Hijabku yang Jauh dari Sempurna

00.43




Entah dari mana aku harus memulainya. Topik tentang perempuan, apalagi muslim, selalu saja menjadi ketertarikan publik. Sayangnya, publik selalu menyorot topik tentang perempuan sebagai "objek", jarang sekali memandang dari sudut pandang "subjek".

Well, saya akan kerucutkan saja untuk membahas masalah hijab. Ini tentang perjalananku bagaimana memakai hijab. No, it's not about hijab tutorial on my own style. Ini kisahku yang tak sempurna.


Kalau ditanya kapan pertama kali memakai hijab, aku benar-benar lupa. Aku sendiri sudah belajar ngaji sejak TK. Tentu saja kalau  ngaji, otomatis memakai baju muslim dan hijab. Namun tidak berarti dalam keseharian aku juga selalu berhijab. Tidak. Paling-paling ya ketika lebaran, pakai baju muslim yang kebanyakan motifnya kotak-kotak. Seragam TK waktu itu juga rok selutut, kecuali hari Jumat memakai batik yayasan dan kerudung instan. Bagi siswa laki-laki memaki peci.

Pernah suatu hari Jumat, aku tidak memakai kerudung seragam. Guruku menanyakan, "Kenapa gak pake kerudung?". Aku tidak menjawab, hanya memandang guruku dan menggeleng saja. Ya, aku memang punya masalah komunikasi dan interaksi saat anak-anak. Kemudian guruku memarahi, "Kamu kalo gak pake kerudung, mau jadi laki-laki?". Responku saat itu adalah.. tidak ada. Hanya memandangi saja guruku. Seperti tidak peduli dengan perkataan guru, tapi otakku berpikir keras. Buset, bagaimana bisa aku jadi laki-laki hanya karena tidak memakai kerudung. 

Padahal alasanku tidak memakai kerudung waktu itu karena melihat teman laki-laki yang  juga tidak memakai peci. Kebetulan dia satu becak sama aku. Dulu anak TK antar jemputnya pakai becak (Itu di Sampang sih). Melihat dia tidak berpeci, aku berkesimpulan untuk tidak berkerudung. Pikirku, mungkin memang sedang tidak diwajibkan. Begitu sederhananya pemikiranku dulu. Anehnya, si temanku tadi yang tidak berpeci juga dimarahi tapi tidak diancam akan menjadi perempuan. Logika kekanakanku kala itu belum bisa mencerna bagaimana bisa guruku berkesimpulan demikian. Mungkin karena aku begitu memikirkannya, sampai-sampai bagian itu yang paling kuingat dari memori masa TK.


Ketika SD pun aku masih memakai seragam putih merah dengan rok selutut. Konsep hijab bagiku masih sebagai seragam ngaji dan madrasah diniyah di sore hari. Jadi ya pagi pakai seragam SD, pulang ganti baju santai, siangnya pakai seragam madrasah diniyah, dan malamnya mengaji. Madrasah diniyah itu sekolah khusus agama, jenjangnya sama seperti SD dari kelas 1 sampai 6.  Oh oke, saya tidak sereligius itu kok. Biasa saja.


Nah masalah bermula ketika aku memasuki bangku SMP. Yah sebagaimana tahap perkembangan, SMP adalah masa remaja. Masa remaja dan dinamika pubertasnya, dalam Islam istilahnya disebut akil baligh. Di situ perdebatan mulai muncul. Aku inginnya tidak memakai hijab saat SMP. Karena aku merasa masih kecil, dan literally kecil (baca: pendek). Bagiku, kalau aku memakai hijab dengan postur tubuhku yang pendek sangatlah tidak pantas. Jadi, aku bilang sama Bapak untuk tidak memakai hijab. Bapakku memperbolehkan. Beliau setuju sama alasanku. Tapi harapan itu jadi sia-sia saat aku mencoba nego sama ibuku. Ibu menolak dengan keras,  alasannya karena aku sudah akil baligh.  Saat itu aku memang sudah menstruasi, tapi postur tetap seperti anak SD. Bagi Ibu, mau seperti apa pun posturku kalau sudah akil baligh ya pakailah hijab. Negosiasi tidak berhasil. 

Yah, akhirnya aku mengalah. Ibuku bukan orang yang bisa diganggu gugat soal agama. Beruntungnya, saat itu SMP ku punya kebijakan baru soal seragam. Setiap siswi wajib berseragam lengan panjang dan rok panjang. Karena kebijakan itu, banyak temanku (perempuan) yang memakai hijab saat di sekolah. Alasannya karena kurang bagus saja kalau lengan panjang dan rok panjang tapi tidak berhijab, jadi sekalian saja berhijab. Meskipun sepulang sekolah hijabnya ditanggalkan dan kembali memakai baju-baju biasa. Saat SMP pun ketika sudah akil baligh, aku tetap memandang hijab sebagai seragam.

Perubahan mulai terasa saat memasuki kelas 9. Saat itu wali kelasku menyarankan kami belajar berhijab bukan sekedar untuk seragam. Kebetulan waktu itu adalah momen Ramadan. Beliau berkata, jadikan momen Ramadan sebagai media belajar untuk istiqomah berhijab. Sebenarnya saat itu, sama sekali tidak mempan bagiku. Aku tetap keluar rumah tanpa hijab dan sebagainya. Baru ketika Ramadan kala itu berakhir, aku mulai mencoba berhijab di luar sekolah. 


Sampai akhirnya di kelas 9 itu aku mulai terbiasa berhijab. Meskipun ketika ada teman laki-laki datang ke rumah, aku masih memakai kaos pendek dan celana cekak*. Kala itu aku benar-benar merasakan feel berhijab. Tapi hanya bertahan beberapa bulan. Saat dharmawisata perpisahan SMP, aku kembali melepas hijabku. Alasannya? To be honest, gara-gara cowok. Oke, sesungguhnya cowok itu adalah alasan mengapa aku memakai hijab. Maka ketika sudah putus hubungan dengannya, aku merasa ya sudah. Tidak ada alasan lagi memakai hijab. Atau mungkin itu semacam bentuk pemberontakan secara tidak langsung dariku kepada yang bersangkutan. Yah, meskipun sepertinya dia sudah tidak peduli. Meski begitu, aku masih mencoba memakai lagi hijabku. Tapi lagi-lagi aku melepasnya kembali karena alasan yang sama: cowok. Setelah putus hubungan dari yang sebelumnya, aku mendapat pengganti yang entahlah. Dia merayuku seperti ini,

"Kamu cantik deh, tapi lebih cantik kalo gak pake kerudung"

Sebenarnya dalam hati saya mengumpat cowok itu. Enak banget ya bilang gitu. Padahal cowok sebelumnya membuatku memakai hijab, kenapa yang ini malah nyuruh ngelepas. Awalnya aku gak mau, tapi lama-kelamaan ya bablas saja.

Hmm sudah kubilang sebelumnya bahwa aku tidak sereligius itu. Aku juga pernah pacaran, dulu. Sekarang sih, jomblo ehe.

Well, mungkin dari kisahku ini terlihat bahwa imanku sangat cethek**. But hey, i'm human being. Silahkan hina imanku yang sebatas bergantung pada laki-laki. Silahkan hina pemahamanku tentang hijab yang sebatas seragam. Itu adalah masa laluku, dan akan tetap mejadi bagian dari diriku. Silahkan hina, aku terima.

Aku juga pernah mengalami bongkar-pasang hijab. That's why ketika mengetahui seseorang yang memutuskan untuk melepas hijabnya, aku pun merasa flashback pada kisahku sendiri. Aku tidak bisa menghujatnya. Meski aku tahu betul, kewajiban seorang muslimah adalah menutup auratnya. Memakai hijab adalah kewajiban, bukan pilihan. Itu adalah hukum dalam agama Islam. Bagaimana aku bisa menghujat, sementara alasanku melepas hijab dulu adalah sesepele karena laki-laki yang sekarang sudah tidak bersama saya lagi. Terlalu remeh. 


Aku mengetahui beberapa muslimah yang memtuskan melepas hijabnya, bukan hanya yang baru saja diberitakan. Ada beberapa perempuan baik public figure maupun orang-orang di sekitarku yang memutuskan untuk melepas hijabnya.  Alasannya bermacam-macam, ada yang tentang "pencarian", merasa lebih nyaman, atau sama sepertiku: karena laki-laki.

Bagiku, itu adalah ujian iman. Mereka adalah orang yang mungkin sedang kebingungan akan imannya, keyakinannya. Tugas kita adalah mensupport mereka untuk kembali. Bukan menghujat dan melaknat saudara kita sendiri, apalagi menghakimi murtad. Naudzubillah

Supportlah mereka. Bimbinglah mereka. Tetap yakinkan tanpa harus menghakimi atau menggurui.

Kalau tidak bisa?

At lease, kita sudah berusaha mengajak mereka untuk kembali. Masalah hidayah datangnya tetap dari Allah. Tugas kita adalah menyampaikan walau hanya satu ayat. Satu ayat itu bisa direpresentasikan dalam bentuk support, pemahaman, diskusi sehat, dan sebagainya.


Lalu bagaimana aku bisa berhijab hingga saat ini? Seperti yang aku katakan, hidayah datangnya dari Allah. Aku kembali merasakan feel berhijab ketika SMA, saat di pesantren. Siapa lagi yang menakdirkanku masuk pesantren kalau bukan Allah. Meskipun dengan latar belakangku yang ah yasudahlah. Tapi, aku juga sempat berpikir untuk kembali melepas hijab. See, ini bukan tentang atribut apa yang melekat pada dirimu. Ini tentang iman. Aku memang lulusan pesantren tapi pernah berpikir untuk melepas hijab. Namun Alhmadulillah Allah masih melindungiku. Setiap kali pikiran itu datang, aku berdoa memohon perlindungan kepada Allah untuk kembali dikuatkan iman.

Kalau bukan karena Allah, siapa lagi. Hijabku memang belum sempurna. Setidaknya, aku akan terus berusaha mempertahankannya. Bismillah.





Sungkem.
Keep passionately happy :)





________________________
*pendek
**dangkal

You Might Also Like

0 komentar

Silakan berkomentar, terima kasih sudah menyampaikan dengan sopan :)

My Instagram

Instagram