Trip Jogja: Konspirasi Rasa Tanpa Rencana

23.47

Mendengar kata Jogja, apa yang ada di benakmu? Istimewa? Ya saya setuju. Meski sebelumnya saya sempat jenuh dengan Jogja, pada akhirnya saya kembali padanya atas nama rindu. Oke, tolong jangan muak dulu dengan serbuan kata-kata "rindu", "Jogja", "rasa", karena diksi-diksi itu yang mewarnai perjalanan saya di kota kenangan ini. 

Sebelumnya, di tahun 2017, saya sempat mengalami overdosis Jogja. Ada waktu di mana dalam jarak yang berdekatan, saya mengunjungi Jogja lebih dari sekali. Itu membuat saya sedikit jengah atau muak dengan Jejogjaan. Sampai akhirnya, saya memutuskan, butuh jeda dari Jogja. Mengabaikan segala hal tentang Jogja. Mungkin ada waktu tersendiri untuk mengunjungi Jogja kembali nanti, jika memang sudah waktu yang tepat.




Februari 2019. Saya mengalami titik jenuh. Muak, kecamuk, amarah, rindu, segalanya menjadi satu. Perpaduan antara perjuangan mengelarkan tuntutan skripsi hingga tetek bengek urusan wisuda, persiapan pernikahan kakak saya hingga hari h, dan perjuangan mencari kerja. Hal-hal tersebut bergumul dalam diri saya, hingga mau meledak rasanya. Akhirnya saya memutuskan untuk traveling, seperti biasa dilakukan dengan solo alias sendiri. Saya butuh melepaskan segala rasa. Saya berpikir kota mana yang akan saya kunjungi. Sempat terlintas Bandung, Semarang, atau Lampung. Entah, akhirnya saya memilih Jogja. Kota yang cukup familiar. Mungkin, ini sudah waktunya saya kembali pada Jogja. Setelah satu tahun saya memilih untuk jeda karena overdosis sebelumnya.

Malam itu, setelah selesai dari janji bertemu seorang teman, saya segera memesan tiket kereta secara online. Berkemas malam itu juga. Tidak banyak yang saya bawa, secukupnya saja. Tidak ada susunan rencana, mengalir saja. Saya sudah tidak peduli apa pun. Esok paginya pun, berangkat ke stasiun. Baru izin orangtua ketika sudah di kereta :D Bersyukur, orangtua saya sangat demokratis dan pengertian. Tentu saja saya diizinkan. Saya sudah mendapat kepercayaan penuh untuk melanggeng ke mana saja. Kepercayaan itu yang harus saya jaga. Mahal harganya.

Menunggu keberangkatan kereta menuju Jogja ditemani Gendisnya Sapardi DD

Stasiun Lempuyangan (20-2-2019).
Sore, hampir pukul lima. Saya sampai di Jogja. Tidak banyak yang saya lakukan di hari pertama. Hanya menuju penginapan di Omah Stasiun.

Omah Stasiun.
Saya mengira di tempat ini ada musala, ternyata tidak. Dalam perjalanan ini saya tidak membawa mukena. Itu karena 2 alasan: mukena yang biasa saya bawa untuk traveling hilang entah ketlisut atau apa. Alasan kedua, saya ingin membuktikan bahwa jalan menuju Allah pasti akan dipermudah (sebut saja saya sok iye). Ini juga termasuk salah satu alasan saya traveling. Galau masalah keimanan. Ya maklum sih iman naik turun. Makanya saya jadi challange traveling tanpa bawa mukena, untung di Indonesia  :D
Omah Stasiun from booking.com


Saya pun mencari masjid sesuai peta. Ternyata lagi-lagi, saya tidak terbantu oleh gmaps. Dengan insting, saya menemukan masjid kampung dekat penginapan. Benar-benar khas masjid kampung, tempat wudunya dari sumur timba yang dialirkan menuju keran. Ternyata di masjid itu pun tidak ada mukena.  Untungnya saya (merasa) sudah menutup aurat secara proper untuk salat. Akhirnya salat tanpa mukena haha.

Kelar salat, saya mencari tempat makan. Lagi-lagi bertanya pada google tempat makan terdekat. Sayangnya, karena malas nyasar, akhirnya jalan pakai insting (lagi) dan menemukan warung bakmi pinggir jalan. Lucky me, rasanya enak, kaldunya nendang dan ladanya mantap. Usai makan, saya memilih kembali ke Omah Stasiun. Capek. Tidur.

bakmi pinggir jalan

21-2-2019
Pagi. Masih ada waktu beberapa jam sebelum check out dari Omah Stasiun. Saya memutuskan sarapan di Gudeg Yu Djum, cabang Dagen, yang dekat Malioboro. Ini kedua kalinya saya mencoba gudeg. Kelar sarapan, saya jalan-jalan sekitar Malioboro. Di depan benteng Vredeburg, rasanya kok ingin masuk. Akhirnya saya main kesana. Tiket masuk untuk dewasa seharga 3000 rupiah saja. Saya mengeksplor setiap diorama dan berakhir di perpustakaannya. Entah mengapa, ada ketenangan yang kepuasan batin yang sama ketika saya mengunjungi masjid, museum, dan perpustakaan/toko buku, pantai juga. Seperti jiwa saya menyatu dengan tempat-tempat itu. Atau jangan-jangan, tempat-tempat itu adalah rumah ibadah bagi saya. Terlepas, di mana pun tempatnya, adalah ladang untuk beribadah kepada Tuhan. Entah kurang eksis atau bagaimana, di perpustakaan Vredeburg ini, cuma saya yang mengunjungi. Saya seperti memasuki sebuah labirin dan tersesat di dalamnya. Seandaiya tidak terburu oleh waktu check out, mungkin saya ingin berlama-lama di perpustakaan Vredeburg.

Gudeg Yu Djum

tiket masuk Museum Benteng Vredeburg

Waktu yang terbatas. Saya tidak sempat menghabiskan buku yang saya baca di perpus itu. Segera saya menuju Omah Stasiun untuk check out. Dari sini, saya ganti penginapan di Edu Hostel. Sayangnya tidak bisa langsung check in (pukul 3 sore start check in),  jadi saya titip barang saja dan lanjut jalan-jalan.

lobi Edu Hostel from booking.com


Sore itu hujan. Maklum, Februari masih masuk penghujan. Namun entah, saya tetap lanjut ke taman sari. Sampai di taman sari sekitar pukul setengah 4. Itu pun gerbang masuk dan loket tiket sudah ditutup. Ah, saya kesorean ke taman sari. Saya kecewa, tapi masih jalan aja di sekitar taman sari. Saya masuk ke perkampungan di sekitar sana. Setelah masuk hingga beberapa meter, saya bertemu dengan rombongan sekeluarga (bapak, ibu, serta seorang anak laki-laki yang sepertinya umurnya tidak jauh berbeda dengan saya) dan seorang guide. Tiba-tiba bapak guide berkata pada saya, "mbak, ayo cepetan" dengan nada mengajak. Saya reflek menuju ke rombongan tersebut. Ternyata mereka menuju ke taman sari. Waw, menuju taman sari lewat pintu belakang dan bersama guide pula :D

jalanan kampung sekitar taman sari

Nah, masih ingatkah tujuan awal saya ke Jogja? Yap, melepas segala macam rasa. Puncaknya di sini, taman sari. Bapak guide itu mengaku bisa "membaca" saya. Terlepas dari benar atau tidaknya, beliau mengatakan banyak hal dan saya lebih banyak mendengarkan. Saya tidak menyela, membiarkan dia berucap. Memang ada hal yang benar mengenai apa yang diucapkan. Hingga sampai dia bilang pada saya "Mbak, kamu ini masih punya luka di dalam. Udah lama, kira-kira tiga tahun yang lalu". Seketika saya menjadi lebih seksama menyimak bapaknya.

"Mbak pulang dari sini harus ngomong ya sama pacarnya, ceritain, kalo perlu sampe nangis biar lega"
"E.. tapi saya gak punya pacar Pak"
"Ya sama siapa kek sahabat atau teman dekat"

Sore itu semakin galau lah saya. Bapak ini mengapa berbicara tentang sesuatu yang langsung menusuk ulu hati haha. Selepas dari taman sari, ketika saya hendak pamit, bapak guide tidak mau menerima fee dari saya. Saya sudah paksa beliau menerima karena saya merasa diberikan waktu untuk berbicara. Ah yasudah, sepertinya saya memang harus memberikan kesempatan orang lain untuk berbuat baik :D Dalam perjalanan beranjak dari taman sari, di sepanjang jalan, saya menangis. Urusan luka ini memang berat. Akhirnya saya menenangkan diri dan menghapus air mata. Perjalanan saya lanjutkan ke Alkid sesuai saran bapak guide. Cukup berjalan dari taman sari, lumayan dekat.

fail take
Begitulah Jogja yang berhasil mengacak-acak perasaan saya. Jogja memang gitu, suka nyentuh di hati. Pusat segala rindu, kecamuk, amarah, bahagia, dan segala rasa. Saya cukupkan ceritanya di sini saja :)


Sungkem
Keep Passionately Happy :)

You Might Also Like

6 komentar

  1. jogja mah enak dkikunjungi apalagi kulinernya

    BalasHapus
  2. Gak pernah bosen akutuu ke yogya,selalu ada tempat yang pingin aku kunjungin.

    Nitip link ya..kali mau baca lengalaman travelling kujuga

    https://anisuuss.blogspot.com/?m=1

    BalasHapus
  3. Tiket masuk benteng masih murce aja ya..
    Solo travelling itu seru. Apalagi kalo ke jogya gak makan gudeg itu gak lengkap wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha iya murah banget.. Yup solo traveling ada tantangannya sendiri hehe

      Hapus

Silakan berkomentar, terima kasih sudah menyampaikan dengan sopan :)

My Instagram

Instagram