Bagaimana Rasanya Setelah Lulus?

17.35

Agak aneh rasanya. Memang sih, tidak mudah mencapai tiga tanda tangan dosen penguji. Mulai dari menyusun seminar proposal, pengajuan judul skripsi (yang sampai ganti tiga kali), ambil data, mengolah data yang tidak sesuai hipotesis, sampai pembahasan dan kritik saran. Penyusunan skripsinya saja sudah penuh drama. Belum lagi saat sidangnya. Entahlah, rasanya seperti aneh saja bagi saya bisa sampai pada tahap ini.

Akhirnya pakai toga, setelah berbagai drama

4 Oktober 2018
Sidang skripsi. Bertepatan saya juga sedang menjadi crew BBW shift malam. Menjadi crew BBW adalah keputusan bodoh, ngawur dan nekat yang pernah saya buat. Namun saya tidak menyesalinya. Ada banyak hal berharga yang saya dapatkan dari BBW, teman salah satunya.

crew BBW cashier-packer night shift


Sambil shift malam, saya belajar untuk sidang siangnya, pukul 1. Saat itu saya merasa belum maksimal, sudah ada feeling akan sidang ulang. Entah, tapi saya hadapi saja. Pulang dari shift malam, saya sempatkan tidur sebentar. Pukul 10 pagi baru berangkat kampus. Dan benar, saya sidang ulang. Teman-teman memeluk saya, memberi dukungan. Saya paham, mereka memberi kode satu sama lain untuk tidak mempertanyakan perihal sidang ini. Saya ingat sekali bagaimana tatapan mereka, iba yang mencoba mengerti.
________________________

Bagaimana pun, semua butuh diselesaikan. Dosen memberi saya waktu dua minggu untuk revisi dan sidang ulang. Seharusnya saya memaksimalkan waktu untuk menyelesaikannya. Sayangnya, satu minggu berkutat mencari teori yang pas. Minggu berikutnya masih mengutak-atik bagaimana arah penelitian ini. Rasanya sudah ingin menyerah. Waktu dua minggu sudah lewat. Minggu berikutnya saya mencoba bertahan. Semakin tertekan karena sudah lewat tenggat, revisi masih ngambang. Belum lagi malah mendekati keberangkatan saya ke Vietnam. Mau mampus saja rasanya kala itu. Saya berpikir macam-macam, bagaimana jika nanti saya tidak lulus. Apakah saya harus mengundurkan diri, atau entahlah. Saya sudah tidak bisa berpikir jernih. Sungguh saya berterima kasih kepada teman-teman yang memberi saya dukungan untuk tetap tatak menghadapi semuanya. Meski sebenarnya ambyar.

Me, facing my thesis drama


Baca juga: Kok Bisa Voluntir ke Vietnam?

Pada akhirnya saya menyerah, bukan untuk berhenti. Saya rehat, memberi jeda untuk skripsi. Saya memilih untuk berangkat saja ke Vietnam, meninggalkan urusan skripsi. Berat sih, semacam ada yang janggal karena ada urusan yang belum selesai. Mungkin memang tidak bisa dipaksakan. Konsekuensi yang harus saya tanggung adalah, saya tidak bisa ikut wisuda periode itu. Saya harus sidang ulang dan masuk ke wisuda periode selanjutnya. Untungnya masih di semester yang sama, sehingga tidak harus bayar UKT lagi.


4 Januari 2019
Sidang ulang. Kebetulan hari itu adalah liburan akhir semester. Kampus sepi. Hanya satu teman yang hadir di dalam ruangan sidang saya, meskipun saat kelar sidang ada juga beberapa teman yang hadir sih. Saya hadapi saja sidang ulang itu. Rasa cemas masih saya rasakan. Tetapi saya sudah bodo amat. Apa yang terjadi, terjadilah.

satu-satunya teman yang masuk ke ruang sidang <3

Cuma segini yang hadir di sidang ulang. Siapa suruh sidang pas liburan :D


Beruntungnya, dosen memberikan kelulusan kepada saya. Revisi tentu saja masih ada.  Sampai-sampai teman saya bilang,

"Gila, skripsimu ini jadi perfect banget lho. Naskahku aja gak sampe segitu revisinya"

 Perfect-nya adalah hasil dari drama panjang. Bahkan terakhir kali revisi pun, dosen penguji saya masih melihat ada font yang berbeda di tabel data karena keteledoran saya. Ya, seteliti itu memang :D Saya bersyukur masih diberi tuntunan menulis yang benar. Jika tidak, masa iya saya menulis hal yang salah dan kemungkinan akan dibaca banyak orang di masa yang akan datang.

"Tuliskan apa saja kekeliruanmu dalam penelitian ini. Biar bisa jadi koreksi untuk adik kelasmu nanti. Ini juga bisa jadi amal jariyahmu lho"

Begitu kata dosen saya.  Benar juga sih. Apa yang saya tuliskan, kemungkinan akan dibaca oleh orang-orang. Jika mereka mengikuti kesesatan saya, maka berat sekali tanggung jawab yang saya pikul. Semoga saja apa yang saya tuliskan merupakan kebenaran, dan dapat menjadi pelajaran bagi siapapun.

Saya ingat betul ketika dosen memberi putusan bahwa saya lulus. Kala itu, entah mengapa di kepala saya langsung berujar "mampus, habis ini saya harus kerja". Seharusnya saya senang, bersyukur, atau setidaknya sedikit lega. Aneh. Padahal ini yang saya perjuangkan sampai stres, haha.

Hari-hari selanjutnya saya disibukkan dengan tetek bengek urusan persyaratan yudisium. Sembari saya juga mencari info lowongan pekerjaan. Saat sudah mendapat surat keterangan lulus (SKL), belum ijazah, saya mencoba nekat saja melamar kerja. Sayang sekali belum ada yang nyantol. Masa-masa menunggu wisuda, tapi urursan sudah kelar adalah masa tergamang. Saya mencari-cari ide mau melakukan kegiatan apa  setiap kali memulai hari. Akhirnya, sambil mencoba apply kerja bermodal SKL, saya juga menulis, belajar bahasa inggris lagi, membaca buku, sampai traveling meski dengan keuangan yang kere.

Saya bersyukur sekali diberi kesempatan oleh Allah untuk merasakan jadi mahasiswa. Saya rasa pengalaman menjadi mahasiswa adalah pengalaman yang prestisius. Bagaimana tidak, kami belajar sebagaimana di sekolah, namun kami harus mengatur diri sendiri. Di kampus pun bisa bertemu berbagai macam orang hebat yang dapat menjadi inspirasi sekaligus menemukan sudut pandang baru. Belajar, praktik, turun lapangan, organisasi, magang, teman, sampai diskonan dan fasilitas khusus, semua itu saya dapatkan berbekal status "mahasiswa". Kini status itu sudah lepas. Saya sudah menjadi alumni. tentu saja kenangan pahit manisnya akan tetap tersimpan. Sepertinya saya terlalu menikmati menjadi mahasiswa, sampai-sampai molor satu semester :D


whatever it takes, family is your home

Alhamdulillah, 9 Maret 2019 saya resmi dilepas oleh rektor sebagai alumni Universitas Airlangga. Entah kenapa momen salaman sama rektor cuma kena di ujung jari aja haha. Yasudahlah. Setelah wisuda, ijazah saya dalam genggaman. Mulai lagi pencarian kerja, kali ini bukan lagi bermodal SKL,  sudah ijazah. Entah sudah berapa yang saya apply. Alhamdulillah, seminggu setelah wisuda sudah diterima bekerja di sebuah yayasan yang bergerak di bidang anak berkebutuhan khusus. Saya di sana sebagai content writer. Tentu saya masih newbie di bidang ini, masih perlu belajar banyak hal. Meskipun saya (ehem, sebut saja) penulis, tapi  untuk menuliskan konten, butuh eksplorasi yang berbeda.

So, benar banget kalo ada yang bilang setiap manusia punya garis waktunya masing-masing. Tuhan tidak pernah salah menempatkan takdir. Kamu pasti pernah lihat postingan yang seperti ini kira-kira:

"Setiap orang punya garis waktunya masing-masing. Ada yang lulus di usia 22 dan baru kerja di usia 25. Ada yang baru lulus di usia 25 dan langsung dapat kerja. Ada yang tidak kuliah dan langsung bekerja..."

Kurang lebih seperti itu lah postingannya. Hidup orang macam-macam. Tuhan sudah menakar takdir mana yang tepat untuk kita. Meskipun ada sih orang yang sudah lulus cepat, langsung dapat kerja, pacarnya tampan nan setia, cantik, kaya raya, ah kok maruk sih ya. Percayalah, sekali lagi, Tuhan tidak pernah salah menempatkan takdir.


NB: terima kasih banyak untuk teman-teman yang ada dan memberi dukungan kepada saya di saat-saat titik rendah dalam hidup saya. Terima kasih juga yang telah memberikan saya uncondtional love, keluarga saya tercinta. Bahkan ketika di bandara mau masuk gate, saya sempat berbisik ke ibu "Bun, maaf ya belum bisa menyelesaikan tanggung jawab" dan ibu saya menjawab, "sudah Nak, gak papa. Fokus sama yang di Vietnam aja dulu". What a lovely mom!


Sungkem
Keep Passionately Happy :)



You Might Also Like

0 komentar

Silakan berkomentar, terima kasih sudah menyampaikan dengan sopan :)

My Instagram

Instagram