Ibu Fatimah

13.40



“Kenapa ayah harus menyuruh aku ngaji kalo ayah saja tak bisa”

“Ayah tidak ingin kamu seperti ayah”

“Harusnya ayah bisa mengaji baru boleh menyuruhku”

“Fatimah, cepat berangkat mengaji. Tidak baik melawan ayah”

foto 20 finalis lomba selfie muslimah fair FKM UNAIR 2015

Ucapan Ibu adalah penengah bagi perdebatan ayah – anak tersebut. Ibu bukan seorang yang pemarah. Jauh dari itu, Ibu adalah penyayang dan penyabar yang luar biasa. Ucapan Fatimah memang terdengar sebagai perlawanan seorang anak yang bisa dibilang durhaka pada ayahnya. Tapi bagi Ibu, hal tersebut adalah wajar. Fatimah masih kecil, dia mungkin belum mengerti tentang tujuan orang tuanya menyuruh mengaji dan memperdalam Al – quran. Maklum, Fatimah masih berumur tujuh tahun. Kelak jika sudah dewasa, dia akan menyadarinya. Begitu Ibu mencoba bersabar dan berprasangka baik terhadap putrinya.

Ibu masih mengintrol agar Fatimah benar – benar berangkat ke surau dekat rumahnya. Dia tidak ingin Fatimah berbohong dengan berdalih sudah mengaji padahal tidak berada di surau. Jarak rumah dan surau hanya  tiga meter. Dari pintu rumah, bisa terlihat jika Fatimah tidak berangkat ke surau. Magrib itu Fatimah menyalimi tangan ibunya dengan muka masam. Ibu tak peduli. Dia tak ingin putrinya menjadi manja dengan menuruti semua perlawanannya.

Ditatapi langkah – langkah terseret dari kaki mungil Fatimah. Mulutnya bersyukur bisik – bisik mendapati Fatimah benar – benar sampai di surau. Dalam hatinya, Ibu berdoa agar putrinya bisa membaca Al – quran dengan baik dan benar. Agar Fatimah bisa menjadi muslimah seutuhnya. Langkah yang ditujukan pada Fatimah semata – mata untuk kebaikan putri semata wayangnya. Sebagai bukti cintanya dari seorang ibu untuk anak. Cinta yang dilandaskan pada Allah, demi ridhaNya.
            “Fatimah sudah benar sampai surau?”

Ayah langsung memburu Ibu pertanyaan ketika kembali masuk rumah. Hanya anggukan dan senyuman sebagai jawaban “iya” dari Ibu. Ayah kembali pada bacaan Al – qurannya. Begitu pula Ibu. Sesekali Ibu berhenti dari bacaannya dan membenarkan bacaan Ayah yang kurang tepat. Entah bagaimana Ibu bisa membagi dua fokus pada bacaannya dan bacaan Ayah.  Itu kebiasaan keluarga ini setiap selepas sholat magrib. 

Magrib di keluarga ini memang beda dari lainnya. Jika keluarga lainnya menjadikan bapak sebagai imam, namun di sini tidak. Setiap magrib Ayah akan berjamaah di masjid. Sedangkan Ibu berjamaah dengan Fatimah. Ibu yang menjadi imam bagi Fatimah. Bahkan hampir di setiap waktu sholat seperti itu. Fatimah hanya diimami oleh ibunya. Pernah sekali Fatimah berjamaah pada Ayah. Sayangnya, setelah salam dia ditegur oleh ibunya.
           
 “Kalau mau berjamaah, dilihat dulu imamnya. Apakah sudah betul bacaannya”
           
 “Memangnya Ibu sudah betul bacaannya?”

Ibu selalu hampir kehabisan kata – kata menghadapi tingkah Fatimah. Ada saja jawaban dari putrinya tersebut. Satu – satunya hal yang bisa dilakukan adalah mengusap kepalanya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Memberi pengertian pada Fatimah bahwa sholat adalah ibadah yang penting dalam Islam. Sholat akan lebih utama jika dilakukan secara berjamaah. Namun, kita harus pandai menyeleksi siapa imamnya. Sudah baikkah bacaanya. Minimal untuk bacaan Al – Fatihah.

 Fatimah, sebagaimana anak kecil pada umumnya, selalu saja tak puas dengan jawaban yang tidak sesuai dengan pikirannya. Dia masih diam menimang – nimang jawaban ibunya. Lantas, haruskah dia sholat lagi jika memang imamnya belum tepat bacaannya? Bagaimana dengan orang yang memang belum lancar membaca Al – quran, sementara hampir seluruh bacaan sholat bersumber dari kitab suci itu. Kasian sekali mereka, tidak pernah berkesempatan menjadi imam. Seperti ayahnya.
            “Trus, kenapa dulu Ibu menikah dengan Ayah kalau memang belum benar bacaan Al – qurannya?”

Ibu benar – benar terkejut. Pertanyaan tersebut memang mengejutkan. Tapi yang lebih mengejutkan adalah pertanyaan tersebut dilontarkan oleh putrinya yang masih berusia tujuh tahun. Ibu sadar suatu saat Fatimah akan mempertanyakan alasannya menikahi Ayah. Perkiraanya, pertanyaan itu akan hadir menjelang Fatimah menikah. Tapi kenyataannya, Fatimah mempertanyakan hal tersebut pada usia tujuh tahun. Ibu bingung apakah tujuh tahun adalah usia yang tepat untuk menjelaskan pernikahan.

            “Kamu yakin akan menerima lamarannya?”

            “Saya sudah sholat istikharah, dan mantap Abi”

            “Abi tidak akan memaksa, kamu yang akan menjalani hidupmu bersama laki – laki itu. Tapi Abi lihat, hidupnya seperti hanya bermain – main dan bersenang – senang”

            “Semua orang berhak berubah Abi. Saya melihat kesungguhan dalam dirinya. Sepertinya dia mau bertaubat”

            “Abi merestui apa pun yang sudah kamu pilih melalui istikharah. Tapi konsekuensinya, kamu harus bersabar dalam membimbingnya mempelajari Islam lebih dalam, terutama bacaan Al – quran”

            “Iya Abi, salah satu jalan dakwah adalah dengan menikah. Dan tidak harus selalu laki – laki yang membimbing”

Malam itu Ibu melewati pembicaraan masalah lamaran Ayah. Abi adalah orang tua laki – laki dari Ibu. Seorang laki – laki dengan gaya yang menjadi tren pada masa itu datang melamar Ibu. Padahal sebelum – sebelumnya laki – laki yang melamar Ibu adalah berbaju koko, berpeci, dan bersarung. Rata – rata adalah penghafal Al – quran dan beberapa kitab berbahasa Arab gundul. Abi adalah salah satu ustad di sebuah pesantren dekat rumahnya.

Keyakinan Ibu tidak serta merta terjadi begitu saja. Ibu melewatkan satu minggu istikharah beserta beberapa amalan untuk memantapkan pilihan sakral itu. Memang ini di luar kebiasaan. Sementara saudari yang lain memperoleh calon imam yang agamis. Jika memang ini yang terbaik, maka tidak ada alasan untuk menolaknya.

Abi sedikit menyinggung dalil Al – quran pada surat An – Nur ayat 26. Perempuan yang baik untuk laki – laki yang baik. Laik – laki yang baik untuk perempuan yang baik. Begitu penggalan terjemahan ayat tersebut. Ibu sadar, baik yang dimaksud Abi adalah agamanya, ibadahnya, dan aspek religiusitas lain. Tapi tetap Ibu mempertahankan pilihannya, bahwa baik menurut manusia belum tentu sama menurut Allah. Begitu pun sebaliknya. Jika laki – laki itu adalah baik menurut Allah, maka tak ada alasan untuk mendengarkan kata orang lain bahwa dia tak baik.

Menikah adalah ibadah yang menyempurnakan separuh agama. Menikah adalah sunah Rasul. Menikah juga merupakan salah satu jalan dakwah, seperti yang dicontohkan oleh para wali ketika menginjak tanah Indonesia. Menyebarkan Islam melalui perdagangan, seni, dan pernikahan. Tidak ada salahnya jika Ibu menerima lamaran laki – laki itu. Laki – laki yang kelak akan menjadi ayah bagi keturunannya.

Satu tahun pernikahan itu berlalu. Ibu masih dengan sabar membimbing laki – laki yang sudah resmi dan sah menjadi suaminya, tapi bukan imamnya. Ibu masih ragu untuk berjamaah dengan suaminya. Dia sadar betul, bacaan suaminya masih kurang tepat panjang pendeknya, masih pula terbata – bata. Tapi di luar sholat, Ibu terus membimbingnya. Meski tak tahu entah sampai kapan suaminya bisa benar – benar tepat bacaan Al – qurannya.

Satu tahun itu pula, mereka dikaruniai satu anak perempuan. Ibu benar – benar bahagia. Bahagia atas kelahiran putrinya, juga karena suaminya yang selalu menemani bahkan saat persalinan. Ketika bayi itu hadir, laki – laki itu menyarakan azan di telinga kanan dan iqomah di telinga kiri. Belipatlah kebahagiaan Ibu. Selain atas kelahiran putrinya, dia melihat secara langsung untuk pertama kali suaminya azan dan iqomah.

 Putrinya tersebut diberi nama Fatimah. Nama yang terinspirasi dari putri Rasul. Karena nama adalah doa, maka harapannya Fatimah menjadi sosok yang cerdas dan tegas seperti teladannya.  Fatimah tumbuh menjadi anak yang lincah dan aktif. Dia sering melemparkan pertanyaan – pertanyaan kritis yang bahkan melebihi anak seusianya. Sebagaimana anak kecil pada umumnya, Fatimah suka sekali bermain. Tapi Ibu tidak serta merta membebaskan anaknya liar. Ibu tetap mengizinkan anaknya bermain, namun tetap memperhatikan waktu makan, sholat, mengaji, belajar, dan istirahat.

Dipandangi lekat – lekat putrinya yang sudah berada pada usia tujuh tahun. Usianya memang tujuh, tapi Ibu sudah bersamanya sejak dalam kandungan. Benar – benar terasa detak jantungnya ketika masih dalam kandungan. Ikatan batin yang terbentuk membuat Ibu memiliki kasih yang kata pepatah sepanjang masa. Ingatannya tentang pernikahan dengan Ayah sudah buyar. Lukisan nyata wajah Fatimah lah yang sekarang tampak di hadapannya. Mungkin bukan waktu yang tepat menceritakan sebuah pernikahan pada anak usia tujuh tahun.

            “Karena Ibu mencintai Allah, Ayah, dan Fatimah”

Pada akhirnya jawaban itu yang muncul dari mulut Ibu setelah sekian menit ingatannya kembali pada masa lalu. Tak mungkin Ibu menjelaskan dengan detail bagaimana prosesnya. Biarlah seiring waktu Fatimah akan mengerti, sambil perlahan Ibu menjelaskan pelan – pelan. Semua akan tiba waktunya, saat yang tepat.

Hari ini wisuda bagi Fatimah. Bukan wisuda sekolah ataupun kuliah. Usianya baru menginjak tujuh belas tahun. Dia masih sekolah di SMA, kelas sebelas. Ini wisuda yang ketiga bagi Fatimah karena telah menghafal separuh Al – quran. Di rumah tahfidz tempatnya menghafal Al – quran wisuda dilakukan minimal hafal lima juz. Ini sungguh di luar dugaan. Betapa Fatimah bahagia. Apalagi orang tuanya, tentu saja bangga. Hasil tempaan sejak dini sudah dituai hasilnya.

Ini memang bukan akhir. Justru masih awal. Perjalanan masih panjang untuk melanjutkan perjuangan untuk menggenapkan hafalan. Bagaimana pun, Fatimah tetap harus berterima kasih kepada kedua orang tuanya yang tulus. Tak bisa dibayar oleh apa pun. Malah Fatimah yang sering bandel masa kecilnya ketika disuruh beraangkat mengaji. Beribu terima kasih dan syukur dia haturkan kepada orang tuanya. Kalau saja Fatimah tidak terlahir dari keluarga ini, entah bagaimana jadinya. Kalau saja ibunya bukan Ibu, entah apakah dia benar – benar sampai pada separuh Al – quran.
            “Semoga Aku pun bisa menjadi ibu yang hebat dalam mendidik anak – anakku kelak. Seperti Ibu”, doa penutup di hari wisuda Fatima, diucapkannya dalam hati.


-Juara sepuluh besar Muslimah Fair FKM UNAIR 2015-

You Might Also Like

0 komentar

Silakan berkomentar, terima kasih sudah menyampaikan dengan sopan :)

My Instagram

Instagram