Siapa yang Lebih Cerdas?

18.11

Saya ingin bercerita tentang hal ini sedari dulu. Sebelum membaca cerita ini, saya luruskan bahwa ini tentang orang lain. Saya hanya sebagai pencerita, pengamat. Ini dari sudut pandang orang ketiga. Begini ceritanya.


Saya punya beberapa teman. Maksud saya, beberapa yang saya (agak) kenal dengan baik. Saya memang bukan tipikal anak populer yang punya banyak teman seantero jagat raya. Kalau sekedar kenalan, ya lumayan banyak. Mungkin lebih banyak kenalanmu. Jadi begini, saya menyimpulkan ada dua tipe teman yang saya kenal. Tipe di sini dalam konteks kecerdasan. Kenapa cuma dua? Saya sudah melakukan sampling terhadap beberapa teman yang saya kenal (agak) baik. Tidak usah bertanya saya memakai teknik sampling apa. Terlalu sensitif dibicarakan oleh mahasiswa, terutama semester lima ke atas. Yah, mata kuliah metode penelitian, apa pun itu namanya di kampus kalian. Dari populasi itu, ada dua sampel. Sebut saja sampel A dan sampel B.

source https://goo.gl/yEuhZo

Kedua teman saya ini sama - sama cerdas. Bagi saya sih memang dua - duanya cerdas. Dibandingkan saya yang hanya remahan rempeyek pecel. Di sinilah mengapa saya melakukan sampling. Sampel A dan sampel B memilki tipe kecerdasan yang berbeda. Mungkin sekali lagi, agak sensitif membahas tentang kecerdasan. Apalagi jika kuliah di psikologi. Akan banyak definisi tentang kecerdasan. Saya pun tidak ingin memperumit dengan pilah pilih teori mana yang akan saya gunakan tentang kecerdasan. Saya ingin mengambil garis besar saja. Kecerdasan yang saya maksudkan dari persepektif  filsafat timur, karena kita hidup di budaya timur. Kecerdasan dalam persepektif budaya timur (secara garis besar) adalah kesempurnaan diri. Hal ini tentang kemampuan memahami dan menguasai beberapa macam ilmu. Tidak hanya ranah intelektual saja, tapi juga emosi dan juga spiritual.


Sampel A, dia orang yang sangat rajin. Setiap hari tiada hari tanpa belajar. Bahkan sering saya bertemu dengannya dalam posisi dia membawa buku atau membaca buku. Dalam konteks ini, buku yang dibaca adalah buku pelajaran atau buku materi. Tidak heran jika nilai - nilainya selalu mencapai urutan teratas saat ujian. Selain itu, secara emosi juga dia lumayan baik. Meski tidak sempurna. Dia ramah pada semua orang. Saya juga sering mendapatkan cipratan ketika dia mempunyai rezeki berlebih. Dia juga sopan terhadap orang yang lebih tua terutama orangtuanya dan guru. Masalah ibadah, tidak perlu ditanya. Dia alim luar biasa. Pemahaman agamanya baik. Sekali lagi, jika dibandingkan dengan saya... saya hanya butiran bedak seribuan. Tidak jarang saya berdiskusi dengannya selain tentang pelajaran, juga tentang agama. Mungkin lebih pantas disebut berguru daripada diskusi. Seringnya dia yang mengutarakan pemahamannya. Sementara saya masih alpa. Sudah bisa membayangkan sampel A seperti apa? Mungkin kalian juga punya teman seperti dia?

Nah sekarang sampel B. Si sampel B ini lebih santai dari sampel A. Bahkan jauh jauh jauh lebih santai. Maksudku, jarang saya melihat dia belajar dalam arti mainstream. Setiap kali saya bertemu dengannya, lebih sering dia membaca novel atau komik. Terkadang dia hanya membuat coretan yang saya gagal paham di buku catatannya. Hanya coretan random. Mungkin cuma dia yang paham maksudnya. Tapi bukan berarti dia tidak menjadi deretan teratas ketika ujian. Dia bahkan mampu bersaing dengan sampel A. Terkadang mampu mengalahkan sampel A. Kalau berbicara emosi, dia cenderung lebih bergejolak. Dia tipe anak yang  impulsif. Ketika ada sesuatu, dia selalu merespon dengan cepat. Sederhananya, dia orang yang blak - blakan. Mau ketawa ya ngakak, kadang (maaf) ngupil dan kentut sembarangan. Namun bukan berarti dia tidak sopan pada orang yang lebih tua. Bisa saja, tapi tidak sehikmat sampel A. Nah kalo masalah ibadah nih, dia juga termasuk hamba yang rajin. Saya sering melihat ibadahnya yang khusyuk. Meski kadang juga sering memergoki dia tertidur saat atau sesudah ibadah. Tapi jika melihat dari penampilan, mungkin kamu tidak akan menyangka bahwa dia adalah pribadi yang khusyuk dalam beribadah. Dia sendiri lebih simpel dalam berpenampilan, seadanya. Berbeda dengan sampel A yang selalu berpenampilan sopan dan rapi. Nah, sudah terbayang kan sampel B seperti apa? Mungkin kalian juga punya teman seperti sampel B?


Dua - duanya cerdas. Masalah intelektual tak usah ditanya. Cara mereka berinteraksi dengan orang lain pun punya keunikan tersendiri. Dua - duanya menyenangkan. Pun tak kalah dengan ibadah mereka yang sama - sama baik. Saya rasa keduanya mencintai Tuhan. Nah, ini dia permasalahannya. Mereka berdua berteman. Meski bukan sahabat yang ke mana - mana bersama, mereka saling kenal dengan cukup baik. Hingga suatu hari mereka berdua bertengkar. Sebab pertengkaran bukan karena ala - ala rebutan pacar seperti pertemanan zaman sekarang  biasa saja. Mereka bertengkar karena hal yang sentimentil. Itu karena perdebatan sensitif tentang iman kepada Tuhan.


Mungkin butuh diluruskan lebih jauh. Kami beragama Islam. Ritual ibadah yang utama, yakni shalat wajib dikerjakan 5 kali sehari. Sampel A dan Sampel B sama - sama rajin dan khusyuk dalam sholat wajib. Bedanya, sampel A menambah sholat sunnah dan amalan ibadah lainnya. Si sampel B, saya tidak tahu banyak. Dia pandai merahasiakan ibadahnya. Bukan pula berarti si sampel A adalah riya', hanya saja saya sering memergokinya. 

Mereka bertengkar hanya karena sampel B sempat bertanya - tanya tentang keimanannya. Saya lupa pertanyaannya secara pasti, begini kira - kira.

"Apa benar Allah itu ada? Apa benar Dia mendengar doa kita? Apa iya Dia mampu melihat kita yang segini banyaknya? Apa benar apa yang dijanjikanNya tentang surga - neraka? Apa iya kisah - kisah agamis yang kita pelajari itu benar, atau hanya dongeng untuk mendoktrin kita saja? Apa iya... ? Bagaimana bisa...? Apa benar...?? Bla Bla Bla....


Si sampel A menjawab dengan kecewa, "Hei, hati - hati nanti kamu murtad loh"

Si sampel B langsung impulsif tidak terima. Dia mempertanyakan hal tersebut bukan bermaksud meragukan keagungan Tuhan. Dia hanya ingin semakin mendalami keimanannya  dengan tidak sekedar percaya tanpa balas. Dia ingin mencari kebenaran untuk mempertebal keimanannya. Sejak saat itu mereka bertengkar. Sampel B menemui beberapa temannya atas masalahnya dengan sampel A. Salah satunya saya. Saya sudah sangat terbiasa dengan pembahasan skeptis tentang keimanan pada Tuhan. Saya sendiri percaya, iman terburuk adalah iman yang hanya sekedar percaya, tanpa tahu mengapa harus beriman. 

"Kita diperbolehkan kok, mempertanyakan keberadaan Tuhan. Selama itu untuk mempertebal keimanan. Toh dulu Nabi Ibrahim juga mencari kebenaran keberadaan Allah."

Begitu kira - kira jawaban saya yang terinspirasi dari guru tafsir. Akhirnya pun mereka berdua kembali baikan. Bukan hanya karena jawaban saya. Ada banyak orang yang berperan di balik mereka.

Yah begitu saja kira - kira yang ingin saya ceritakan. Nah, yang ingin saya tanyakan: menurut kalian siapa yang lebih cerdas di antara mereka?








You Might Also Like

0 komentar

Silakan berkomentar, terima kasih sudah menyampaikan dengan sopan :)

My Instagram

Instagram