ranu Segaran, maka berakhir sudah wisata kami di Probolinggo. Sedih rasanya meninggalkan Probolinggo dengan sejuta keindahannya. Kami kembali ke condong, tapi bapak ojeknya berbaik hati mau mengantar kami hingga jalan raya tempat biasanya memberhentikan bus. Tentu dengan biaya ekstra. Ini lebih baik daripada harus mencari transportasi lagi, ditambah sudah memasuki magrib. Destinasi selanjutnya: Kawah Ijen!

Yang kami tahu, Kawah Ijen terletak di Banyuwangi. Maka dengan pengetahuan terbatas kami naik bus jurusan Banyuwangi dan bilang ke kondektur turun di Banyuwangi. Sudah terlanjur bayar karcis Banyuwangi, eh ternyata setelah browsing kita tidak perlu turun di Banyuangi, lebih dekat dari Bondowoso. Lebih lagi, ternyata bis ini menerapkan sistem oper. Sampai di terminal Situbondo, semua penumpang di suruh turun, oper bis lain. Seharusnya kami gak bilang turun di Banyuwangi, biar tiketnya gak kemahalan. Hmm.


Kami menunggu bus menuju Bondowoso. Waktu itu sudah lewat waktu isya’. Kami ke toilet sekitar, melancarkan urusan sanitasi sekalian bertanya – tanya bus menuju Bondowoso. Katanya sebentar lagi akan datang. Benar, ketika saya keluar dari toilet dan hendak membayar, partner menghilang. Kata penjaga toilet bus sudah datang dan si partner sudah di busnya. Saya pun bergegas menuju bus yang dimaksud. Busnya tidak terlalu besar. Maklum Situbondo – Bondowoso merupakan jalur pendek antar kota.


Di bus, kami masih membahas bagaimana menuju Kawah Ijen. Bertanya – tanya pada bapak – bapak di bus.  Kemudian ada seorang laki – laki yang pantas dipanggil mas bagi seusia kami. Dia duduk bersama seorang perempuan yang sepertinya pasangannya.

“Dek mau ke Kawah Ijen, ya?”
“Iya Mas”
“Wah mending besok aja dek, sekarang udah malem. Saya udah sering ke sana. Jalannnya hutan – hutan. Ini udah malem lho. Gak ada kendaraan ke sananya. Kalopun naik ojek nanti adek gak tau kan mau di bawa ke mana sama ojeknya. Besok aja berangkatnya abis subuh. Saya kasian soalnya sama kalian”


Setelah menimbang – nimbang akhirnya kita ikut sarannya si Mas tadi. Kami berterima kasih atas sarannya. Ya kalau dipikir – pikir iya juga sih. Kami turun dari bus. Karena lapar dan memang belum ngisi perut sedari Probolinggo kecuali tahu dua ribuan selama di bus perjalanan tadi, akhirnya kami makan. Waktu itu sudah agak malam. Maklum, kota daerah malem dikit udah banyak toko tutup. Ada gerobak bakso, masih buka di kawasan terminal. Kami memilih makan bakso. Ternyata lezatnya luar biasa. Entah memang lezat atau kami kelaparan. Isi pentolnya telor ayam besar. Mantap kali, nikmat. Apalagi saya pecinta bakso. Partner saja yang tidak terlalu suka bakso malah juga jatuh cinta sama rasanya.


Kami memutuskan bermalam di terminal. Yah menunggu beberapa jam menuju subuh. Terasa lama, karena menunggu penuh harapan menghadirkan perasaan lambatnya waktu. Kami disarankan tidur di ruang tunggu dan menitipkan barang – barang di pos operator terminal. Iya, kami menunggu subuh di deretan kursi ruang tunggu. Jangan bayangkan ruang tunggu seperti di terminal Bungurasih. Tempat tunggu ini berada di ruang terbuka hanya ada atap genteng. Kami sudah menitipkan barang di pos operator. Beberapa orang datang dan pergi dari ruang tunggu itu. Ada juga yang seperti kami menginap di terminal.


Sisa malam kami habiskan dengan mengobrol. Lama – lama kami merasa bored. Ponsel berada di tas yang dititipkan ke pos operator. Kemudian kami permisi masuk pos operator untuk mengambil ponsel. Eh ternyata bapak penjaga pos dengan baik hati menawarkan tempat tidur di dalam pos. Bukan di tempat operator tempat bapak bertugas loh ya, tapi di atas. Pos operator memang tidak begitu besar, di lantai dua tersedia bangku panjang semi kasur. Bisa lah dibuat tidur. Kebetulan kami sudah agak lelah bisa istirahat. Kami memutuskan istirahat bergantian.   Partner di bangku itu, hanya cukup satu orang. Sementara saya menemukan kardus yang sudah dibuka hingga menyerupai tikar. Buat saya, bisa nih dibuat alas tidur. Saya menggelar kardus itu sebagai tikar dan menjadikan tas sebagai bantal. Saya tidur duluan. Partner mengisi daya ponselnya di bawah sembari ngobrol basa – basi dengan bapak petugas. Bagi saya, tidak masalah tidur di mana pun. Bahkan saya pernah tidur di batu besar dekat sungai hehe. Parahnya lagi, pernah tidur berdiri pas antri mandi. Yah produk pesantren, gak pernah pusing soal tidur haha.


Rasanya gak seberapa lama, saya dibangunkan. Waktu itu jam 3 dini hari. Partner minta gantian tidur. Dia meminta saya menjaga ponselnya yang dicharge di bawah. Akhirnya saya turun ke pos bagian bawah. Yah berbincang basa – basi perkenalan dengan bapak petugas. Beliau bertanya asal saya. Begitu tahu saya asli Madura, beliau juga menceritakan bahwa punya keturunan Madura meski hanya berkunjung saat lebaran. Ternyata menunggu memang terasa lama sekali. Azan subuh belum berkumandang. Suara pengajian dari masjid sekitar sudah terdengar. Saya mencoba membangunkan partner. Susah. Ya sudah. Rencananya kami mau mandi dulu di toilet terminal sebelum berangkat. Tapi si partner susah dibangunkan ya sudah. Namun saya harus tetap ke kamar mandi, persiapan berwudu untuk sholat subuh. Sampai saya selesai solat subuh pun, partner belum bangun. Terserah deh. Akhirnya dia bangun sendiri.

 Bus sudah datang beberapa menit setelah azan subuh tadi. Akhirnya ini dia saat yang dinanti. Tidak lupa kami berpamitan dan terima kasih atas tumpangan dari bapak petugas. Kami naik itu bus jurusan Bondowoso. Pokoknya kami bilang sama bapak kondikturnya mau berhenti ke arah Kawah Ijen. Tidak terlalu lama memang menuju Bondowoso. Kami diturunkan di pertigaan jalan raya ijen. Katanya, dari pertigaan situ bisa naik bus mini ke Sempol. Lalu dari Sempol naik angkutan lagi menuju Paltuding. Nah Paltuding itu area awal pendakian menuju Kawah Ijen.


 Keluar dari bus kami disambut hujan. Beruntungnya, saya membawa payung dari Surabaya. Meski payungnya kecil, setidaknya bisa melindung dari tempias hujan. Sebelum turun dari bus, saya melihat ada pom bensin, lumayan bisa mandi di toiletnya. Maka kita jalan menuju pom bensin tersebut. Kami mandi bergantian, sembari menjaga barang. Berhubung belum sarapan, kami memutuskan mencari warung makan. Dan yap lagi – lagi bakso. Saya pesan bakso, sementara si partner mie ayam. Mantap. Ketika selesai makan dan hendak membayar, kami bertanya pada penjaga warungnya. Iya benar, menunggu bus mini di pertigaan depan warung itu menuju Sempol.


Agak lama kami menunggu. Bus mini tidak kunjung datang. Di samping kami ada bapak – bapak. Kami sekedar bertanya tentang akses menuju ke Kawah Ijen. Iseng kami bertanya tarif ojek pada bapak itu. Ternyata si bapak mau mengantar kami. Bilangnya sih dianterin ke Paltuding, tarifnya murah banget cuma 30.000 rupiah. Kami udah seneng. Eh ternyata gak berhenti di Paltuding, masih jauh. Sempol aja gak sampe. Kami diberhentikan di pertigaan entah apa namanya. Untungnya di depan kami ada toko. Kami bertanya di situ. Mereka bilang jarang ada angkutan, adanya mobil pribadi. Kalo mau nyegat ya gak masalah, sudah biasa. Si partner agak keberatan nyegat mobil pribadi. Biasanya mobil pribadi sudah penuh sama liburan keluarga atau sepertemanan. Tidak enak mengganggunya. Beruntung, bapak penjaga toko menelponkan temannya yang tukang ojek. Kami naik ojek dari pertigaan entah apa itu sampai di Paltuding. Sip, nice deal.


Sepanjang perjalanan lagi – lagi kami disuguhi pemandangan luar biasa. Perjalanannya memang jauh. Bapak ojeknya dengan baik hati menawari kami berhenti. Beliau tahu spot – spot yang bagus untuk foto – foto.
gazebo dekat kebun kopi
kayak gini nih jalannya


Akhirnya kami sampai di Paltuding. Yeay. Rencananya kami akan mendaki pukul 2 siang. Saat itu kami baru sampai jam 10. Kami menuju salah satu warung. Di Paltuding tersebar banyak sekali warung. Harganya standar harga wisata lah, tapi tidak terlalu mahal. Udara di Paltuding dingin sekali, sempat gerimis juga saat itu. Karena udara dingin itu lah, sangat memacu hasrat untuk makan banyak. Entah saya sudah makan dan minum berapa kali saat itu. Ternyata pendakian tidak dibuka pada siang hari. Pendakian buka di mulai pukul 01.00 – 06.00. Jadi, kami memutuskan untuk menunggu dini hari untuk mendaki.
.....

You Might Also Like

0 komentar

Silakan berkomentar, terima kasih sudah menyampaikan dengan sopan :)

My Instagram

Instagram