Catatan dari Orang Madura

02.45



rindupulang.blogspot.com



Saya lahir di Sampang pada tahun 1996. Sampang, sebagaimana banyak orang tahu adalah salah satu kabupaten di Madura.   Mungkin beberapa orang akan asing dengan “Sampang”. Tapi begitu menyebut Madura, orang akan mengerti bahwa yang dimasudkan adalah pulau kecil di sebelah timur pulau Jawa. Banyak stereotip tentang Madura. Kebanyakan memang seputar hal negatif. Entah orang – orangnya yang kasar, budaya caroknya, atau perilakunya yang norak dan bodoh. Itu stereotip yang saya pahami dari orang – orang non Madura. Memang mereka memiliki streotip macam itu. Tapi saya sendiri tidak menyalahkan. Orang – orang yang memiliki stereotip tersebut melihat orang sekitarnya yang katanya berasal dari Madura. Bagi mereka, orang Madura itu kasar, rendahan, dan kumuh. Itu yang saya tahu. Hal tersebut juga berlaku saat saya memperkenalkan diri sebagai orang asli Madura saat pertama kali merantau ke Jawa.
Menerima stereotip semacam itu menjadikan saya pribadi yang lebih sabar. Saya pernah merasa sakit hati (meski saya simpan diam – diam) ketika teman saya menertawakan cara saya berbicara. Dia meniru logat saya, seolah – olah itu adalah bahan guyonan. Pengalaman tersebut menjadikan saya lebih bisa memahami orang lain, dari suku atau bangsa bahkan agama mana pun. Saya menjadi lebih menghargai orang lain karena paham bagaimana rasanya direndahkan oleh suku. Bahkan suku adalah hal yang tidak bisa kita pilih. Sama seperti kita tidak bisa memilih dari siapa kita lahir. Berbeda dengan agama, kita bisa meilih keyakinan itu sendiri. Meskipun sebagian besar paham agama diturunkan.
Kita tidak pernah tahu bagaimana jadinya jika keadaannya berbalik. Saya sebagai orang Madura ditertawakan karena cara bicaranya yang berbeda dari orang Jawa. Istilahnya, mau berbicara bahasa Jawa tapi masih berlogat Madura. Nah, bayangkan orang Jawa jika merantau ke Jakarta. Saya rasa mereka akan mengalami hal serupa. Ditertawakan karena bahasanya yang “medok”. Mencoba pakai bahasa gue – elo tapi ada aksen penekanan Jawa. Bagaimana rasanya? Diperlakukan seolah kamu adalah makhluk antah berantah yang super duper kampungan. That’s the point.
Ternyata bukan hanya saya yang mengalami hal ini. Hal sesepele bahasa menjadi sangat sensitif ketika kita tidak mengerti. Salah satu teman saya pernah bercerita, dia berasal dari pulau yang menjadi destinasi favorit untuk wisata. Dia sangat kesal terhadap perlakuan dua orang yang sebenarnya dekat dengannya. Dua orang tersebut berbicara dalam bahasa Jawa dan tertawa bersama. Teman saya, tidak mengerti apa yang dua orang itu bicarakan. Tentu saja hal itu membuat teman saya jadi sakit hati, karena merasa dua orang itu membicarakannya dalam bahasa yang tidak dimengerti dan menertawakannya. Dia sangat kesal dan berujar, “Coba mereka ke tempatku, dan aku ngomong pake bahasa X sama temenku dan ketawa – ketawa, pasti juga ngerasain kayak gimana”. See? Tidak semua yang kalian anggap lucu itu juga lucu bagi kami. Terkadang malah menyakitkan.

Mungkin beberapa orang akan menanggapi, “halah gitu aja diambil hati”, “duh baperan padahal cuma bercanda”. Well, jika hanya saya yang merasa maka anggaplah saya terlalu sensitif. Tapi ini juga dialami oleh teman saya yang lain, yang sudah saya ceritakan di atas. Itu pun, dia yang mengaku pada saya. Belum lah yang menyimpan diam – diam. Ada lagi, teman saya dari pulau terbesar di Indonesia. Dia mengaku merasa inferior dengan orang Jawa. Padahal dia sendiri sedang menempuh pendidikan di Jawa, bersama saya. Tentu saja ini luar biasa, bisa diterima di SBMPTN yang saingannya se Indonesia Raya, bukan hanya orang Jawa. Dia bilang begini, “Aku selalu minder sama orang – orang Jawa, mereka pinter – pinter. Kami ini bisa apa yang dari luar Jawa”. Saya sangat menyayangkan inferioritasnya. Padahal dia adalah salah satu teman yang bagi saya dia cerdas. Meski saya tidak tahu berapa IPK-nya, karena sebelum pembagian KHS dia sudah pergi. Tapi melihat esainya tentang multikulturalisme membuat saya paham, dia cerdas.

Fyi, saya merantau pertama kali saat SMA. Daerahnya di sekitar gunung Welirang, Pacet, Mojokerto. Iya, di sana pertama kalinya saya menerima stereotip itu. Di sana pula saya mengalami kejadian yang saya ceritakan di atas. Hal itu selain membuat saya sabar dan memahami orang lain, menjadikan pula saya sadar pentingnya bahasa. Saya mulai mempelajari bahasa dan budaya Jawa. Meski masih saja ada beberapa yang menertawakan logat saya. Masalahnya memang bahasa bukan sekedar kosa kata, tapi juga logat. Kepada mereka yang menertawakan, saya berkomunikasi dengan bahasa Indonesia. Tentu di luar hari efektif karena pada Senin hingga Sabtu diwajibkan memakai bahasa Arab atau Inggris, sesuai minggunya. Ketentuan bahasa Arab-Inggris menjadi keuntungan bagi saya. Bahasa Inggris, anggaplah menjadi kelebihan bagi saya meski nilai TOEFL tidak melejit ala anak pertukaran pelajar. Sementara bahasa Arab, sama – sama dipelajari bersama. Banyak yang belum bisa bahasa Arab juga.

Saya hanya berbicara bahasa Jawa pada orang – orang yang bisa menerima pelafalan yang saya tuturkan. Ketika ada kosa kata yang tidak dimengerti, saya juga tidak segan untuk bertanya. Semua proses itu berjalan secara sederhana, tanpa misi yang menggebu – gebu. Saya menjalaninya dengan santai. Saya memang tipe pembelajar yang mengamati terlebih dahulu lalu berpikir untuk kemudian diproses dalam memori. Saya lebih banyak mendengar orang berbicara. Sembari pula mempraktikkannnya pada orang yang bisa menerima. Tidak ada tuntutan nilai, jadi mengalir saja. Sampai akhirnya saya bisa berbahasa Jawa.

Benar kata Gusdur, bahasa adalah kunci untuk menguasai dunia. Saya memang tidak menguasai dunia. Setidaknya, dengan memakai bahasa yang sama dengan orang pribumi akan menjadikan kita lebih dihargai sebagai sesama. Entahlah, saya harus bersyukur atau miris. Bersyukur karena bisa menjadi penyemangat saya belajar bahasa baru. Miris karena mengetahui bahwa masih ada saja orang yang mengkotak – kotakkan perbedaan manusia. Saya kira hanya orang – orang primitif yang melakukannya. Bahkan mereka yang melakukan adalah pemilik gadget tergaul kala itu.  A*n*j*i*n*g

Satu hal lagi yang saya sesalkan. Ternyata orang Jawa menganggap lucu dan unik orang dari luar Jawa. Tapi tidak berlaku bagi Madura. Semisal begini, orang Jawa lebih tertarik dengan orang Papua, Kalimantan, Sumatera, Bali, Lombok, Jakarta, Sunda (Maaf pengelompokannya random) daripada Madura. Okelah orang Madura berbeda dengan Jawa. Tapi apa sih, Madura masih bagian dari Jawa, Jawa Timur. Jadi dianggap tidak berbeda. Masih Jawa, tapi berbeda. Setingkat lebih rendah dari Jawa. Orang Jawa lebih tertarik mengetahui sisi lain atau seluk beluk daerah luar Jawa selain Madura. Yah ini hanya bisa kamu rasakan jika mengalaminya. Jika kamu orang Jawa, tentu akan mengelak. Sudahlah. Tapi saya paham tidak semuanya seperti itu.

 Berlanjut ketika kuliah, saya ditakdirkan di Surabaya. Kota besar industrialis yang semakin cantik sejak walikotanya ibu kita bersama. Kuliah di kampus yang dibanggakan Surabaya. Ketika saya ditanya kuliah dimana dan menjawabnya, maka orang – orang akan merespon “Wah hebat ya bisa kuliah di sana”. Wajah Surabaya sudah sangat multikomposisi. Jawa, tentu menjadi mayoritas disusul etnis Tionhoa, Arab, India, dan Madura. Sayangnya, orang Madura di Surabaya rata – rata mendiami pemukiman kumuh padat penduduk. Kamu bisa menemukannya di daerah Kenjeran, Jedong, Kalisari, bahkan di sekitarmu. Bagaimana bisa tahu? Banyak hal yang membuat saya bisa mengerti tentang pemukiman kumuh Surabaya. Seperti tugas kuliah, organisasi, membantu penelitian dosen atau sekedar jalan saja.

Belum lagi, ketika kuliah. Ada dosen saya yang juga punya streotip terhadap orang Madura. Apalah, beginilah. Itu belum seberapa. Okelah dosen bisa berbuat dan berkata apa saja. Dosen mah bebas (setuju kan para Mahasiswa hehe). Ketika saya ikut membantu penelitian salah satu dosen, lagi – lagi saya harus menerima streotip. Bukan dari dosen tersebut tapi dari partisipan. Penelitian dosen itu pengambilan datanya dalam bentuk FGD (focus group discussion). Ada beberapa partisipan yang akan diberi suatu topik untuk didiskusikan. Saya lupa topiknya. Tapi salah satu partisipan memberi contoh tentang orang Madura bla.. bla.. bla.. Saya ingat betul, pernyataan yang dilontarkan adalah stereotip negatif. Sungguh pedas sekali ucapannya. Saya sebagai orang Madura, hanya diam saja. Membiarkan partisipan tersebut berbicara tentang pendapatnya.

 Ini hanya sekedar cerita dari pengalaman subjektif saya. Sekali lagi, tidak semua orang sama. Ada beberapa teman saya yang dengan tulus meminta maaf kepada saya. Dia bilang, “Nun, maaf ya. Aku tuh sebenernya benci sama orang Madura. Soalnya orang Madura di deket rumahku itu orangnya kasar, suka teriak – teriak. Tapi pas aku kenal kamu ternyata kok enggak. Maaf ya”. Ini serius, dan bukan cuma satu yang bilang. Saya menerima pernyataan mereka. Tak apa. Saya rasa, untuk masalah “kasar” itu adalah watak dasar orang Madura. Memang bawaannya bersuara lantang. Namanya juga orang pesisir. Tapi entah mengapa, saya sendiri memiliki suara yang lirih dan pelan. Padahal saya orang Madura asli. Kadang saya juga kesal ketika lawan bicara tidak mendengar perkataan saya. Tuh kan, tidak semua orang Madura kasar.

Melalui tulisan ini saya ingin menyampaikan bahwa, tidak penting apa atribut yang melekat pada diri kita. Entah itu suku, kelas sosial, agama, atau pengkotakan lain. Allah sendiri sudah menjelaskan bahwa derajat seseorang ditentukan oleh ketakwaannya, bukan sukunya, bentuk tubuhnya, atau kelas sosialnya. Meskipun selalu ada kaitan antara diri dan kepribadian kita dengan apa yang menjadi atribut kita. Namun tentu tidak adil jika menjadikan suku, kelas sosial, bahkan agama untuk menghakimi, membully,  bahkan meremehkan orang lain. Apalagi merasa lebih baik. Aduh, sudahlah. Kalau ada yang tidak setuju saya bawa – bawa agama, silahkan. Boleh saja merasa agamamu paling benar. Tapi ingat kembali, yakin kamu bisa tetap memegang teguh ajaran agamamu sampai mati? Kamu wajib mengagungkan agamamu, menegakkan tiang agama. Tapi ingat, jangan sombong. Lakum dinukum waliyadin.

Terakhir, semoga saya, anda, kita semua husnul khotimah. Aamiin.


PS: Insyallah saya sudah memaafkan kalian yang pernah melakukan penistaan suku terhadap saya. Bahkan jika masih ada yang menyimpan stereotip negatif, saya sudah tidak masalah. Itu hak anda. Terima kasih sudah menjadi lahan pembelajaran bagi saya. Maaf jika ini terlalu berlebihan. NO SARA untuk Indonesia bersatu.

You Might Also Like

2 komentar

  1. maju terus pantang mundur, bersama kita bisa. eh kok malah mirip jargon politik ya hehe

    betul nun, hanya ketakwaan yang membedakan kita di hadapan Allah. Bagi Allah suku nggak penting, lhawong yang nyiptain suku ya Dia sendiri

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe iya lek.. Allah menyratkan di Alquran kita diciptakan bersuku - suku agar saling mengenal

      Hapus

Silakan berkomentar, terima kasih sudah menyampaikan dengan sopan :)

My Instagram

Instagram