Menuju Puncak: Kawah Ijen (Part 2)

21.48



Siang menuju dini hari amatlah lama. Kami mencoba jalan – jalan di sekitar Paltuding. Beberapa kilometer sebelum Kawah Ijen, ada Kawah Wurung yang katanya menyerupai keindahan bukit di Selandia Baru. Bahkan kami baru tahu info saat itu juga, kami melihat palang beloknya saat perjalanan menuju Paltuding. Bisa dijadikan list wisata nih someday. Sebelumnya juga kami sempat melihat air terjun hijau, dekat kawah ijen. Sayangnya kalau jalan kaki hitungannya tidak dekat. Air terjun itu bisa hijau karena belerang dan ganggang hijau. Perpaduan tersebut bisa menampilkan warna hijau mengkilau, indah. Sayangnya kami tidak menuju sana. Untuk berjalan turun lagi saya tak mampu. Waktu itu saya pusing berat, mungkin kurang tidur karena you know semalam hanya tidur beberapa jam beralaskan kardus berbantal tas. Warung tempat kami makan menyediakan penginapan. Namun kami merasa seratus ribu terlalu mahal untuk sekedar istirahat siang dengan fasilitas yang seperti itu. Kami memilih tidur di warung itu, pada kursi dan meja sajinya. Kami memeilih meja paling pojok menghadap jendela. Lagi – lagi tidur sembarangan kan hehe.


Cukup lama kami tidur siang. Ketika bangun sudah masuk waktu sore. Lumayan sekali, pusing di dahi saya hilang. Kami memutuskan stay di warung itu. Hari mulai gelap. Lampu berenergi genset mulai dihidupkan. Seberang sana, lapangan kosong yang memang digunankan sebagi bumi kemah mulai menghidupkan api unggun mereka. Semakin malam, dingin terus menusuk tulang. Sampai pada titik saya bisa menghembuskan uap air ketika meniup udara. Ala – ala titanic. Lagi – lagi, kami tidur di warung itu. Menunggu dini hari lama sekali. Akhirnya pukul sebelas malam kami bangun. Beberapa jam lagi pos pendakian akan dibuka.  Ketika saya hendak beranjak menunggu di depan pos, ternyata ada seseorang yang sepertinya saya kenal. Benar, dia Sandy, teman semasa SMA. Teman di pesantren. Dia berempat, satu- satunya perempuan di sana. Dia bukan tipikal perempuan tomboi yang berteman dengan laki – laki, hanya saja Sandy bersama seorang laki – laki yang juga saya tahu. Meskipun laki – laki itu tidak mengenali saya. Mauli, pacar Sandy. Dan dua orang laki – laki yang entah teman dari Mauli atau Sandy. Sepertinya lebih mungkin teman dari pihak Mauli.

“Inun? Inun siapa? Anak Lasvizard ta? Apa Nesto?”
“Lasvizard lah”
Tipikal percakapan sepasang kekasih yang meskipun berdebat tetap saja tersirat senyum di dalamnya. Tidak, saya tidak baper.


Mereka menawari mendaki bersama. Saya menawari pada partner. Mungkin partner sungkan, jadinya saya menolak halus tawaran untuk mendaki bersama itu. Di luar, dekat pos pendakian sudah ramai sekali. Apalagi depan toilet, suasana dingin membuat sistem regulasi kita bekerja ekstra.


Saya sempat ngobrol dengan seorang ibu muda. Dia dari Bali, mendaki bersama suaminya berdua (relationship goals banget gak si uwuw). Dia bercerita ingin sekali menacapai puncak. Alasannya karena ketika di pendakian sebelumnya, Gunung Agung Bali, dia tak sempat mencapai puncak.


“Padahal udah deket. Tapi ya adek saya tiba – tiba kakinya (kaki apa perut ya? Lupa hehe) kram. Ya masak saya tinggal. Ya uda sampe segitu aja.”, ucapnya dengan logat Balinya yang kentel.


 Dia pun bertanya balik kepada saya tentang pendakian ini. Kebetulan waktu itu saya sendiri, ibu itu juga sendiri. Kami sama – sama menunggu partner hiking yang lagi antri buang air. Dia begitu amaze sama saya. Heran, perempuan cuman berdua kok nekat ke sini. Saya tertawa saja. Sampai – sampai ketika suaminya datang dia bercerita bahwa saya hanya berdua dengan teman perempuan, dari Surabaya!


Pos semakin ramai. Kami tak mau kalah start. Kami mengantre untuk membeli tiket pendakian, harganya murah kalo ingatan saya gak salah sekitar enam ribu rupiah. Sebaiknya memang kalo mendaki beli tiket dan pake jalur resmi aja. Udah banyak tragedi pendaki yang pake jalur sendiri, eh endingnya... ~you know what I mean. Akhirnya petugas mempersilahkan kami masuk, tiket  passed. Pendakian dimulai yeay.


Baru di awal perjalanan, kami bertemu dengan rombongan pendaki dari Pare. Melihat kami hanya berdua, mereka menawari untuk mendaki bersama. Akhirnya kami ikut saja. Mereka baik sekali. Tidak terlalu memkasakan. Rombongannya terdiri dari beberapa laki – laki dan lebih banyak perempuannya. Entah mereka sangat sabar menghadapi pendaki perempuan seperti kami. Biasanya cowok kan ogah mendaki bareng cewek (meski gak semua sih) karena alasannya cewek bikin ribet, dikit – dikit minta berhenti.


Sepanjang pendakian dini hari itu, bima sakti terlihat jelas. Indah sekali. Langit tanpa polusi terlihat cantik. Dalam pendakian terkadang kita harus minggir untuk memberi jalan bagi bapak – bapak penambang belerang. Kawah Ijen memang penghasil belerang banget. That’s why masker adalah bawaan wajib untuk Kawah Ijen, selain melawan dingin dan debu juga untuk mengurangi bau belerang yang menusuk. Kalo kamu gak kuat mendaki, ada jasa tarik troli dari bapak – bapak penambang. Kalo mendaki biayanya 250 ribu, sedangkan kalo turun biayanya cukup 150 ribu. Tapi apa esensi mendaki kalo kita tidak benar – benar mendaki ya hehe. Selama kaki kita masih sehat, pake kaki aja deh.


Kami semakin dekat dengan puncak. Tapi kami harus memilih, blue fire atau sunrise. Tidak bisa dua – duanya. Hanya pendaki handal yang bisa menyaksikan blue fire dan sunrise.  Masalahnya adalah, untuk mencapai blue fire, harus turun entah berapa jaraknya itu menuju sumber api. Blue fire aktif dari pukul 01. 00 sampai 05.00 WIB. Lalu, untuk mengejar sunrise harus naik lagi menuju puncak Kawah Ijen. Turun ke blue firenya aja jauh, apalagi naik, ditambah naik lagi ke puncak. Ah sudahlah. Sunrise bisa dilihat di mana – mana. Tapi blue fire, cuma ada dua di dunia, Indonesia dan Islandia. Maka kami tidak akan melewatkan kesempatan ini. Meski harus sewa masker gas seharga lima puluh ribu per orang karena radiasi gas yang amat kuat dari blue fire.


Penampakan blue fire. Gak jelas? Liat langsung ke sana :)


Turun ke blue fire masih ditemani oleh rombongan Pare. Harus hati – hati juga turunnya, karena medannya amat curam. Sampailah kami. Saat itu, saya seperti melihat cahaya biru menari. Indah sekali. Benar – benar hypnotized. Kami terpisah dari rombongan Pare. Saya lihat langit masih gelap. Perkiraan saat itu jam 4 dini hari. Saya ingin mencari rombongan Pare, sekedar pamit naik duluan dan terimakasih atas bantuannya. Rombongan Pare tidak ditemukan, yasudahlah biarkan mereka merasakan kebersamaan persahabatan. Kami memilih untuk naik duluan karena saya  sudah tidak kuat dengan gasnya, selain baunya menusuk hidung juga membuat mata iritasi. Saya juga harus sholat subuh. Langit terihat agak terang dari sebelumnya. Kami masih perjalanan naik dari blue fire. Partner menyarankan saya untuk sholat di situ dulu, kami minggir dari jalan duduk di sebuah batu. Yang bisa saya lakukan adalah, bertayamum dan sholat duduk. Tidak ada air di situ, hanya batu, debu, belerang, api.

Kelar saya sholat, kami istirahat sejenak di tempat itu. Kemudian disusul beberapa pendaki juga istirahat di dekat kami. Tak lama setelah itu, ada seorang pendaki lewat dan mengingatkan kami.

“Mbak, kalo mau istirahat jangan di situ. Soalnya nanti takut batunya longsor dari atas”

Iya sih, tempat kami istirahat agak ekstrim. Akhirnya kami sudahi istirahatnya, lanjut menuju puncak.  Sampai di atas, langit sudah pagi. Bau belerang semakin menusuk saja. Kami istirahat sejenak. Lanjut lah kita sampai pada kawah yang diisi lautan belerang. Luar biasa.

apaan dah haha


Udah gitu aja? Ya.. then kita turun. Berkemas. Kami balik ke warung tempat kami tidur kemarin. Barang – barang kami titipkan di sana. Baik banget ibunya. Bahkan kami dipinjami tongkat untuk mendaki. Sebenarnya tanpa tongkat bisa sih. Ya it’s okay lah menghargai bantuan orang. Buat gegaya juga keren kan.

Kawah Ijen worth to try buat pendaki pemula (like me). Medannya tidak terlalu sulit. Ketinggiannya mencapai 2799 mdpl. Lumayan kan. Kebetulan ketika saya ke sana jumlah pendaki mencapai 4000 orang. Waw, maklum long weekend.

Sorry to say. Saat perjalanan pulang dari Banyuangi menuju Surabaya, kami dilanda kabar duka. Salah satu keluarga Fakultas Psikologi UNAIR, pak Udin, meninggal dunia. Innalillahi... Kami semua tahu, betapa Pak Udin adalah sosok yang ramah senyum. Selamat jalan Pak Udin.

You Might Also Like

3 komentar

Silakan berkomentar, terima kasih sudah menyampaikan dengan sopan :)

My Instagram

Instagram