Time Capsule: Refleksi 2016

00.54



Sebelumnya, saya ingin memberitahukan bahwa tulisan ini sangat personal. Jika tidak ingin membaca, silahkan tutup. Jika berkenan untuk membaca, monggo – nyatoreh.


time capsule sebelum diisi harapan. cr. skipsi

Assalamualaikum diriku di penghujung tahun 2016~
Mungkin sebagian teman saya tidak asing dengan kalimat di atas. Ya, kalimat itu adalah salam pembuka untuk time capsule. Apa itu? Time capsule adalah sesi khusus yang terletak pada akhir acara LMT (Leadership Managerial Training) SKI Psikologi UNAIR. Dari time capsule itu kami menuliskan harapan – harapan atau target tertentu yang ingin kita capai selama 2016. Harapan tersebut dituliskan dalam media kertas, kemudian dilipat dan dimasukkan ke dalam sebuah toples bernama time capsule. Semua orang kala itu, sama – sama menuliskan harapannya. Baik peserta maupun panitia. Kebetulan saat itu saya menjadi salah satu panitinya. Baperlah saya dengan audio yang disurakan dengan apik oleh salah satu teman panitia. LMT memang diadakan pada awal tahun 2016. Kemudian, untuk mengetahui sejauh mana realisasinya, time capsule dibuka pada akhir tahun. Tepatnya, saat muktamar SKI Psikologi UNAIR hari Minggu, 18 Desember 2016. Sayangnya, waktu itu saya berhalangan hadir muktamar karena sedang terbaring di rumah sakit.

Sepulang dari rumah sakit, saya diberikan kertas merah muda oleh teman saya. Ya, kertas itu adalah time capsule milik saya. Sungguh, saya masih ingat bagaimana saya menulisnya. Jadi ketika menerima kertas itu, memori saya menampilkan sosok perempuan beralmamater duduk di lantai dan menulis harapannya di tahun 2016. Time flies. Entah sejauh mana saya merealisasikan harapan – harapan itu. Saya ingat betul, ada tiga hal yang tertulis. Iya, hanya tiga hal. Tidak banyak.

warna kertasnya merah jambu. kena efek blur jadi putih :D


Hal pertama adalah move on! Ini benar, saya menulisnya dengan tanda seru. Ya, tidak bisa dipungkiri memang hal tentang rasa menjadi problematika anak muda. Bentuknya memang tak terlihat, namun tentu saja rumit untuk dijelaskan. Harus saya akui, dia memang masih menjadi bayangan. Susah sekali untuk pergi. Saya pikir dengan mengetahui bahwa dia sudah bersama orang lain, akan membuat saya bisa menghilangkan rasa. Atau setidaknya, menetralkan rasa. Tapi ternyata tidak. Entah ini rasa jenis apa. Apakah sekedar suka, sayang, cinta, atau obsesi belaka. Saya sudah mencoba. Tapi ternyata yang saya lakukan hanya mengabaikan bayangannya. Seolah saya selalu mengusir dengan cepat ketika bayangan itu hadir. Ketika saya sudah tidak ada lagi daya untuk mengusir, maka bayangan itu seperti segera masuk dan menguasai diri ini. Ini aneh. Terlalu panjang untuk sebuah kebodohan.

Saya sadar sepenuhnya, ini gila. Maka, cara terbaik adalah memang membiarkan bayangan itu tetap ada. Tidak perlu saya usir atau abaikan. Saya biarkan bayangan itu berada dalam diri. Namun tidak untuk menguasai. Saya sendiri yang punya kendali atas diri. Bayangan itu, saya lukiskan dalam bentuk siluet yang kemudian disimpan di dalam sebuah ruangan tak bercahaya. Ruangan itu sudah saya kunci rapat – rapat. Kuncinya, saya simpan sendiri. Jika suatu saat pemilik bayangan itu berkenan hadir, maka dengan senang hati saya akan membuka kunci ruangan itu. Lebih – lebih, memberinya cahaya dan membuat lukisannya berwarna. Silahkan, itupun jika dia berkenan datang. Sampai di sini, saya belum tahu apakah harapan pertama sudah tercapai. Saya rasa, ini adalah cara terbaik.

Harapan pertama memang gila. Sampai – sampai membuat saya lupa bahwa, ada cinta sejati yang lebih utama: Tuhan.  Tentang janji – janji saya pada Allah untuk menyisihkan waktu di setiap sepertiga malam, menambah ibadah amalan, dan bualan lain. Sayang sekali, saya terlalu pandai berjanji, tapi terlalu bodoh untuk menepati. Jangankan bangun untuk sepertiga malam, terkadang pun waktu wajib untuk beribadah saya lewatkan begitu saja. Terlalu banyak. Saya rasa, 2016 ini semakin saya sering skip beribadah. Semakin saya jarang menyentuh kitab suci. Memang pada harapan kedua ini saya menuliskan tentang janji kepada Tuhan. Janji untuk lebih baik.

Hebatnya Allah memang Maha Cinta. Rahman RahimNya tak berhenti mengalir sekalipun saya sering lalai. Sekalipun saya hanya hadir padaNya saat menemui masalah pelik. Seakan Tuhan hanyalah tempat pelampiasan masalah duniawi. Tapi memang tempat terbaik untuk berkeluh kesah adalah Allah. Bersujud, menangis, dan mencurahkan segala rasa padaNya adalah healing terbaik. Saya sendiri jarang berkeluh kesah pada manusia. Yah, tidak seorang yang bisa dipercaya bahkan orang terdekatmu. Maka memang saya hanya percaya Allah, Sang Maha Penutup Aib, sebaik- baik penyimpan rahasia, serta sebaik – baik pengabul harapan. Saya memang bukan orang dengan tingkat religiusitas tinggi. Tapi saya mencintai Tuhan, dan punya cara sendiri dalam mencintai. Urusan itu, hanya saya dan Allah yang tahu. Saya mungkin akan menorehkan dosa, tapi semoga tidak berhenti meminta ampunannya. Pun semoga Allah senantiasa mengampuni dosa – dosaku. Harapan kedua, entah hingga saat ini apakah sudah terwujud. Saya masih terus berusaha, meski sering alpa.

Masih ada harapan ketiga. Harapan yang mainstream bagi orang yang sedang berjuang menuntut ilmu. Belajar lebih baik. Tentang pencapaian akademis. Bukan hanya sekedar belajar untuk sekarang. Tapi belajar untuk selamanya. Bukan hanya belajar untuk memenuhi transkip nilai. Tapi belajar untuk menjadi bermanfaat bagi orang lain, sekurang – kurangnya diri sendiri. Adalah belajar yang sungguh – sungguh. Belajar yang benar – benar memberi penghormatan penuh pada ilmu. Taklimul mutaalim. Sementara realisasinya... saya rasa masih belum berhasil. Sejauh ini saya merasa belum mendapatkan apa – apa. Seperti tidak tahu apa yang saya lakukan dengan duduk dalam kelas sembari mendengarkan ceramah dosen. Entah. Kosong. Mungkin memang saya terlalu bodoh untuk mengerti. Tapi, mau tidak mau saya harus terus berusaha. Hidup memang butuh ilmu.

Ketiga harapan tersebut... masih ada harapan – harapan lain yang terselip. Harapan tentang menulis. Harapan tentang birrul walidain. Harapan akan husnul khotimah.
Semoga.. setiap harapan menemukan aminnya. Semoga Allah mengijabahi setiapa harapan yang sampai saat ini masih berproses dan berlanjut. Harapan itu tidak akan berhenti. Karena memang harapan tersebut selalu ada, hanya perlu aksi untuk realisasi.
Lanjutkan merealisasikan harapan di 2017, yuk :)

Selamat Tahun Baru 2017.

You Might Also Like

0 komentar

Silakan berkomentar, terima kasih sudah menyampaikan dengan sopan :)

My Instagram

Instagram