Potrè Mandî

13.30



ilustrasi oleh redaksi




Tanganku tegang memegang kemudi. Aku berusaha mencari celah untuk menyalip kendaraan di depanku. Tapi sialnya jalan ini terlalu sempit untuk daerah perbatasan. Aku masih berada di Tanah Merah, Bangkalan. Masih jauh untuk menuju RSUD Sampang. Butuh sekitar satu setengah jam lagi untuk menuju sana. Kabar tentang ayah masuk rumah sakit benar – benar membuatku kalut.

            Mungkin ini salahku yang lebih memilih bekerja di Bangkalan. Aku tak bisa berada di dekat ayah. Terutama saat keadaan darurat seperti ini. Padahal aku lahir dan besar di kota Sampang. Tapi aku tak bisa berbuat lebih, ini tuntutan dinas. Untungnya ayahku merestui apapun keputusanku. Tetap saja, aku tak bisa memaafkan diriku jika terjadi hal buruk pada ayah.

            Hapeku berbunyi. Sebuah panggilan masuk. Kuambil hapeku yang terletak di dashboard mobil. Dari ayah?
                        “Halo Yah?”
                        “Potrè mandî”
                        “Hah?”

            Telepon terputus. Aneh. Apa maksud ayah? Mengapa tiba – tiba kata itu yang terucap? Entahlah. Untungnya aku sudah memasuki kota Sampang. Baru saja aku melewati gapura selamat datang di kota Sampang. Sebentar lagi aku akan sampai di RSUD.

            Aku memarkir cepat mobilku. Tak lupa kusambar hapeku. Segera aku menuju pusat informasi.

                        “Mbak, pasien dengan nama Khoirul Anwar dirawat di kamar mana?”
                        “Di kamar anggrek 5A”, Resepsionisnya menjawab setelah membolak – balik buku besar di hadapannya.
                        “Kamar anggrek di sebelah mana, Mbak?”
                        “Dari sini Bapak lurus, terus belok kanan”

            Sepanjang jalan menuju kamar anggrek memang sepi. Lorongnya hanya ada beberapa petugas yang bekerja. Aku mempercepat langkah. Bukan karena takut dengan suasana rumah sakit malam. Tapi lebih karena kekhawatiranku pada ayah.

                        “Krek”, kubuka pintunya perlahan.

            Ayahku terbaring pulas di ranjang kamar ini. Perlahan, kuhampiri ayah. Segera kuseret kursi agar bisa duduk di hadapannya. Pandanganku mendekat. Ayah, maaf selama ini aku meninggalkanmu. Padahal aku tahu ayah pasti kesepian semenjak ibu meninggal. Apalagi hanya akulah putramu. Kuusap kepalanya perlahan. Rambutnya sudah banyak yang memutih. Mungkin dulu, aku yang diusap kepalanya sebelum tidur. Ayah, maaf aku meninggalkanmu bukan tanpa alasan. Ini semua demi ayah.

                                                            ***
            Seseorang menepuk – nepuk pipiku. Aku terbangun kaget. Ternyata semalam aku tertidur. Ayah? Ayah telah sadar.
                        “Ayah?”
                        “Sudah lama di sini?”
                        “Dari tadi malam Yah”

            Aku tahu itu basa basi. Jelas – jelas aku di sampingnya hingga tertidur. Ayah mungkin merindukan saat – saat bersamaku.

                        “Dias”
                        “Iya Yah?”
                        “Ayah minta tolong carikan potrè mandî”

            Dahiku langsung berlipat. Ayah aneh. Permintaan yang sulit. Potrè mandî adalah jajanan tradisional Madura yang terbuat dari beras ketan putih dan di dalamnya berisi sesuatu, aku lupa, yang jelas rasanya enak, manis, gurih juga. Bentuknya memang seperti putri yang sedang mandi di bak mandi . Maka dari itu disebut potrè mandî, yang dalam bahasa Madura artinya putri mandi.

            Ibu sering membelikanku potrè mandî saat aku kecil dulu. Apalagi di bulan ramadan, potrè mandî menjadi jajanan favorit untuk takjil. Tapi untuk sekarang? Mana mungkin? Melihatnya saja aku tidak pernah. Terakhir aku memakannya saat SMP. Bagaimana bisa aku mendapatkan potrè mandî. 

                        “Dias, ayah minta tolong sangat, tolong belikan ayah potrè mandî”
                        “Iya Yah, Dias berangkat sekarang”
            Mampus! Akan kucari ke mana jajanan itu? Sepertinya, di pasar pun tak kan ada jajanan macam itu. Harus aku cari ke mana ini? Badanku sudah siap di mobil. Tapi pikranku melayang ke mana – mana. Ah, adakah yang akan membantuku?

                        Hari gini nyari potrè mandî di mana ya?”

            Iseng aku menulis status di akun facebookku. Siapa tahu ada yang membantu. Kunyalakan mesin mobil. Tujuan utamaku adalah pasar tradisional terdekat. Entah ada atau tidak, meski mustahil, setidaknya aku berusaha mencari. Aku beralih dari lapak ke lapak. Hasilnya tetap nihil. Tak puas dari pasar ini, aku beralih ke pasar lain. Untungnya aku masih hafal betul jalanan kota kelahiranku ini.

            Terhempas. Putus asa rasanya mencari sesuatu yang nihil. Dari tadi hanya menyeret langkah untuk hal yang sia – sia. Kembali aku berada di dalam mobil. Bingung. Harus ke mana lagi aku mencari  potrè mandî. Hatiku tergerak membuka hape. Aku teringat facebook. Ada yang mengomentari statusku.

                        “Datang saja ke sentra jajanan pasar di dekat kantor polisi”
            Mataku berbinar membaca komentarnya. Segera kutancap gas untuk mendapatkan potrè mandî. Kuparkir mobilku rapi tepat di depan sentra ini. Akhirnya. Segera kubayar tanpa mempedulikan uang kembalian. Tak ada waktu. Aku segera kembali ke RSUD. Ayah, aku dapat apa yang ayah inginkan.

                        “Krek”, Kubuka pintu kamar rawat ayah.
                        “Dias. Gimana, udah dapet?”, suara ayah lemas.
                        “Ada Yah”, Jawabku dengan senyum. 

            Aku membukakan bungkusan itu. Kusuapkan isinya untuk ayah. Beliau menikmatinya sangat dalam. Mungkin sangat merindukan rasanya. Itu adalah terakhir kalinya aku berada di samping ayah. Setelah menikmati potrè mandî itu, ayah mengeluh pusing. Dokter sempat memarahiku karena memberi sembarang makanan. Dokter bilang, pembuluh darah ayah pecah. Potrè mandî mengandung kolesterol tinggi karena kandungan santannya. Ayah memang memiliki kendala dengan kolesterol. Aku merasa sangat bersalah. Tapi takdir tak bisa dihalang. Jika memang baktiku melalui potrè mandî, semoga ayah cukup bahagia dengan bakti terakhirku yang sama sekali tak cukup untuk seluruh jasanya. 
 

Terbit di Radar Madura (11 Agustus 2013)

You Might Also Like

0 komentar

Silakan berkomentar, terima kasih sudah menyampaikan dengan sopan :)

My Instagram

Instagram