Jadi Penonton Pertama Film Posesif, Why Not?

21.39

sosmed post nobar posesif

I love film. I love Adipati Dolken. Film with Adipati as a cast, why not?
Lupakan sosok Keenan di Perahu Kertas. Kamu akan menemukan lapis-lapis kepribadian yang unik pada karakter Yudhis. Meski ceritanya sama-sama tentang cinta, ini kisah cinta yang berbeda. Ini tentang cinta pertama. Cinta yang kata orang paling susah dilupakan, selalu terkenang. Apa yang kamu ekspektasikan tentang cinta pertama? Malu-malu, menyenangkan, indah, atau apapun. Ekspektasikan sebebas-bebasnya. Kamu bisa bernostalgia dengan cinta pertamamu di film ini. Tidak dengan Adipati Dolken, maksudnya nostalgia kenangannya aja.

Aku udah tahu film ini sejak Bang Dodot (panggilan Adipati) sering posting foto Putri Marino. Sebenernya agak curiga, apakah mereka pacaran. Eh ternyata syuting bareng film Posesif.

instagram.com/adipati
Yak sebelum ada info tentang film posesif, siapa yang gak curiga kalo post fotonya begitu dan captionnya rada-rada sendu. Tapi mereka cocok sih hehe. Judul filmnya bikin penasaran, dan rasa-rasanya sayang untuk melewatkan film ini. Maka, aku menunggu dengan sabar kapan film ini tayang. Ternyata tayangnya 26 Oktober 2017. Ketika ada posting tentang penanyangan film Posesif di kampusku, maka antusias sekali akunya. Aku harus nonton. Apalagi setelah nonton ada sesi diskusi bareng sutradaranya, top!

                         "Ini cinta pertama Lala, Yudhis ingin selamanya"

Yup ini adalah kisah cinta pertama bagi Lala (Putri Marino). Cinta pertamanya adalah Yudis (Adipati Dolken), murid pindahan di sekolahnya. Agak klise sih kisahnya. Cinta-cintaan masa SMA dengan murid baru yang ganteng.  Tapi tenang, masih ada sederet cerita yang bikin film ini beda dari kisah-kisah umumnya. Kalo kalian sudah liat trailernya, mungkin sedikit tahu bahwa Lala adalah atlet lompat indah. Ya, itu salah satu yang menjadi pembeda dari cerita lainnya.

Rata-rata kalo film cinta-cinta SMA, kita akan menemukan tokoh perempuan yang kalo feminim ya feminim. Dandan cantik, ikut cheerleaders, girly abis lah. Kebalikannya, kalo tomboi ya tomboi. Mostly, olahraga yang dipilih pasti akan gak jauh dari basket. Umumnya sih begitu. Tapi Lala, adalah seorang atlet lompat indah yang selain kuat lari 5 kilometer, mampu lompat dari ketinggian dengan indahnya, juga bisa dandan cantik saat hangout bareng teman atau kencan sama Yudhis. 

Lompat indah masih jarang diangkat ceritanya dalam sebuah kisah film. Ketika ditanya kenapa memilih lompat indah, si sutradara senyum-senyum.


  "Ya itu seninya sih. Ceritanya lompat indah karena ada filosofinya sendiri. Cinta itu seperti kita melompat dari ketinggian. Saat jatuh, mungkin sakit. Tapi bukan rasa sakit itu yang jadi poin utama. Justru bagaimana kita bisa melompat lebih tinggi lagi dari sebelumnya."


Kalo memahami konteks yang diutarakan tentang filosofi lompat indah, rasa-rasanya kok nyentil salah satu aspek psikologi ya. Aku jadi inget tentang resiliensi.  Resiliensi dalam psikologi itu bagaimana kita bangkit dari suatu masalah dan bisa menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya. Dan nilai resiliensi itu sendiri bisa kita resapi di film Posesif ini.

Selain itu, ada banyak nilai-nilai lain yang bisa diresapi pada film Posesif ini. Film ini memang bergenre cinta remaja SMA. Tapi tidak selalu menonjolkan sisi remaja. Ada penayangan latar belakang keluarga, sahabat, sampai komunitas. Ini yang menjadi poin penting. Kalo kamu mau bikin karya tentang remaja, penting untuk menampilkan latar belakangnya. Remaja dikenal dengan usia pencarian jati diri. Masa-masa pembentukan identitas tentu saja dipengaruhi oleh latar belakangnya.

Well, aku gak mau spoiler. Tonton aja, gak rugi deh.  Kisah cinta ini gak biasa. Tapi mungkin kamu bisa menemukannya dalam kehidupan sehari-harimu. I know someone like Yudhis. I know someone like Lala. I have someone like Ega, also Rino. Bisa jadi karakter-karakter itu ada dalam keseharian kita. Atau bisa jadi, ada seseorang yang seperti mereka tapi kita tidak tahu. Atau bahkan, kamu adalah salah satu karakter di film ini.


Alur emosinya seru. Aku sempet senyum-senyum tersipu malu sama tingkah manis Yudhis. Sempet mau nangis juga karena terbawa alurnya, tapi aku tahan kuat-kuat biar gak nangis. Karena gak lucu aja kalo pas lampu dinyalain lagi tahu-tahu mataku sembab. Ada tawa juga yang meledak sore itu. Macam-macam emosi, dan kesemuanya jadi selaras serasi dalam satu karya harmoni. Indah.


Aku sempet nanya ke sutradaranya, kenapa milih Adipati sebagai cast, padahal kan Adipati sudah terlalu tua untuk memerankan anak SMA jaman now. Kenapa gak milih artis yang masih usia relevan. Soalnya ada di beberapa scene menampilkan dengan jelas garis kerutan di dahi Yudhis. Tapi tetep keren sih hehe.


"Kalo yang terbaik adalah Adipati, ya saya yakin dia bisa memerankan jadi anak SMA jaman sekarang. Meski usia aslinya 25 tahun saat itu. Tapi cocok cocok aja kan?"


Iya sih badboy, aku menimpali langsung.  Ya, aku bisa nanya dan langsung menimpali karena mas Edwin duduk persis di hadapanku. So close, so intimate. Kami nobar di ruang 207 (meski di poster tulisannya 309), yang biasanya jadi ruang kuliah S2. Ruangan itu cuma berkapasitas 30an, dengan LCD dan proyektor ala kuliahan. It's a good film, good journey

instastory @palarifilms


Bagiku, film adalah sebuah perjalanan. Film tidak lantas berhenti saat layar menampilkan credit title. Perjalanan film ini akan berlangsung terus menerus dalam memori kita. Entah itu nantinya akan membawa pengaruh baik atau bahkan buruk. That's why, penting untuk menyikapi nilai-nilai dalam film secara bijaksana. Posesif akan menjadi perjalanan yang menyenangkan dalam memori kita. So, catat ya 26 Oktober 2017 di bioskop. Sorry aku udah nonton duluan :P






Sungkem.
Keep passionately happy :)

You Might Also Like

0 komentar

Silakan berkomentar, terima kasih sudah menyampaikan dengan sopan :)

My Instagram

Instagram