Balada Seorang Penulis

17.52

Ada dua jenis penulis, yang butuh cinta dan yang tidak butuh cinta.


sumber



Hah, maksudnya?

Entah mengapa, aku jadi tergelitik oleh cerita dari seorang temanku. Intinya, temanku punya gebetan. Sayangnya gebetannya adalah tipe yang tidak ingin berpacaran karena doi merasa perempuan adalah pengganggu. Si Gebetan itu adalah seorang penulis. Doi sering menulis puisi. Seperti kebanyakan pujangga, dia adalah tipe yang mendapatkan inspirasi saat malam hingga dini hari. Otomatis, ketika doi memiliki seorang kekasih dan belum tidur hingga larut maka si kekasihnya akan menelpon terus-terusan. Doi akan mengeluh karena tidak bisa menulis puisi, terganggu oleh kekasihnya yang selalu minta untuk bertelepon hingga tidur. Doi merasa kesal. Sehingga doi memilih untuk tidak berpacaran saja agar tidak terganggu untuk menulis puisi setiap malam.


Lalu? ya itulah dia, alasan kenapa temanku curhat. Dia galau karena menyimpan perasaan pada doi, namun doi tidak ingin berpacaran. Di sisi lain doi menujukkan sinyal-sinyal yang berbeda seolah itu adalah harapan. Eaa. Problematika anak muda, wajarlah. 

Di tengah perbincangan (curhat) itu aku dan temanku sepakat bahwa,

 perasaan penulis itu seharusnya kalo punya pacar bukannya malah terinspirasi terus ya, malah kan gampang nulisnya jadi ngalir?

Kami punya pemikiran yang sama. Karena, ya itulah yang aku alami. 


Dulu ketika masih merasakan jatuh cinta (meskipun ngenes), inspirasi menulis mengalir begitu derasnya. Aku menjadi makhluk yang sangat melankolis dan mampu mengubah rasa menjadi kata. Well, dulu aku berharap sekali bisa move on dari perasaan itu karena sangat menyiksa. Menjadi seorang perempuan yang menyimpan perasaan dalam diam, dan melihat dia memiliki komitmen dengan perempuan lain adalah rasa yang.... tidak perlu dijleaskan lah ya. Sayangnya, ketika rasa itu sudah hilang aku menjadi kehilangan inspirasi. Rasa-rasanya tidak ada lagi yang bisa dijadikan acuan untuk melebur bersama aksara. Ah, hampa. Hambar. Aku tidak lagi bisa menulis puisi maupun cerpen. Kalaupun bisa, rasanya memaksa. Kurang hidup, tidak ada perasaan di dalamnya.


Ya, begitulah. Itu kenapa selama ini aku hanya menulis artikel dan blog. Keduanya jenis tulisan itu minim melibatkan perasaan, kebanyakan melibatkan pengalaman, data dan fakta. Sudah. Rasanya ketika aku mencoba (lagi) menulis puisi atau cerpen seperti jijik melihat karyaku sendiri. Mungkin memang si gebetan temanku adalah tipe penulis puisi yang isinya bukan cinta-cintaan. Makanya, lancar aja menulis tanpa inspirasi kekasih.


Mungkin aku hanya perlu membiasakan diri lagi untuk menulis dengan perasaan. Aku tidak mungkin memaksa diriku untuk jatuh cinta lagi. Karena cinta itu anugerah dari Allah. Allah yang mengatur. Aku tidak perah tahu kapan dan pada siapa rasa itu hadir.



Sesungguhnya aku rindu bertutur sendu. Terima kasih kepada dia yang telah menjadi inspirasi selama ini. Eh terima kasih juga untuk temanku yang curhatnya kujadikan bahan buat nulis hehe. Baca tidak ya?




Sungkem
Keep Passionately Happy :)

You Might Also Like

2 komentar

  1. Saya pernah iseng nulis cerpen, emang iya sih...beda banget sama nulis non-fiksi seperti esai. Perlu penghayatan tingkat dewa. Karenanya saya lebih seneng nulis esai daripada fiksi.

    Tapi tetap aja sih, perlu sesekali nulis fiksi buat ngelatih imajinasi.

    Tetep semangat menulis y 👍

    Salam kenal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah ya. Butuh perasaan banget kalo fiksi hehe.

      Yuhuu.. semangat juga nulisnya. Salam kenal

      Hapus

Silakan berkomentar, terima kasih sudah menyampaikan dengan sopan :)

My Instagram

Instagram