Mau Dikenang Sebagai Apa?

08.00


"Lihat yang di sana
 Mereka yang tebaring di tanah
Bukankah mereka 
Pernah hidup juga
 Kita pun kan menyusul mereka"
(Wali-Tobat Maksiat)

16 Juli 2016 di rumah duka


Sabtu, 6 April 2019 
Saya kembali melakukan perjalanan ke Malang. Lagi-lagi bukan murni untuk traveling, tapi untuk menghadiri 1000 hari adik sepupu saya. Dia adalah salah satu dari sekian sepupu yang lumayan dekat dengan saya. Bahkan, dia paham sejarah permantanan saya hehe. Saya menyimpan trust yang begitu besar padanya. Dia memang anak perempuan yang baik dan manis. Sebenarnya dia adalah tipikal anak yang alim, kalo boleh saya bilang. Dalam artian, dia rajin ibadah dan sangat baik perilakunya. Dia juga anti pacaran, karena baginya pacaran adalah maksiat. Namun, keantiannya pada pacaran tidak lantas menghakimi saya yang pernah pacaran dan Islamnya yang masih kacangan. Dia menjadi pendengar yang baik ketika saya curhat seputar cowok yang sekarang bukan siapa-siapa saya lagi, termasuk ketika saya falling in love with the one i can't have :")

mungkin ini adalah foto terakhir saya dengannya :")

Perjalanan ini saya buat santai. Acara 1000 harinya dimulai pukul 7 malam. Setidaknya sore saya harus sudah sampai. Karena sempat hujan agak lama, saya benar-benar sampainya sore di rumah sepupu. Sore itu terlihat sekali persiapan untuk acara 1000 hari. Makanan yang disiapkan, karpet digelar. Selepas isya tamu-tamu mulai berdatangan. Di antara tamu-tamu keluarga dan tetangga sekitar, ada remaja-remaja cantik khas Malang. Mereka adalah teman-teman adik sepupu. Mereka diundang oleh tante saya untuk menghadiri acara ini.


1000 hari, jika dihitung kurang lebih 3 tahun. 3 tahun dan masih menyempatkan hadir, di tengah sibuknya persiapan mau masuk kuliah, untuk mengirimkan doa kepada temannya yang sudah meninggal. Saya rasa ini tidak biasa. Hanya teman yang super baik dan punya kesan mendalam lah yang bisa menggerakkan hati seseorang untuk menghadiri acara 1000 harinya. Teman-temannya berkumpul, mendoakan, dan seperti reuni saja. Kalau misal adikku masih hidup, mungkin dia akan senang sekali rumahnya dihadiri oleh teman-temannya. Sayang sekali, teman-temannya hadir tapi dia tidak bersama. Mungkin dia sedang tersenyum di sana.

Saya jadi berpikir, nanti jika saya sudah meninggal, masihkah ada yang rela mendoakan? Adikku yang manis ini, dia sudah selesai urusannya dengan dunia. Dia dikenang sebagai anak yang menyejukkan hati, adik yang manis, teman yang baik, dan entah sebutan apa lagi. Semua orang mengenang kebaikannya. Semua orang pun bersaksi atas perilaku baiknya, dalam vertikal (hablum minallah) maupun horizontal (hablum minannas). Saya pun berpikir, akan dikenang sebagai apa kah saya nanti jika telah meninggalkan dunia ini? Memang saya tidak lah baik, sama sekali. Entah itu hubungan vertikal maupun horizontal rasanya masih penuh lubang.

Mungkin daripada terus-terusnya bertanya bagaimana nanti, ada baiknya saya berupaya memperbaiki diri. Ya, meskipun tidak akan menemukan titik sempurna sebagai orang yang benar-benar baik. Pun iman seseorang naik turun. Semoga saja kita memiliki akhir yang baik, husnul khotimah :)


Sungkem
Keep Passionately Happy





You Might Also Like

0 komentar

Silakan berkomentar, terima kasih sudah menyampaikan dengan sopan :)

My Instagram

Instagram