Menemukan Kehangatan dari Ibu Penjual Tawwa di Red Sand Dunes

08.00

 Kelanjutan dari post sebelumnya di White Sand Dunes.

 Hujan masih mengguyur. Perjalanan tetap berlanjut. Perjalanan selanjutnya menuju Red Sand Dunes. Hawa dingin menyerang. Jaket dan jas hujan yang saya kenakan seolah tak cukup menghadang. Saya duduk di bagian pinggir jeep, dekat jendela yang tanpa dilapisi kaca. Percikan hujan otomatis mengenai wajah dan tubuh saya. Tak apa, kapan lagi saya hujan-hujanan.

 Beberapa menit kemudian kami sampai di Red Sand Dunes. Di sini tidak seperti di White Sand Dunes yang menyediakan jasa ATV untuk naik ke puncaknya. Jadilah kami hiking di Red Sand Dunes. Sebenarnya tidak terlalu tinggi, hanya seukuran bukit. Namun, mungkin karena saya sudah lama tidak beraktivitas fisik atau panjat memanjat, maka agak effort mendakinya.

Red Sand Dunes

Kebetulan sekali saat di Red Sand Dunes, dengan kondisi kedinginan dan hujan-hujanan, ada ibu penjual tawwa (kembang tahu) di sana. Harganya cukup terjangkau, 10.000 VND. Cukup untuk menghangatkan tubuh dan mengganjal perut yang sedari subuh belum terisi. Paduan tahu lembut dan hangatnya jahe membuat saya merasa savour to the max. Căm ơn Bác (terima kasih, bibi).
Malaikat yang dikirim Tuhan untuk menghangatkan saya :D

Oiya, di sini ada penyewaan papan seluncur. Jadi kita bisa merasakan sensasi meluncur di gurun pasir. Hanya saja yang banyak mencoba adalah anak-anak. Kalau saya sih, nguapain hehe.

2 destinasi tour sudah disinggahi. Masih ada 2 destinasi lagi yakni, Fisherman Village dan Fairy Stream. Setelah dari Red Sand Dunes, kami lanjut ke Fisherman Village atau bahasa gaulnya adalah kampung nelayan. Bau amis ikan sudah tercium sejak di parkiran. Sebenarnya destinasi yang kami kunjungi lebih tepat disebut sebagai pasar ikan. Saat saya ke sana, tepat di pinggir pantai, banyak terdapat penjual berbagai jenis ikan. Harganya murah sekali. Mas Adit (travelmate di Mui Ne) sempat bertanya harga sekilo lobster. Ternyata harga yang diberi untuk satu kilo lobster adalah 500.000 VND. Entah ini satu kilo atau satu ekor besar maksudnya. Yah, bagaimana pun saya tidak membelinya karena terburu oleh durasi tour.

Fisherman Village dari atas: laut, kapal-kapal nelayan, dan para penjual ikan


Aktivitas di Fisherman Village. Bisa bedakan turis dan penjual ikan?

Tidak begitu lama kami di Fisherman Village. Selanjutnya adalah menuju destinasi terakhir yaitu Fairy Stream. I have no idea what Fairy Stream is. Belum sempat googling juga. Karena menjadi paket tour, jadi ya ngikut saja. Ternyata ketika di sana, kami masih harus membayar tiket masuk seharga 15.000 VND. Tiket masuk Fairy Stream tidak termasuk dalam paket tour :( untung harganya terjangkau. Dan, ketika masuk ke sana... saya menyadari bahwa, Fairy Stream adalah wisata becek-becekan di kali hahaha. Itu semcam kali dangkal yang dijadikan tempat wisata. Kita menyusuri aliran kali itu sampai ujung kemudian kembali lagi ke jalan awal. Tidak ada jalan keluar untuk keluar. Maksudnya, kalau selesai menyusuri ujung aliran, maka kita kembali lagi ke jalan yang tadi menuju pintu masuk. Hiyaa.
pintu masuk Fairy Stream

Fairy Stream sebelum ketemu tebing-tebing


Well, sebenarnya Fairy Stream tidak buruk-buruk amat. Saya jadi semacam agak amaze sama Vietnam karena begitu percaya diri menjual wisata becek-becekan di kali :D Namun yang bikin Fairy Steam jadi termaafkan adalah tebing-tebingnya yang indah. Instagrammable, you name it.



Yap begitulah rangkaian sunrise tour di Mui Ne.  Setelah selesai tour kami lanjut perjalanan menuju penginapan masing-masing. Saya menjadi orang terakhir yang diantar ke penginapan karena satu-satunya yang dari Eva Hut Mui Ne. Di tengah perjalanan, saya mencoba menyapa teman duduk saya. Saya duduk di seat tenga jeep bersama dua perempuan Korea. Yang satu seusia empat puluh atau lima puluhan entah, yang satunya seusia kira-kira dua puluhan. Saya mencoba menyapa mereka dan menguji skill bahasa Korea saya yang sangat basic. Cukup terbata-bata melafalkan bahasa Korea, maklum belajar modal drakor. Baiknya, mereka sangat menghargai saya. Jika ada yang salah saya ucapkan, langsung diberi tahu yang benar, tanpa mengejek atau menertawakan. Bahkan mereka bilang "jariyo" atau kalau tidak salah artinya bagus (nice, good).

End sunrise trip. Saya harus berpisah dengan grup tur ini. Singkat tapi bermakna. Saya juga berpisah di sini dengan Mas Adit, orang Indonesia yang saya temui dalam perjalanan ke Mui Ne. Semuanya mengucapkan thank you dan good bye. Tinggal bersiap balik ke Ho Chi Minh dan kembali menghadapi rutinitas sebagai voluntir di minggu terakhir :)



Sungkem
Keep Passionately Happy :)

You Might Also Like

0 komentar

Silakan berkomentar, terima kasih sudah menyampaikan dengan sopan :)

My Instagram

Instagram