2018 in Review [Traveling, Writing, Self Developing]

20.00

Tahun 2018 telah berakhir. Di tahun lalu, saya membuat post tentang tulisan apa saja yang dibuat selama 2017. Tahun ini, tidak hanya menulis, tapi tentang hal lain juga seperti traveling dan pengembangan diri. Baiklah kita mulai dari traveling dulu, lanjut writing dan self developing. Ini lagi-lagi sebagai bentuk refleksi diri, apa yang sudah saya capai selama satu tahun. Bisa saja, saya menjadi bersyukur karena telah mencapainya atau menjadi berbenah diri memperbaiki yang belum maksimal. Sesungguhnya draft ini sudah ada sejak akhir tahun. Hanya saja saya begitu prokas untuk melanjutkan tulisannya :)
Traveling

Traveling-it leaves you speechless, then turns you into a storyteller [Ibnu Batuta]


Januari-Februari: Singapura 






Singapura

Solo traveling pertama kali ke luar negeri. Yah, basic sekali sih. Namun tentu saja, yang pertama selalu berkesan. Singapura semacam jadi bantu loncatan untuk melangkah ke negara-negara lain. Dari pengalaman ini pula, saya bisa mengevaluasi apa-apa yang sekiranya harus dipersiapkan ketika hendak traveling, khususnya ke luar negeri.

Maret: Banyuwangi
Pantai Syariah Banyuwangi

Ini adalah trip yang tidak direncanakan sebelumnya. Waktu itu teman saya (Renika) yang berasal dari Banyuwangi sedang ke Surabaya untuk tes ELPT (semacam TOEFL prediction UNAIR). Dia kemudian menawarkan untuk jalan-jalan ke Banyuwangi dan menginap di rumahnya. Saya mudah tergoda. Ditambah lagi, dia menunjukkan web pariwisata Banyuwangi yang memberi fasilitas tour gratis ke beberapa wisata populer Banyuwangi. Saya semakin tergiur.

"Ke Banyuwangi lah, sekalian anterin hasil ELPT-ku"

Kebetulan juga kami mendapat undangan pernikahan salah satu teman seangkatan (Arin) di Banyuwangi. Maka, trip Banyuwangi  adalah kombinasi antara mengantarkan nilai ELPT  milik Renika dan menghadiri pernikahan Arin.

Sunrise di pantai barat Pulau Mandangin

Pulau Mandangin adalah pulau kecil yang terletak di selatan pulau Madura. Secara administratif, pulau Mandangi termasuk dalam bagian Kabupaten Sampang. Sebagai seorang native Sampang, sebelumnya saya tidak pernah ke pulau Mandangin atau pulau Kambing atau orang Sampang menyebutnya Gilih. Well, kunjungan saya ke pulau Mandangin karena diajak oleh kakak kelas saya untuk mengambil data skripsi di sana. Penelitiannya tentang pernikahan dini perempuan di Pulau Mandangin. Saya diajak ke sana sebagai penerjemah. Kami menginap di rumah warga, dan tentu saja tidak melewatkan sesi menikmati keindahan pesona misteri pulau Mandangin.


Juli: Malang
Ini adalah trip rahasia dan tanpa rencana. Saya bahkan tidak menuliskan trip ini di blog. Mungkin ini hanya kunjungan biasa. Tidak ada kunjungan ke tempat wisata. Hanya sebatas ngopi dan makan. Kebetulan saat itu saya sudah proses menyebar kuesioner online untuk data skripsi. Pada fase ini, mahasiswa bisa sedikit lega. Namun, tentu saja tidak sepenuhnya bisa leha-leha. Entah bagaimana, saya merasa rindu dengan almarhumah sepupu saya di Malang. Di momen peringatan kematian (haul) sebelumnya, saya tidak sempat hadir. Akhirnya saya memutuskan berziarah ke makamnya di Malang. Berangkatlah saya ke Malang sendiri. Untuk pertama kalinya mencoba kereta lokal. Pernah sebelumnya dari Malang ke Surabaya naik Jayabaya seharga 30.000. Sedangkan untuk kereta lokal ini, saya mendapatkan harga 12.000. Sayangnya berdiri, tiket duduknya sudah penuh. Bukan masalah besar, toh banyak juga yang senasib dengan saya. Setelah selesai ziarah, saya menghubungi teman di Malang, Fatin. Dia juga punya blog di sini. Fatin mengundang saya ke rumahnya. Akhirnya, kunjungan Malang kali ini adalah silaturahmi. Silaturahmi kepada yang telah pergi dan kepada yang masih di bumi.


November: Jakarta, Malaysia, Vietnam, Singapura
Dimulai dari penerbangan dari Surabaya ke Jakarta. Saya naik Air Asia. Kenapa ke Jakarta? Karena tujuan saya adalah Ho Chi Minh, untuk Voluntir. Maskapai Air Asia untuk rute menuju Ho Chi Minh berangkat dari jakarta. Akhirnya saya memutuskan untuk stay sehari di Jakarta untuk sekedar jalan saja.  Memangnya tidak ada penerbangan dari Surabaya ke Ho Chi Minh? Ya ada, pakai Scoot. Jatuhnya tidak jauh beda harganya. Hanya saja pada trip kali ini saya ingin merasakan maskapai yang berbeda. Itu saja sih. Maskapai dari negara provider beda, akan transit di negara yang berbeda pula. Lumayan buat nambah pengalaman bandara.

Penerbangan pertama dari Surabaya ke Jakarta pukul 05.00. Yah, subuh. Sampai di Bandara Soetta dengan mulus. Ini pertama kali saya ke Soetta sekaligus pertama kali juga ke Jakarta seumur hidup haha. Di sini saya juga eksperimen transportasi dari dan ke bandara. Dari bandara ke kota, saya mencoba bus Damri. Sebaliknya, dari kota ke bandara saya naik kereta bandara. Bus dari Bandara ke kota seharga 40.000 dan tiket kereta bandara seharga 70.000. Keduanya sama-sama memberikan kenyamanan, dalam bentuk yang berbeda. Tentu saja jika sedang terburu, maka kereta adalah pilihan terbaik karena tidak akan terjebak macet. Tempat - tempat yang saya kunjungi di Jakarta sangatlah basic. Hanya seputar monas, glodok, dan kota tua. Kota tua merupakan bagian favorit saya.

Besoknya saya menuju terminal 3 Soetta untuk terbang ke Ho Chi Minh. Saya beruntung, kala itu Air Asia masih beroperasi di terminal 3 Soetta. Untuk saat ini, Air Asia sudah kembali ke terminal 2 Soetta. Setidaknya saya mash bisa merasakan keindahan terminal 3 Soetta yang dibicarakan orang-orang karena terbilang baru. Sayangnya, saya tidak terlalu eksplor karena sudah terburu sama penerbangannya. Bahkan saya belum sempat sarapan (nasi), cuma makan roti yang dibeli semalam. Sampai di KLIA saya buru-buru check in lagi menuju ke Ho Chi Minh. Bodohnya saya memilih tiket terusan yang jam nya berdekatan. Jadinya begitu terburu-buru di bandara. Belum sarapan maupun makan siang, kebetulan sudah jam 11 waktu Malaysia. Akhirnya saya mengganjal perut di kafe dekat gate, nama kafenya Gloria Jean's. Karena tidak sempat menukar uang apa pun, akhirnya pakai Jenius. It works dan rate-nya masuk akal.

"Bisa bayar pake Visa?"
"Boleh. Nak order apa?"

Begitulah kira-kira percakapan saya dengan pramusaji. Kami sama-sama berbicara dalam bahasa masing-masing dan paham. Love-hate relationship Indonesia-Malaysia.

Kelar makan, setelah beberapa lama kemudian boarding gate menuju Ho Chi Minh dibuka. Antriannya kala itu mengular. Saya baru sadar, barusan minum kopi. Itu bikin gak bisa tidur di pesawat :( Sempat mual-mual juga ketika landing. Saya berusaha sekuat tenaga agar tidak muntah. Untung ada mbak baik yang ngasih saya kresek, jaga-jaga kalo mau muntah. Dari perawakannya sepertinya dia orang Vietnam. Cerita selanjutnya bisa baca di sini.

Writing
Februari: Puisi Pendidikan
from jejakpublisher.com

Ini adalah buku antologi puisi dari lomba menulis puisi yang diadakan oleh Jejak publisher.

Mei: Berjuta Cerita Bersama Ibu

from bitread.id
Kalo buku ini, saya diajak tante saya untuk menulis pengalaman atau berkesan bersama ibu.  Saya merasa tertantang, karena harus menulis cerita berdasarkan kisah nyata tentunya.

Juni: Antologi Cerpen Hold My Hand
from jejakpublisher.com

Nah ini semacam bonus saja. Pasalnya, saya menulis cerpen ini di 2017, bahkan sudah diterbitkan pula di situs penerbitnya. Hanya saja, di tahun 2018 Jejak Publisher membukukan cerpen terpilih selama 2017. Salah satu yang terpilih itu adalah cerpen saya yang berjudul Perempuan Etanol.


Self Developing
Guru-guru juga bermain :D (Ini foto farewell)
Januari-Juli: Magang di Paud Anak Ceria
Sebenarnya, di awal tahun 2018 saya sudah berniat mau fokus skripsi. Eh, ada teman saya yang mengajak untuk magang di PAUD Anak Ceria. Saya mikir panjang. Lalu memutuskan untuk mencoba saja. Entah mengapa saat itu berpikir, yasudah coba saja toh belum tentu diterima. Dan ternyata diterima. Saya menerima konsekuensi bahwa waktu saya harus terbagi antara menjadi guru magang, kuliah dan berproses dengan skripsi. Awalnya saya berpikir, bisa lah. Biasanya juga kuliah nyambi organisasi dan magang tetap bisa. Ternyata di sini tantangannya lebih berat. Yang saya hadapi bukan komputer, tapi manusia. Terlebih, mereka adalah anak usia dini. Energinya meluap untuk mengeksplor dunia baru. Saya mau tidak mau harus mengimbanginya. Belum lagi urusan skripsi, ternyata juga menguras energi. Bukan hanya capek fisik,tetapi juga hati, pikiran, semuanya. Namun tentu saja, magang di PAUD ini benar-benar memberikan saya banyak pelajaran. Banyak sekali ilmu yang saya dapatkan di sini. Fokus utamanya tentu saja tentang menghadapi anak. Tidak hanya anak tipikal tapi juga anak berkebutuhan khusus karena lembaga ini merupakan sekolah inklusi. Di titik ini saya berusaha untuk life balance. Saya berusaha mencari pada mode seperti apa saya bisa balance. Kadang berhasil, lebih banyak gagalnya haha.
 
Maret: Pembicara di kelas literasi BEM

poster kelas literasi

Ini semacam entah apa sebutannya. Saya diundang oleh SSD BEM KM Psikologi UNAIR untuk menjadi pembicara kelas literasi. Program ini memang diadakan untuk menjadi pemicu mahasiswa agar melek literasi. Yap, saya diundang sebagai pembicara untuk kepenulisan umum. Kebetulan, acaranya hari Senin. Itu adalah hari di mana saya baru pulang dari perjalanan Banyuwangi. Wajah capeknya masih terlihat. Namun saya suka, bisa berbagi ilmu , informasi dan  pengalaman kepenulisan.  Meski ilmu saya tidak seberapa. Ada dua cara mengikat ilmu, pertama yaitu dengan menuliskannya, kedua dengan membagikannya. Semoga ini juga menjadi upaya saya dalam mengikat ilmu.


Agustus: Daftar BBW
Sebelumnya saya berdoa kepada Allah agar diberikan rizki untuk voluntir ke Vietnam. Kemudian ketika lagi kumpul sama teman, salah satu dari mereka memberikan informasi tentang open crew recruitment BBW Surabaya. BBW singkatan dari Big Bad Wolf, yaitu event tahunan bazar buku skala internasional. Buku yang dijual adalah buku-buku impor dengan harga miring. Ada juga buku lokal, tapi dari lini penerbit Mizan. Entah mengapa hati saya tergugah. Mungkin ini jawaban Allah. Saya mencoba daftar di detik terakhir. Ternyata mau daftar saja perjuangannya cukup rumit.  Ribetnya di pengurusan dokumen sih, ada SKCK, surat domisili dsb. Awalnya mau nyerah aja, tapi entah kekuatan dari mana saya tetap bertahan. Sampai akhirnya saya lulus berkas, ikut seleksi wawancara. Beberapa lama kemudian, mendapat pengumuman bahwa saya resmi menjadi crew BBW Surabaya 2018. Alhamdulillah.

September-Oktober: Kerja di BBW
Crew Kasir-Packer BBW SBY 2018 night shift

Resmi diterima. Kurang lebih bekerja selama 3 minggu di event ini. Saya terdaftar sebagai packer, seorang yang bertugas membungkus belanjaan pelanggan, berpartner dengan kasir. Namun, dari pihak BBW menugaskan kami bergantian tugas selang hari antara kasir-packer. Ya, 2 pengalaman sekaligus. Kasir dan packer. Pun karena saya ambil shift malam, terkadang juga ditugaskan ke floor maupun storage. Ya intinya ngurusin buku-buku.

November: Voluntir!

Vietnam, negara tujuan saya untuk voluntir. Cerita tentang voluntir di Vietnam bisa dibaca di sini

Desember: Kembali merakit asa.
Yap, kembali merakit asa. Sepulang dari Vietnam, saya kembali pada realita. Ada kewajiban yang harus diselesaikan: skripsi. Alhamdulillah saya bisa menyelesaikannya. Ada bantuan dari Allah, melalui kemurahan hati banyak pihak. Terima kasih kepada yang telah membantu saya dalam segala aspek. Meski sidangnya Januari 2019, tak apa. Setidaknya saya telah mengupayakan segalanya. Terima kasih juga untuk diri saya sendiri, sudah berjuang dan bertahan sejauh ini.


Semoga di tahun yang baru bisa menjadi lebih produktif dan memberikan manfaat sekurang-kurangnya pada diri sendiri, lebih-lebih pada orang lain. Apapun yang terjadi, semoga tetap berjuang dan bertahan. Sesungguhnya Allah bersama kita :)


Sungkem.
Keep Passionately Happy :)

You Might Also Like

0 komentar

Silakan berkomentar, terima kasih sudah menyampaikan dengan sopan :)

My Instagram

Instagram